Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Perubahan pola konsumsi mulai berdampak pada kesehatan gigi anak-anak di Kasepuhan Ciptagelar, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Sejumlah anak bahkan mengalami karies berat pada usia dini, sementara akses terhadap layanan dokter gigi di wilayah tersebut masih terbatas.
Temuan itu terekam dalam film dokumenter produksi Anatman Pictures “Negeri Susah Senyum”, yang mengikuti perjalanan sejumlah dokter gigi saat melakukan riset sekaligus memberikan pelayanan kesehatan dasar kepada masyarakat Kasepuhan Ciptagelar.
Dokter gigi yang terlibat dalam kegiatan tersebut, drg. Ahmad Syahrul Mubarok dari FDC Dental Clinic, menemukan kondisi yang cukup kontras antara generasi sepuh dan anak-anak di Kasepuhan Ciptagelar.
Baca juga: Ratusan Santri Pesantren Mathlaul Huda Jalani Edukasi Kesehatan Gigi dan Mulut di Bulan Puasa
Menurut Ahmad, generasi sepuh umumnya memiliki kondisi gigi yang lebih kuat.
“Generasi sepuh di Ciptagelar memiliki gigi yang jauh lebih kuat karena asupan makanan yang natural dan rendah gula. Keluhan utama mereka rata-rata hanyalah atrisi atau keausan gigi akibat konsumsi makanan bertekstur keras,” tutur Ahmad saat peluncuran film Negeri Susah Senyum di FDC Dental Clinic, Jalan Kebon Kawung, Kota Bandung, Senin, (17/8/2026)
Kondisi berbeda justru ditemukan pada anak-anak. Ahmad mengatakan, sejumlah anak di Kasepuhan Ciptagelar telah mengalami persoalan karies yang cukup berat.
Bahkan, pada usia sekitar tujuh tahun, gigi susu sebagian anak sudah mengalami kerusakan akibat karies rampan.
Perubahan pola konsumsi menjadi salah satu persoalan yang mulai terlihat. Makanan dan minuman modern dengan kandungan gula tinggi serta makanan olahan semakin mudah ditemukan dan perlahan masuk ke lingkungan kasepuhan.
Pola tersebut berbeda dengan kebiasaan masyarakat generasi sebelumnya yang lebih banyak mengonsumsi bahan pangan alami dengan kandungan gula yang relatif rendah.
Masalah kesehatan gigi di Kasepuhan Ciptagelar tidak berhenti pada perubahan pola konsumsi. Keterbatasan akses terhadap tenaga medis dan fasilitas kesehatan membuat persoalan yang seharusnya dapat ditangani lebih dini berpotensi menjadi masalah yang lebih serius.
Ketiadaan dokter gigi di wilayah tersebut membuat masyarakat harus menempuh perjalanan menuju fasilitas kesehatan yang lebih lengkap di kawasan Pelabuhanratu.
Perjalanan darat dapat memakan waktu sekitar empat jam, dengan kondisi akses jalan yang tidak selalu mudah.
“Bagi seseorang yang tengah mengalami sakit gigi, jarak tersebut bukan sekadar persoalan geografis. Rasa sakit, biaya perjalanan, waktu tempuh, serta keterbatasan pilihan layanan dapat membuat masyarakat memilih menunda pengobatan,” ucapnya.
Baca juga: Debut Layar Lebar Reza Arap Lewat Film Harusnya Horror Padukan Komedi Absurd Dan Satire Konten Viral
Dalam kondisi seperti itu, mitos dan pengobatan alternatif pun lebih mudah berkembang. Di sisi lain, stigma terhadap dokter gigi juga masih menjadi penghalang.
“Stigma bahwa ke dokter gigi menakutkan, lama dan mahal, juga masih sangat melekat. Oleh karena itu, pendekatan kami sangat personal dengan memberikan edukasi dasar serta penanganan darurat, seperti penambalan dan pencabutan gigi,” ujar Ahmad.
Menurut dia, karies masih menjadi salah satu persoalan kesehatan gigi yang dominan di Indonesia. Ia menyebut sekitar 80 persen masyarakat mengalami karies, sementara pemerintah menargetkan Indonesia dapat bebas karies pada 2035.
