Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Aris Ninu
TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE - Kepanikan dan kekhawatiran masih menyelimuti warga Kampung Nasaret, Dusun Kengko Biang, Desa Nampar Sepang, Kecamatan Sambi Rampas, Kabupaten Manggarai Timur, NTT, pascagempa Flores.
Kondisi tersebut turut mengusik keluarga warga yang berada di perantauan. Pasalnya, hingga kini warga Kampung Nasaret disebut belum mendapat perhatian dan bantuan dari pemerintah.
Di kampung tersebut terdapat sekitar 40 kepala keluarga (KK) atau 200-an jiwa. Namun, hingga saat ini belum tersedia posko pengungsian.
Warga, mulai dari orangtua, anak-anak hingga bayi, terpaksa mengungsi secara mandiri di kebun milik warga. Mereka memilih bertahan di lokasi tersebut dan belum berani kembali ke rumah karena sebagian besar rumah warga telah rusak parah, bahkan rata dengan tanah.
Baca juga: Kapolri Listyo Sigit Kunjungi Korban Gempa Flores di Pengungsian Reo dan Dampek
Kekhawatiran warga semakin meningkat karena gempa susulan masih terus terjadi.
“Pak, tolong bantu kampung kami. Sampai sekarang keluarga saya dan warga mengungsi di kebun. Mereka belum mendapat bantuan dari pemerintah. Sejak gempa sampai sekarang mereka masih bertahan di kebun. Rumah sudah hancur dan tidak bisa ditempati,” ujar Pankrasius Alkiam Kolaret atau Aris, warga Kampung Nasaret yang kini sedang menempuh pendidikan di Malang, Jawa Timur.
Aris menghubungi TribunFlores.com di Maumere, Selasa (18/8/2026) sore. Ia mengatakan komunikasi dengan keluarganya di kampung juga terkendala karena jaringan telekomunikasi sangat sulit dan tidak stabil.
Ia berharap pemerintah segera bergerak untuk memberikan perhatian kepada warga di wilayah yang terdampak dan sulit dijangkau pascagempa.
“Mereka mengungsi karena takut ada gempa lagi. Mereka bertahan di tempat pengungsian dan makan seadanya,” katanya.
Kampung Nasaret berada di pesisir pantai utara Flores, Manggarai Timur, yang turut terdampak parah akibat gempa Flores.
Menurut Aris, keluarganya sesekali mengirimkan foto dan video melalui jaringan yang tersedia. Dari dokumentasi tersebut, terlihat kondisi rumah dan lingkungan kampung yang mengalami kerusakan akibat gempa.
“Keluarga kalau ada sinyal kirim foto dan video mereka di tempat pengungsian. Mereka juga kirim kondisi rumah dan kampung kami yang sudah hancur dan tidak seperti dulu lagi. Mohon bantuan biar ada perhatian cepat,” tuturnya.
Ia mengatakan gempa yang terjadi membuat seluruh warga panik dan berupaya mencari tempat yang dianggap aman untuk menyelamatkan diri.
Meski rumah warga mengalami kerusakan, Aris bersyukur seluruh keluarganya dan warga Kampung Nasaret selamat dari bencana tersebut.
“Semua selamat, tapi rumah hancur semua,” ujarnya.
Aris berharap kondisi segera membaik sehingga keluarganya dapat kembali berkumpul dan masyarakat Kampung Nasaret bisa mendapatkan bantuan serta tempat pengungsian yang layak. (Ris)