TRIBUN-SULBAR.COM, POLMAN - Sejumlah pohon kakao, durian, hingga tanaman lombok mati layu akibat kekeringan yang terdampak musim kemarau panjang di Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat (Sulbar), Selasa (18/8/2026).
Kondisi itu terjadi di kebun milik petani bernama Irfan yang berada di Desa Battetangga, Kecamatan Binuang.
Irfan bersama sejumlah petani lain harus rela berjalan kaki mengambil air di sungai untuk menyiram tanamannya.
Baca juga: Sumur Mengering Akibat Kemarau, BPBD Polman Kirim 4.000 Liter Air untuk Warga
Baca juga: Kemarau Panjang di Mamuju, Permintaan Jasa Sumur Bor Meningkat Drastis
Selama musim kemarau panjang, sejumlah pohon kakao di kebun miliknya ini tak lagi mengeluarkan bunga, lalu daunnya berubah warna menjadi kuning.
Begitu pula dengan tanaman lombok, tampak layu akibat kekeringan dan tidak mengeluarkan buah.
Tanaman rambutan dan durian juga mengalami kondisi yang sama, daunnya berubah warna menjadi kuning.
“Kalau pohon kakao itu sudah tidak lagi mau berbuah saat musim kemarau, daunnya juga berubah warna menjadi kuning,” kata Irfan kepada wartawan.
Dia menyampaikan, sebelumnya tanaman kakao ini memiliki daun berwarna hijau.
Selama musim kemarau melanda, daun kakao miliknya berubah menjadi kuning, lalu rontok berjatuhan.
Sementara tanaman lombok miliknya tampak mengering, daun dan tangkainya mati layu.
Begitu juga dengan pohon rambutan, daunnya berubah warna menjadi kecoklatan semenjak musim kemarau.
“Kalau kakao itu sempat berbunga, tapi karena musim kemarau, bunganya kering lalu rontok, begitu pula dengan durian dan rambutan,” ungkapnya.
Disebutkan, kebun miliknya ini memiliki luas kurang lebih satu hektare, ditanami lombok untuk jangka pendek.
Sementara tanaman jangka panjang terdapat ratusan pohon kakao, durian, dan rambutan.
Untuk menyelamatkan tanamannya ini, Irfan pergi mengambil air sungai lalu menyiram satu per satu tanamannya.
Hal itu dilakukan saat sore hari ketika terik panas matahari mulai menghilang, dengan menyiram tanaman agar tidak mati seluruhnya.
Irfan menambahkan, musim kemarau ini membuat para petani merana lantaran buah-buahan sangat berkurang.
“Durian, rambutan tidak jadi buahnya karena kering, begitu juga dengan tanaman lombok, tapi tetap kita usaha siram dengan ambil air sungai,” ungkapnya.(*)
Laporan Wartawan Tribun-Sulbar.com, Fahrun Ramli