TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Staf Khusus Menteri Pekerjaan Umum (PU) Jemmy Setiawan mengatakan mempertahankan kemerdekaan Indonesia tidak hanya dilakukan melalui perjuangan di medan perang.
Menurutnya, menjaga aset, infrastruktur, dan kelembagaan negara juga menjadi bagian penting dalam memastikan kedaulatan Indonesia terus terpelihara.
Menurut Jemmy, semangat perjuangan para pendahulu harus diteruskan melalui pembangunan infrastruktur yang membuat kehadiran negara dapat dirasakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
"Pesan pahlawan Sapta Taruna sangat jelas, mempertahankan kemerdekaan tidak hanya di medan perang, tetapi juga menjaga aset, infrastruktur, dan kelembagaan negara," kata ujar Jemmy dalam keterangannya, Senin (17/8/2026).
Ia mencontohkan perjuangan 21 pegawai PU yang mempertahankan Gedung Sate di Bandung dari gempuran pasukan Sekutu dan NICA pada 3 Desember 1945.
Tujuh di antaranya gugur dan kemudian dikenang sebagai pahlawan Sapta Taruna.
Peristiwa tersebut menjadi salah satu tonggak sejarah pengabdian insan PU sekaligus diperingati sebagai Hari Bakti PU setiap 3 Desember.
"Jika pada 1945 insan PU mempertahankan gedung negara, maka di tahun 2026 ini pengabdian itu diteruskan dengan membangun infrastruktur agar kehadiran negara dirasakan seluruh rakyat," ujarnya.
Jemmy menegaskan, kemerdekaan harus diwujudkan dalam bentuk manfaat nyata bagi masyarakat.
Infrastruktur tidak sekadar berupa bangunan fisik, tetapi menjadi instrumen untuk memastikan kebutuhan dasar dan akses ekonomi warga terpenuhi.
"Kemerdekaan harus hadir dalam air yang mengalir ke sawah-sawah petani, jalan yang menghubungkan desa dengan pusat pasar, jembatan yang mengantar anak-anak pergi ke sekolah, hingga permukiman yang memiliki akses air minum serta sanitasi layak," tegasnya.
Baca juga: Gerak Cepat, Menteri PU Menuju NTT Bawa 50 Ribu Paket Sembako Presiden Prabowo
Dalam perkembangannya, peran Kementerian PU berkembang menjadi salah satu motor pembangunan nasional.
Sejumlah proyek strategis seperti Bendungan Jatiluhur, Jembatan Semanggi, hingga Jalan Tol Jagorawi menjadi bagian dari perjalanan pembangunan infrastruktur Indonesia.
Di era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, pembangunan infrastruktur ditempatkan sebagai salah satu pengungkit program Asta Cita, khususnya untuk mendukung swasembada pangan, energi, dan air.
Menteri PU Dody Hanggodo menekankan, pembangunan fisik bukan tujuan akhir. Infrastruktur harus mampu meningkatkan produktivitas masyarakat sekaligus mengurangi kesenjangan ekonomi.
Sepanjang 2025, Kementerian PU mencatat pembangunan sekitar 13 ribu hektare jaringan irigasi baru dan rehabilitasi 123 ribu hektare jaringan irigasi eksisting.
Jika termasuk penanganan irigasi daerah, intervensi pemerintah telah menjangkau lebih dari 589 ribu hektare lahan pertanian.
"Air yang mengalir tepat waktu memberi jaminan kepastian musim tanam bagi para petani. Dari situlah produktivitas naik dan infrastruktur berubah fungsi menjadi fondasi utama kedaulatan pangan nasional," jelasnya.
Selain sektor pengairan dan konektivitas melalui Program Instruksi Presiden (Inpres) Jalan Daerah (IJD), Kementerian PU juga mengarahkan pembangunan pada prasarana sosial.
Sepanjang 2025, ratusan sekolah keagamaan dan madrasah direhabilitasi. Lebih dari 160 Sekolah Rakyat rintisan juga telah diselesaikan. (*)