Pesan mengenai ketimpangan akses kesehatan gigi tersebut kemudian dibawa ke ruang yang lebih luas melalui pemutaran film Negeri Susah Senyum.
Pada pemutaran perdana di Bandung, sejumlah finalis Mojang Jajaka Jawa Barat 2026 turut diajak menyaksikan film sekaligus berdiskusi mengenai persoalan yang diangkat.
Mereka tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga diajak memahami secara lebih dekat kondisi masyarakat yang masih menghadapi keterbatasan akses layanan kesehatan dasar.
Salah satu finalis asal Kabupaten Sukabumi, Djemima Shireen Ferdinand, mengaku persoalan yang ditampilkan dalam film terasa dekat dengan kehidupan masyarakat di daerah asalnya.
Sebagai putri daerah yang tumbuh di kawasan pesisir Sukabumi, Djemima mengatakan kondisi dalam film bukan sesuatu yang sepenuhnya asing baginya. Meski lokasi pengambilan gambar berada di Kasepuhan Ciptagelar, ia melihat persoalan mengenai jarak, keterbatasan edukasi, dan akses terhadap layanan kesehatan juga masih menjadi realitas di sejumlah wilayah Sukabumi.
“Film ini memperlihatkan kondisi secara nyata dan menjadi pengingat bahwa persoalan kesehatan gigi tidak bisa hanya dibebankan kepada tenaga medis.Generasi muda juga memiliki peran untuk ikut menyebarkan edukasi dan mendorong kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut,” ucap Djemima.
Founder dan CEO FDC Dental Clinic, drg. Ita Lestari, mengatakan pemutaran Negeri Susah Senyum menjadi bagian dari upaya FDC memperluas dampak sosialnya melalui kolaborasi lintas bidang.
Menurut Ita, FDC tidak ingin pertumbuhan perusahaan hanya diukur dari perkembangan bisnis dan layanan kesehatan, tetapi juga dari seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada masyarakat.
“Tujuannya adalah memperkenalkan bahwa FDC berkolaborasi dengan banyak pihak, salah satunya dengan finalis Mojang Jajaka. Hari ini FDC bukan hanya memikirkan bagaimana FDC tumbuh dan berkembang, tetapi bagaimana FDC bisa berkolaborasi dengan banyak pihak dan memberikan impact,” kata Ita.
Ia mengatakan kolaborasi tersebut juga tidak terbatas pada sektor kesehatan. Keterlibatan para finalis Mojang Jajaka menjadi salah satu cara FDC memperluas perhatian pada isu pariwisata, kebudayaan, serta berbagai persoalan sosial di masyarakat.
Sementara melalui film Negeri Susah Senyum, FDC ingin menunjukkan bahwa ketimpangan layanan kesehatan gigi masih menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian.
“Di film ini dijelaskan bahwa ternyata akses kesehatan gigi itu tidak merata dan sulit dijangkau. Kenapa hari ini terjadi? Karena stigma masyarakat bahwa ke dokter gigi itu mahal, menakutkan, dan lama. Di daerah-daerah yang sulit, ada juga faktor geografis, bahkan untuk ke dokter gigi harus dua sampai empat jam,” ujar Ita.
Kondisi tersebut, kata Ita, menjadi salah satu alasan FDC terus mendorong pengembangan layanan hingga ke berbagai daerah di Indonesia.
FDC, lanjut dia, ingin menghadirkan layanan yang membuat masyarakat memiliki pengalaman berbeda ketika datang ke dokter gigi, dari yang sebelumnya takut menjadi lebih nyaman, dari yang dianggap lama menjadi lebih cepat, serta dari yang dinilai mahal menjadi lebih terjangkau.
“Ini menjadi dasar untuk FDC terus berkembang ke daerah-daerah dari Sabang sampai Merauke agar standarisasi dan pelayanan kesehatan gigi semakin mudah dijangkau masyarakat,” katanya.
Ita menambahkan, kegiatan pemutaran film dokumenter ini merupakan pengalaman pertama FDC. Namun, berbagai kegiatan sosial, bakti sosial, dan kolaborasi dengan lembaga lain sebelumnya telah dilakukan.
Untuk Negeri Susah Senyum, FDC berencana menggiatkan pemutaran film tersebut agar pesan sosialnya dapat menjangkau lebih banyak masyarakat.