Jepang Kekurangan Tenaga Kerja, Ini 3 Bekal yang Harus Dimiliki Pekerja Indonesia
Wahyu Aji August 18, 2026 08:36 PM

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Kekurangan tenaga kerja di Jepang membuka peluang bagi pekerja Indonesia untuk mengisi berbagai posisi, termasuk di sektor hospitality dan perhotelan.

Namun, peluang tersebut perlu diimbangi dengan kesiapan calon pekerja agar mampu memenuhi kebutuhan perusahaan sekaligus beradaptasi dengan lingkungan kerja di Jepang.

Data Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja dan Kesejahteraan Jepang menunjukkan jumlah pekerja asing di negara tersebut mencapai sekitar 2,57 juta orang pada Oktober 2025. Angka tersebut meningkat 11,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Kebutuhan tenaga kerja asing juga terlihat di sektor hospitality dan perhotelan. Survei pemerintah Jepang terhadap 522 fasilitas akomodasi menunjukkan sebanyak 72,2 persen perusahaan mengalami kekurangan tenaga kerja.

Kondisi tersebut berlangsung seiring meningkatnya aktivitas pariwisata Jepang yang mendorong kebutuhan pekerja untuk berbagai posisi, mulai dari resepsionis, layanan pelanggan, restoran hingga operasional hotel.

Pemerintah Jepang juga membuka kesempatan bagi pekerja asing melalui skema Specified Skilled Worker (SSW). Untuk sektor akomodasi, pemerintah menetapkan kuota hingga 23.000 pekerja asing untuk periode April 2024 hingga Maret 2029.

Besarnya kebutuhan tenaga kerja tersebut menjadi peluang bagi Indonesia. Namun, calon pekerja tetap perlu memiliki kompetensi yang sesuai agar dapat memenuhi kebutuhan industri Jepang.

CEO Indonesia Research Institute Japan–Jakarta (Indonesia Soken), Albertus Prasetyo Heru Nugroho, mengatakan calon pekerja perlu mempersiapkan sejumlah kemampuan sebelum berangkat ke Jepang.

"Calon pekerja perlu mempersiapkan sejumlah kemampuan sebelum berangkat agar dapat memenuhi kebutuhan perusahaan sekaligus beradaptasi dengan lingkungan kerja di Jepang," kata Prasetyo Heru di sela-sela mendampingi kunjungan sejumlah pengusaha Jepang ke Balapapat Japanese School, Bogor, Jawa Barat, belum lama ini.

Indonesia Soken merupakan perusahaan yang menjembatani perusahaan Jepang yang ingin mengembangkan bisnis dan melakukan investasi di luar negeri, khususnya Indonesia.

Dikatakan Albertus, kemampuan bahasa Jepang menjadi salah satu bekal utama bagi calon pekerja dan bisa diperoleh dari lembaga pelatihan.

Penguasaan bahasa dibutuhkan untuk memahami instruksi pekerjaan, berkomunikasi dengan atasan dan rekan kerja, serta berinteraksi dengan pelanggan.

Kemampuan tersebut semakin penting bagi pekerja di sektor hospitality karena sebagian besar pekerjaan berhubungan langsung dengan pelanggan.

"Dengan kemampuan bahasa yang memadai, pekerja juga diharapkan dapat mengurangi kesalahan komunikasi ketika menjalankan tugas sehari-hari," katanya.

Selain bahasa, calon pekerja perlu memiliki keterampilan teknis sesuai dengan bidang pekerjaan yang dituju.

Keterampilan tersebut menjadi modal untuk menjalankan tugas sesuai standar dan kebutuhan perusahaan.

Bagi pekerja hospitality, misalnya, kemampuan teknis dapat berkaitan dengan pelayanan pelanggan, operasional restoran, tata graha maupun pekerjaan lain sesuai posisi yang ditawarkan.

Bekal keterampilan juga membantu pekerja lebih cepat beradaptasi dengan tuntutan pekerjaan setelah memasuki lingkungan kerja di Jepang.

Bekal berikutnya adalah pemahaman terhadap budaya dan etika kerja Jepang.

Calon pekerja perlu memahami tata krama, kedisiplinan, pola komunikasi, serta kebiasaan yang berlaku di lingkungan kerja Jepang.

Pemahaman tersebut penting karena standar perilaku di tempat kerja dapat berbeda dengan kebiasaan yang ditemui pekerja di Indonesia.

Dengan memahami budaya dan etika kerja sejak sebelum keberangkatan, pekerja diharapkan dapat beradaptasi lebih baik sekaligus mengurangi potensi kesalahpahaman ketika berinteraksi dengan rekan kerja maupun masyarakat Jepang.

Ketiga aspek tersebut menunjukkan bahwa peluang kerja di Jepang tidak hanya bergantung pada tingginya kebutuhan tenaga kerja asing. Kesiapan dan kualitas calon pekerja juga menjadi faktor penting agar peluang tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal.

Penyiapan SDM

Kebutuhan tenaga kerja Jepang turut mendorong penjajakan kerja sama di bidang pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan kesiapan calon pekerja Indonesia.

Salah satunya terlihat dari kunjungan sejumlah pengusaha Jepang ke Balapapat Japanese School di Bogor, Jawa Barat, yang didampingi Indonesia Research Institute Japan–Jakarta (Indonesia Soken).

Prasetyo mengatakan kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat program pelatihan sekaligus menjajaki peluang kerja sama di bidang pendidikan dan pelatihan tenaga kerja.

"Peluang kerja sama maupun investasi di bidang pendidikan dan pelatihan tenaga kerja tersebut masih dalam tahap penjajakan. Kolaborasi diharapkan dapat meningkatkan kualitas penyiapan tenaga kerja Indonesia sekaligus memperluas akses pekerja Indonesia terhadap peluang kerja di Jepang," katanya.

Baca juga: Prefektur Ibaraki Hadapi Dilema Pekerja Asing Ilegal di Tengah Krisis Tenaga Kerja Pertanian

Penjajakan tersebut menjadi salah satu bagian dari upaya mempertemukan kebutuhan industri Jepang dengan kesiapan tenaga kerja Indonesia, terutama melalui penguatan kemampuan bahasa, keterampilan kerja, serta pemahaman budaya dan etika kerja.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.