TRIBUNPEKANBARU.COM, PELALAWAN - Kabut tipis kembali menyelimuti angkasa Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan hari ini, Selasa (18/8/2026). Terpantau sejak pagi dan masih bertahan menjelang siang hari.
Kabut tersebut diduga berasal dari asap bencana kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang melanda Pelalawan dan beberapa daerah di Provinsi Riau.
Kondisi ini tentu memengaruhi kualitas udara di Kota Pangkalan Kerinci dan sekitarnya yang akan berdampak pada kesehatan masyarakat.
Menurut Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pelalawan, Eko Novitra, alat pengukur Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) menunjukkan beberapa indikator terhadap kualitas udara saat ini.
Pihaknya tidak ingin gegabah menyimpulkan bahwa udara di Pangkalan Kerinci dalam kategori tidak sehat.
"Pada papan ISPU kita, ada tujuh parameter terkait kualitas udara. Jika hanya satu saja yang tinggi, belum bisa dikatakan tidak sehat," ungkap Eko Novitra kepada tribunpekanbaru.com, Selasa (18/8/2026).
Eko Novitra merinci parameter P10 berada pada level 69, masuk dalam kategori sedang dengan indikator warna biru.
Baca juga: Disebut Prabowo sebagai Pengupas Bawang Bergaji Rp 700 Ribu Per Kilo, Susanah Belum Pulang ke Rumah
Baca juga: Kabut Asap dan Bau Asap Menyengat Sejak Pagi di Pekanbaru, Orangtua Pilih Liburkan Anak Sekolah
Kemudian, parameter P2.5 di angka 104 masuk kategori tidak sehat dan berindikator warna kuning.
Kemudian SO2 pada level 30 masuk kategori baik dengan indikator warna hijau. O3 di level 5 kategori baik dan indikator warna hijau. Sedangkan NO2 di angka 32 berkategori baik dengan indikator hijau.
Sedangkan parameter CO dan HC tidak terdeteksi lantaran alatnya sedang rusak.
"Kalau lima parameter itu pada level tidak sehat di warna kuning, baru bisa kita simpulkan kualitas udara kita tak sehat. Ini baru satu indikator saja. Artinya masih tetap normal," tandas Eko Novitra.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pelalawan, Zulfan, M.Si., menyampaikan bahwa kabut yang muncul di Pangkalan Kerinci bukanlah asap dari karhutla. Melainkan kabut hasil penguapan secara alami.
"Di Kecamatan Kerumutan memang ada kabut juga, Itu bisa jadi kabut asap karena dekat dengan titik Karhutla. Yang di Pangkalan Kerinci, bukan kabut asap," sebut Zulfan.
Hal itu berdasarkan konfirmasi BPBD Pelalawan kepada Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kota Pekanbaru.
Selain itu, asap Karhutla yang dihasilkan oleh titik api di Kelurahan Kerumutan sangat tidak mungkin sampai ke Pangkalan Kerinci, mengingat jaraknya yang cukup jauh.
"Di Kerumutan ada sekolah yang meminta diliburkan karena kabut asap. Kami belum bisa menyimpulkan dan menunggu keterangan resmi dari para pihak lainnya," tandas Zulfan. (Tribunpekanbaru.com/Johannes Wowor Tanjung)