SURYA.CO.ID GRESIK - Dalang cilik Gresik, Kyano Reynand Hanenda, tampil dalam pagelaran wayang kulit peringatan HUT ke-54 Petrokimia Gresik untuk menjaga warisan budaya tetap hidup di tengah generasi muda dan menarik perhatian warga.
Anak berusia 10 tahun itu tampil di halaman SOR Tridharma Petrokimia Gresik bersama dalang cilik lainnya. Kepiawaiannya memainkan wayang menjadi salah satu daya tarik pertunjukan yang disaksikan puluhan warga Gresik dan sekitarnya.
Kyano merupakan siswa kelas V SD MINU Tratee Putra Gresik. Ia tampil bersama Afito Bintang Pratama (15), menunjukkan bahwa seni pedalangan masih memiliki ruang di kalangan anak-anak dan remaja.
Ketertarikan Kyano terhadap wayang bermula secara tidak sengaja ketika kakaknya mendapat tugas sekolah membuat wayang. Dari pengalaman sederhana itu, muncul ketertarikan yang kemudian berkembang menjadi minat serius menekuni dunia pedalangan.
Baca juga: Seni Budaya Nganjuk Tembus TMII, Wayang Timplong Diperkenalkan ke Tingkat Nasional
Ayah Kyano, Supri, mengatakan bakat tersebut terlihat sejak putranya masih kecil. Ia kemudian mengarahkan Kyano untuk belajar pedalangan di Sanggar Maheso Kencono PT Petrokimia Gresik.
“Bakat Kyano ini sebenarnya terlihat tidak sengaja waktu kakaknya ada tugas sekolah membuat wayang. Di situ dia melihat dan langsung tertarik sekali. Akhirnya sejak kecil kami arahkan untuk belajar di Petrokimia Gresik,” ujarnya.
Perjalanan belajar Kyano sempat terhambat pandemi Covid-19. Pembatasan aktivitas membuatnya tidak dapat mengikuti latihan secara langsung. Agar tetap bisa belajar, Kyano memanfaatkan berbagai materi pedalangan yang tersedia di YouTube.
“Sayang sekali waktu itu virus COVID-19 melanda, jadi Kyano harus bersabar dan baru bisa merasakan pentas setelah situasinya mulai aman,” kata Supri.
Kesempatan tampil di panggung akhirnya datang ketika situasi pandemi mulai mereda. Kyano menjalani pentas perdana resminya di SOR Petrokimia. Saat itu, protokol kesehatan masih diterapkan secara ketat sehingga pertunjukan hanya disaksikan kalangan internal dan ditayangkan melalui livestreaming.
Baca juga: Aksi 10 Dalang Satu Lakon di Pagelaran Wayang Kulit Sukomanunggal Surabaya Sukses Hibur Warga
Sejak itu, pengalaman Kyano di atas panggung terus bertambah. Hingga kini, ia tercatat telah tampil sebanyak 14 kali di berbagai panggung.
Penampilannya tidak hanya dalam acara korporasi, tetapi juga kegiatan budaya dan tradisi masyarakat, termasuk ritual bersih desa di sejumlah wilayah Kabupaten Gresik.
Direktur Utama Petrokimia Gresik, Daconi Khotob, mengatakan pelestarian budaya menjadi bagian dari upaya perusahaan dalam menumbuhkan masa depan. Tema HUT ke-54, “Growing the Future”, menurutnya tidak hanya berbicara mengenai pertumbuhan bisnis, tetapi juga menyiapkan generasi yang mampu meneruskan nilai dan warisan budaya bangsa.
“Pagelaran wayang kulit menjadi agenda rutin tiap momen ulang tahun perusahaan. Kami ingin ikut memastikan seni wayang tetap memiliki ruang untuk tumbuh di tengah generasi muda,” ujar Daconi.
Dalam pagelaran tersebut, lakon pembuka “Sumantri Ngenger” dibawakan dalang muda Ki Achmad Bagas Septyawan. Ia merupakan karyawan muda Petrokimia Gresik sekaligus binaan Sanggar Mahesa Kencana Petrokimia Gresik.
Pertunjukan semakin semarak dengan kehadiran tiga dalang cilik berbakat dari Kabupaten Gresik. Mereka adalah Avito Bintang Pratama, siswa kelas 8 SMPN 1 Gresik; Nicolas Davino, siswa kelas 4 SD Petrokimia Gresik; dan Kyano Renand H., siswa kelas 4 MI Nahdlatul Ulama (NU) Terate Putra.
Kehadiran para dalang muda tersebut menunjukkan bahwa seni wayang masih memiliki ruang untuk tumbuh di tengah generasi saat ini. Regenerasi seniman menjadi bagian penting agar wayang tidak berhenti sebagai warisan masa lalu, tetapi terus hidup dan berkembang.
“Ketika anak-anak muda mau belajar dan tampil membawakan wayang, di situlah kita melihat harapan bagi keberlanjutan budaya. Kami ingin memberikan ruang agar talenta-talenta muda ini terus berkembang dan semakin percaya diri dalam membawa seni tradisi ke generasi berikutnya,” jelas Daconi.
Dukungan terhadap para dalang muda juga diberikan Petrokimia Gresik dalam momen tersebut. Perusahaan menyerahkan uang pembinaan kepada para dalang cilik yang tampil dalam pagelaran.
Pemberian tersebut diharapkan dapat menjaga semangat para dalang muda untuk terus belajar dan melestarikan budaya wayang. Lebih jauh, keberadaan mereka di panggung diharapkan mampu menginspirasi generasi muda lain di Gresik untuk mengenal dan mencintai seni tradisi.
Bagi Kyano, perjalanan dari ketertarikan sederhana saat melihat tugas sekolah sang kakak hingga tampil belasan kali di berbagai panggung menjadi bagian dari proses tumbuhnya generasi penerus seni pedalangan.