TRIBUNMANADO.CO.ID - Warga Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) merenungkan firman Tuhan dari Perjanjian Lama, kitab Keluaran 6:1-12.
Perikop yang menjadi dasar perenungan warga gereja pekan berjalan ini berjudul: Pengutusan Musa.
Sedangkan tema minggu ini ialah: Akulah Tuhan Allahmu yang membebaskan kamu.
Mengacu pembacaan di atas, menjadi perenungan warga GMIM ialah tentang keemerdekaan bagi warga gereja sekaligus warga negara.
"Perenungan kita, apakah Indonesia sudah merdeka perjuangan kita sudah selesai?" demikian tanya Pendeta Fransis Nayoan-Tiwa MTh yang menjadi khadim ibadah Jemaat GMIM Imanuel Bahu pada Minggu 16 Agustus 2026 sesi kedua (mulai pukul 09.00 WITA).
Firman ini bertepatan dengan momentum Bangsa Indonesia yang merayakan HUT ke-81 kemerdekaan RI.
Pendeta Fransis mengungkapkan, kehidupan orang percaya dewasa ini diperhadapkan pada realita paradoks kemerdekaan.
Terjadi kontradiksi kehidupan di era kemerdekaan. "Kita masih melihat banyak yang masih terjajah dan tertindas terbelenggu oleh kemiskinan, dosa-dosa masa lalu.
Paradoks kemerdekaan di antaranya, secara fisik, merdeka tapi terpenjara oleh keadaan, merasa tidak berdaya dan kehilangan pengharaapan.
Menjadi pertanyaan, bagaimana kita merespon pernyataan Allah di tengah kehidupan yang memang kadang penuh ironi?
Karena itu jemaat perlu belajar dari Bangsa Israel yang diselamatkan dan dimerdekakan Allah.
Karya penyelamatan Allah yang mengeluarkan Israel dari perbudakan di Mesir.
Pendeta Fransis menegaskan, kemerdekaan diberikan oleh Allah. Karena itu seyogyanya kita jangan pernah meragukan kuasa Allah.
"Jangan seperti bangsa Israel yang tawar hati karena tekanan dari Firaun. Memilih tinggal di Mesir karena gentar oleh intimidasi, ragu oleh janji Allah," kata Pendeta.
Sebagai orang Kristen di era yang penuh tantangan, jemaat GMIM dituntut merdeka sejak dari pikiran. Sebab apa? Bersama Tuhan tidak ada yang mustahil.
"Jangan lagi kita terjajah, terbelenggu sejak dari pikiran sendiri. Ada yang tawar hati karena kondisi dan keadaan. Jangan menyerah oleh berbagai tantangan pergumulan," kata pendeta.
Ia menegaska, makna kata menyerah berbeda dari kata berserah. Berserah berarti kita meyakini Tuhan bisa melakukan segala sesuatu.
"Jangan sampai kita lelah berjuang, menjalani kehidupan yang memang sarat tantangan," kata pendeta memberi pesan.
Jemaat kiranya mengisi Kemerdekaan sebagai warga negara maupun Kerajaan Allah dengan kesetiaan.
Jangan sia-siakan kemerdekaan yang diberikan Tuhan.
"Putuskan rantai-rantai yang membelenggu. Rantai kecemasan, keputusaassan, keragu-raguan. Berserah dan berusaha pasti kita dimenangkan," katanya lagi.
Bertugas sebagai pendamping khadim dalam ibadah ini, Jemaat Kolom 18.
Doa dan pembacaan Alkitab dibawakan Dkn Yaulie Rindengan.
Sementara doa persembahan dibawakan Dkn Yans Papendang.
Bertugas sebagai Kordinator Penyelenggara Ibadah, Pnt Herman Nayoan selaku Wakil Ketua BPMJ.
Sedangkan puji-pujian dibawakan Jemaat kolom 18 dan Keluarga Rondonuwu-Lumanauw (kolom 18) yang memangku duka. (ndo)
Baca juga: Renungan GMIM Minggu Terakhir Bulan Juli: Gereja jadi Ruang Pengampunan Pemulihan, Bukan Penghakiman