BANGKAPOS.COM - Aksi berani dilakukan Syaifullah (53) saat upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, Senin (17/8/2026).
Di tengah berlangsungnya upacara, tali bendera Merah Putih tiba-tiba terputus. Situasi yang sebelumnya berlangsung tertib pun mendadak diwarnai kepanikan.
Melihat kondisi tersebut, Syaifullah secara spontan mengambil tindakan.
Ia melepas sepatunya lalu memanjat tiang bendera setinggi kurang lebih 8 meter untuk mengambil tali yang terputus.
Tanpa menggunakan perlengkapan pengaman, ia terus naik hingga mendekati ujung tiang.
Keberanian itu dilakukan setelah melihat petugas pengibar bendera kebingungan menghadapi kendala tersebut. Syaifullah mengatakan dirinya hanya ingin memastikan Merah Putih tetap bisa dikibarkan.
Baca juga: Kisah Celine Olivia Theo, Anak Cleaning Service jadi Pembawa Baki HUT ke-81 RI di Istana
Meski demikian, ia sempat merasa takut ketika berada di ketinggian dan merasakan tiang bergerak.
Namun, rasa khawatir tersebut tidak membuatnya mengurungkan niat. Fokusnya hanya satu, yakni membantu agar bendera dapat kembali dikibarkan.
Syaifullah mengaku tidak merencanakan aksinya. Ia langsung memanjat setelah mengetahui tali bendera mengalami putus.
Saat itu, suasana di lokasi mulai tegang. Sejumlah peserta upacara, pejabat kecamatan, anggota TNI dan Polri, serta petugas pengibar bendera terlihat menghadapi situasi tersebut.
"Secara spontan saya naik. Yang penting bendera merah putih bisa berkibar," ucapnya, dikutip dari Kompas.com.
Sebelum memanjat, Syaifullah melepas sepatu. Ia kemudian menaiki tiang bendera yang memiliki ketinggian sekitar 8 meter.
Tidak ada persiapan khusus yang dilakukan sebelum aksi tersebut. Syaifullah juga tidak menggunakan alat keselamatan. Saat itu, ia mengenakan seragam Korpri, celana hitam, dan kopiah.
Ia bahkan mengaku sudah cukup lama tidak melakukan aktivitas memanjat.
"Saya sudah lama tidak memanjat pohon. Terakhir sebelum menikah," katanya.
Tiang Bergerak Saat Berada di Ketinggian
Tantangan yang dihadapi Syaifullah bukan hanya soal ketinggian. Ketika semakin dekat dengan bagian atas tiang, ia merasakan tiang tersebut bergerak.
Situasi menjadi semakin sulit ketika ia harus menjangkau tali bendera yang berada di bagian ujung. Untuk mempertahankan posisi, ia harus menjaga keseimbangan dengan kondisi pegangan yang terbatas.
Syaifullah kemudian meminta bantuan sejumlah ASN yang berada di bawah tiang. Mereka diminta membantu menjaga bagian penyangga agar tiang tetap berdiri tegak.
"Beberapa orang bantu saya, di pondasi tiang bawah ada pengunci atau handle agar tidak tetap tegak berdiri, karena saya cukup berat badan," katanya.
Setelah berhasil mencapai bagian atas, Syaifullah mengambil tali yang putus. Ia kemudian turun dan membantu petugas menghubungkan kembali tali tersebut.
Melihat Petugas Pengibar Bendera Panik
Keputusan Syaifullah untuk memanjat tiang tidak terlepas dari kondisi petugas pengibar bendera yang mulai kebingungan.
Ia memahami tekanan yang dirasakan para petugas karena kegagalan mengibarkan bendera dapat mengganggu jalannya upacara peringatan HUT ke-81 RI.
"Saya bisa merasakan betapa kecewanya mereka jika seandainya bendera tidak dinaikkan," ucapnya.
Rasa takut sebenarnya sempat dirasakan Syaifullah ketika berada di atas tiang. Namun, perasaan tersebut kemudian ia kesampingkan.
"Takut sempat ada, tapi hilang, yang penting bendera bisa dinaikkan dan berkibar," katanya saat dikonfirmasi Kompas.com.
Ia pun memilih tetap melanjutkan aksinya hingga persoalan tali bendera dapat diselesaikan.
Gangguan teknis tersebut sebenarnya terjadi setelah petugas melakukan gladi bersih sebanyak dua kali sebelum upacara dimulai.
Namun, tali bendera tetap mengalami putus ketika prosesi upacara berlangsung.
Syaifullah menyebut kejadian tersebut sebagai musibah yang tidak diperkirakan sebelumnya.
"Ini musibah, bukan kelalaian. Saya berani pun demi bendera merah putih," ucapnya.
Setelah tali berhasil diperbaiki, prosesi pengibaran bendera dapat dilanjutkan.
Sosok Syaifullah
Sosok Syaifullah ternyata bukan pejabat atau petugas khusus yang bertanggung jawab atas prosesi pengibaran bendera.
Ia diketahui berstatus sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) paruh waktu di Kecamatan Pamekasan.
Penghasilannya disebut berada di kisaran Rp1 juta per bulan.
Namun, kondisi tersebut tidak menjadi pertimbangan ketika ia melihat tali bendera terputus. Syaifullah memilih membantu secara spontan demi memastikan upacara tetap berjalan.
Aksinya memanjat tiang setinggi 8 meter tanpa alat pengaman kemudian menjadi perhatian setelah upacara selesai.
Keberanian Syaifullah juga memperlihatkan bahwa kepedulian terhadap situasi di sekitar dapat mendorong seseorang mengambil tindakan secara spontan.
Meski demikian, aksi tersebut juga mengandung risiko keselamatan yang sangat besar. Memanjat tiang setinggi 8 meter tanpa perlengkapan pengaman dapat menyebabkan seseorang terjatuh dan mengalami cedera serius.
Apalagi, Syaifullah mengaku sempat merasakan tiang bergerak ketika berada di bagian atas.
Peristiwa tersebut sekaligus menjadi pengingat mengenai pentingnya pemeriksaan teknis sebelum upacara berlangsung. Selain gladi bersih, kondisi tali, tiang, pengunci, dan perlengkapan pendukung perlu dipastikan dalam keadaan baik.
Di tengah kendala yang terjadi, Syaifullah memilih membantu tanpa menunggu instruksi lebih lanjut.
Aksi spontan tersebut akhirnya membuat namanya menjadi perhatian dalam pelaksanaan upacara HUT ke-81 RI di Pamekasan.
Syaifullah dikenang bukan hanya karena keberaniannya memanjat tiang bendera, tetapi juga karena kepeduliannya memastikan Merah Putih tetap dapat berkibar ketika upacara menghadapi kendala teknis.
(Bangkapos.com/Surya.co.id/Tribunnews)