Ini Alasannya Mengapa Orang Tua Juga Perlu Baca Buku Anak
Whiesa Daniswara August 18, 2026 05:19 AM

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Ketika berbicara soal kebiasaan membaca anak, perhatian orang tua biasanya tertuju pada satu hal, bagaimana membuat anak mau membuka buku.

Namun, ada persoalan yang sering luput. Bagaimana jika orang tuanya sendiri tidak membaca?

Sebab, menurut sastrawan dan kurator senior Bentara Budaya, GP Sindhunata, kebiasaan membaca anak tidak bisa dilepaskan dari lingkungan keluarga.

Hal tersebut disampaikan dalam diskusi Sastra Anak dan Dwianto Setyawan dalam rangkaian penganugerahan Hadiah Sastra Anak Dwianto Setyawan di Balai Sastra PDS HB Jassin, Jakarta.

Anak Belajar Membaca dari Kebiasaan di Rumah

Menurut Sindhunata, sastra anak sebenarnya tidak hanya ditujukan kepada anak.

Orang tua juga memiliki posisi penting karena merekalah yang membacakan, memilihkan, atau mengenalkan buku kepada anak.

Karena itu, kebiasaan membaca tidak cukup dibangun dengan meminta anak membaca sendiri.

Orang tua dapat hadir dalam proses tersebut, termasuk dengan membacakan cerita dan mengajak anak berbicara mengenai isi buku.

Dengan cara tersebut, buku tidak hanya menjadi benda yang dibaca, tetapi juga menjadi ruang interaksi antara orang tua dan anak.

Baca juga: Anak Terlalu Sibuk dengan AI, Imajinasi Bisa Terancam? Ini Kekhawatiran Sastrawan

Buku Anak Bisa Membantu Orang Tua Memahami Dunia Anak

Menariknya, membaca sastra anak juga dinilai dapat memberikan manfaat bagi orang dewasa.

Sindhunata mengatakan, cerita anak dapat membawa orang dewasa kembali kepada dunia imajinasi yang lebih bebas.

Hal tersebut menjadi penting karena kehidupan orang dewasa kerap membuat cara berpikir menjadi lebih terbatas.

Dengan membaca cerita anak, orang tua juga dapat melihat bagaimana anak memandang dunia.

Terlebih, cerita anak dapat membawa nilai tertentu tanpa harus disampaikan dalam bentuk nasihat panjang.

Nilai seperti kejujuran dan tolong-menolong dapat hadir melalui alur cerita dan pengalaman tokoh.

Jangan Pilih Buku Anak Hanya karena Sampulnya Menarik

Bagi orang tua, persoalan lainnya adalah memilih bacaan yang tepat untuk anak.

Dalam diskusi tersebut, Elfira Prabandari menyoroti bagaimana posisi orang dewasa dalam sastra anak perlu diperhatikan.

Menurutnya, buku anak ditulis, diterbitkan, dan sering kali dibacakan oleh orang dewasa.

Karena itu, cara orang dewasa melihat anak dalam sebuah cerita menjadi penting.

Ia mencontohkan karya Dwianto Setyawan melalui tokoh Sersan Brumbum.

Dalam cerita tersebut, anak-anak tidak ditempatkan sebagai sosok yang harus selalu mengikuti cara berpikir orang dewasa.

Justru, suara dan pandangan anak mendapatkan ruang.

Membaca Bersama Bisa Menjadi Cara Menjaga Kedekatan

Di tengah kesibukan keluarga, membaca cerita anak bersama dapat menjadi salah satu bentuk interaksi yang sederhana.

Orang tua tidak hanya meminta anak membaca, tetapi ikut hadir dalam dunia yang sedang dibangun melalui cerita.

Buku pun dapat menjadi jembatan untuk membicarakan berbagai hal yang mungkin sulit disampaikan secara langsung.

Karena itu, persoalan literasi anak tidak semata-mata tentang berapa banyak buku yang selesai dibaca.

Sebab, ketika anak melihat orang dewasa di sekitarnya juga memberi tempat bagi buku dan cerita, aktivitas membaca tidak lagi terasa seperti kewajiban sekolah.

Ia dapat tumbuh menjadi kebiasaan keluarga. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.