Ketua DPRD Surabaya Gagas Konsep Wisata Kota Lama Hidup 24 Jam Ala Eropa
Dyan Rekohadi August 18, 2026 08:05 PM

 

SURYA.CO.ID, SURABAYA - Ketua DPRD Surabaya, Syaifudin Zuhri mendorong penataan total kawasan wisata sejarah Kota Lama Surabaya agar tak sekadar menjadi tempat berfoto sesaat, melainkan tumbuh menjadi destinasi tematik berkelanjutan bernuansa Eropa.

Penguatan atmosfer Eropa di kawasan Surabaya Utara itu dinilai menjadi kunci vital untuk menggerakkan roda ekonomi warga secara riil.

Langkah ini diharapkan mampu menghidupkan kawasan cagar budaya itu menjadi pusat aktivitas yang dinamis sepanjang hari.

Baca juga: DPRD Surabaya Dorong Deregulasi Pemanfaatan Aset untuk Tingkatkan PAD

 

Menghidupkan Wisata Sejarah dengan Sentuhan Eropa

"Kita melihat Kota Lama di Jalan Rajawali dan sekitarnya punya potensi besar untuk makin berkembang. PKL dan pelaku kuliner di sana bisa dikonstruksi bernuansa Eropa," kata Syaifuddin, Selasa (18/8/2026).

Pimpinan DPRD yang akrab disapa Kaji Ipuk ini juga mendorong konsep "Kota Lama Hidup 24 Jam".

Dengan atmosfer Eropa, menjadikan kawasan wisata sejarah itu sebagai pusat ekonomi dan budaya yang dinamis.

Melalui optimalisasi gedung cagar budaya, jangan melenyapkan PKL.

Tapi harus ada penataan PKL berkonsep estetika Eropa.

Saat ini keberadaan wisata Kota Lama itu masih sebatas deretan gedung kuno.

Bangunan era kolonial mendominasi di wilayah itu.

Potensi yang menyimpan banyak sejarah ini baru muncul dengan manfaat fisik bangunan.

Hanya untuk background foto pengunjung tanpa diikuti aktivitas penunjang untuk ekonomi tumbuh secara berkelanjutan.

"Pengunjung selfie lalu pulang tanpa ingin kembali lagi. Harus dicarikan solusi bersama agar pengunjung nyaman, berkesan, senang dan akhirnya kembali," kata Ipuk.

Salah satunya memberi pengalaman tak terlupakan bagi siapa pun yang berkunjung ke Kota Lama Surabaya.

Misalnya dari sisi penunjang, PKL dan tenant harus memperkuat nilai wisata heritage.

Selaras sebagai wisata kota kuno dengan diperkuat nuansa dan ornamen Eropa.

Lay out PKL dan tenant harus bernuansa Eropa.

Baca juga: Sejarah Kota Lama Surabaya: Dulu Lokasi Tragedi 10 November, Kini Kurang Diminati karena Parkir Jauh

 

Pelibatan Seniman dan Penguatan Ruang Publik

Bahkan tidak hanya tenant dan PKL, deretan bangunan-bangunan kuno itu tak sebatas objek foto.

Harus dihidupkan menjadi pusat aktivitas ekonomi, budaya, dan wisata yang memiliki nuansa Eropa.

Kota Lama diyakini bisa menjadi deatinasi unggulan jika seluruh elemen, mulai pemilik gedung, pelaku usaha hingga seniman, dilibatkan dalam penyusunan konsep pengembangan Kota Lama.

Kota lama itu bukan wisata yang dibuat.

Tapi sejarah Surabaya yang menjadi kawasan permukiman orang-orang Eropa pada zaman kolonial.

Menurut Ipuk, ada baiknya jangan hanya menjual bangunannya.

Tapi juga harus menghadirkan suasana kehidupan yang membuat orang benar-benar merasakan atmosfer kawasan Eropa.

Baca juga: Surabaya Dapat Modal Pembiayaan Rp 1,16 Triliun dari PT SMI, jadi Solusi Kilat Atasi Banjir

 

Solusi Beban Perawatan Gedung Cagar Budaya

Untuk mewujudkan konsep itu, DPRD Surabaya berencana mengundang para pemilik bangunan bersejarah di kawasan Kota Lama guna membahas pemanfaatan aset yang selama ini belum optimal.

Menurutnya, banyak pemilik bangunan menghadapi berbagai kendala, mulai tingginya biaya perawatan, kewajiban pajak, hingga keterbatasan dalam mengubah fungsi bangunan karena status cagar budaya.

"Jangan sampai pemilik gedung menanggung beban. Bangunan harus tetap terlindungi dan bisa memberikan manfaat ekonomi bagi pemilik maupun masyarakat," kata Ipuk yang politisi PDIP.

Kawasan Kota Lama harus didorong menjadi ruang publik dan destinasi yang dipenuhi kafe, galeri seni, pertunjukan budaya, hingga aktivitas ekonomi kreatif tanpa menghilangkan karakter historis kawasan.

"Jangan sampai Kota Lama menjadi kawasan yang mati. Yang kita inginkan justru ada kehidupan di sana, ada ekonomi, ada budaya, ada orang berkumpul nyaman menikmati eksotiknya peradaban," kata Ipuk.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.