"Dang, Ding, Dung, Gong ..." Bunyi gamelan terdengar berulang dari sebuah ruang di Desa Timpik, Kecamatan Susukan, Kabupaten Semarang. Kami, para mahasiswa Universitas Negeri Semarng yang tengah KKN di sana duduk mengelilingi seperangkat gamelan. Dengan hati-hati kami memukul perangkat gamelan mengikuti arahan Pak Djimin (Sudjimin), 75 tahun.
Tentu tak langsung kompak. Ada saja yang terlambat atau justru terlalu cepat memukul. "Stop, stop, stop mukulnya harus selaras, harmonis. Gunakan perasaan kalian," Pak Djimin segera mengoreksi.
Setelah memberikan koreksi, ia lalu memberi aba aba agar kami kembali memainkan gendhing laras pelog sesuai "angka notasi" dipapan tulis. "Ji, ro, lu..." Lalu suara bonang, saron, kendang, hingga gong berbunyi mengikuti irama yang diarahkannya.
Biasanya setiap Selasa malam, yang berlatih adalah para lansia yang sheari-hari menjadi petani di dusun tersebut. Jumlahnya 18-20 orang yang tergabung ke dalam kelompok "Wreda Laras". Namun kemarin malam giliran kami yang kepincut untuk mencoba. Pak Djimin menyambut kami dengan suka cita. Kami sudah dianggap cucu-cucunya. Selama lebih dari satu jam Pak Djimin dengan telaten memperkenalkan gamelan dan melatih.
"Jujur aku tegang banget, takut salah saat memukul atau menentukan ketukan," kata Bintang Seva Aneka, mahasiswi Sastra Jepang Angkatan 2023.
Ternyata memainkan gamelan tak hanya butuh kemampuan dalam memainkan alat musik, lanjut Bintang, tetapi juga memerlukan sinergi, konsentrasi, dan kekompakan antarpemain agar menghasilkan irama yang harmonis.
Setiap ketukan memiliki peran dan keterkaitan satu sama lain, sehingga diperlukan kerja sama dan kepekaan untuk dapat memainkannya dengan baik.
Nindya Afifah S. mengakui hal senada. Belajar karawitan, kata dia, memberikan pengalaman yang sangat berkesan dan menyenangkan. "Kami jadi mengenal lebih dekat salah satu bentuk kesenian dan kebudayaan Jawa yang masih dilestarikan oleh Masyarakat," ujar Mahasiswi Pendidikan Kesejahteraan Keluarga itu
Melalui kegiatan ini, ia dan Bintang berharap Kelompok Karawitan Wreda Laras dapat terus berkembang dan semakin dikenal oleh masyarakat luas. Mereka juga berharap agar generasi muda, khususnya anak-anak muda di Dusun Bogo, punya ketertarikan untuk mengenal, mempelajari, dan meneruskan kesenian karawitan sehingga kebudayaan ini tetap hidup dan dapat diwariskan kepada generasi-generasi berikutnya.
Pak Djimin mengaku sudah tertarik bermain gamelan sejak SD Kelas 6. Ia sudah mulai "nuntuk-nuntuk" gamelan menggunakan arit sambil membayangkan seolah-olah sedang bermain gamelan. Beranjak remaja, ia membeli buku tentang notasi gamelan hingga nembang. Ia juga menabung sisa uang jajan untuk membeli kaset karawitan.
"Karena dulu belum secanggih sekarang yang sudah ada youtube, ya saya belajar sendiri (otodidak). Saya kulik dan dengarkan syairnya bagaimana, notasinya bagaimana, seperti itu," paparnya.
Dengan pengalaman, pengetahuan, dan keterampilan yang dimilikinya Pak Djimin pernah menjadi pelatih kesenian Jawa (macapat atau tembang jawa untuk anak SD), dan karawitan sampai tingkat provinsi. Tak heran bila rekan rekannya sesama lansia kemudian mendaulatnya menjadi guru untuk melatih mereka.
---





