SRIPOKU.COMPALEMBANG – Potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan (Sumsel) masih tergolong tinggi. Kondisi cuaca yang cenderung kering membuat sejumlah wilayah di Sumsel rawan terjadi kebakaran.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel terus meningkatkan kewaspadaan dan penanganan karhutla yang masih ditemukan di sejumlah kabupaten/kota.
Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumsel Sudirman mengatakan, kondisi tersebut menjadi perhatian serius karena aktivitas karhutla masih terus ditemukan di sejumlah daerah.
"Cuaca kering menjadi salah satu faktor yang meningkatkan potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan. Untuk kejadian karhutla di Sumsel masih terbilang fluktuasi," kata Sudirman, Selasa (18/8/2026).
Baca juga: Hari Pertama Kerja, AKBP Adik Listiyono Tancap Gas Hadapi Karhutla di Muba, 53 Perusahaan Dikerahkan
Berdasarkan data Pusdalops BPBD Sumsel per 17 Agustus 2026, tercatat sebanyak 1.420 kejadian karhutla sepanjang 1 Januari hingga 17 Agustus 2026.
Dari jumlah tersebut, indikasi luas lahan yang terdampak mencapai sekitar 1.926 hektare.
Dari total luasan karhutla tersebut, sebanyak 1.857,7 hektare terjadi di lahan mineral dan 68,5 hektare di lahan gambut.
Rinciannya:
- luasan karhutla di Ogan Komering Ulu (OKU) tercatat paling tinggi, mencapai 516 hektare lahan yang terbakar,
- luasan karhutla di Banyuasin mencapai 274,4 hektare dengan 17,5 hektare di antaranya di lahan gambut,
- di Ogan Ilir dengan luasan karhutla 272,5 hektare,
- Ogan Komering Ilir (OKI) 230,3 hektare,
- Muba 228 hektare dengan 29,1 hektare di antaranya di lahan gambut,
- Muara Enim 141,9 hektare,
- Muratara 111,9 hektare (19,9 hektare di gambut)
- di PALI 57,4 hektare (2 hektare di gambut),
- OKU Selatan 55,2 hektare,
- OKU Timur 23,2 hektare,
- Prabumulih 7,3 hektare,
- Lahat 6 hektare,
- Palembang 1,5 hektare, dan
- Mura 0,6 hektare.
Sementara itu, untuk titik panas (hot spot) sepanjang Januari hingga Agustus 2026, tercatat 8.677 titik hotspot di Sumsel.
Pada 17 Agustus titik hotspot ada 40, atau terpantau turun.
Lalu pada 18 Agustus 2026 hingga pukul 05.00 WIB, terpantau 91 titik hotspot yang tersebar di sejumlah wilayah.
Sebaran hotspot:
- Ogan Komering Ilir sebanyak 22 titik,
- Muara Enim 9 titik,
- Banyuasin 9 titik,
- Ogan Ilir 9 titik,
- Empat Lawang 8 titik,
- OKU Timur 7 titik,
- OKU 5 titik,
- Musi Rawas 4 titik.
Hotspot juga terpantau di Musi Rawas Utara, Musi Banyuasin, Kota Palembang, Lahat, OKU Selatan, Kota Prabumulih dan PALI.
"Berdasarkan data yang ada, di Sumsel juga mencatat adanya moderate haze atau kabut asap sedang di sejumlah wilayah. Kabut asap tersebut terpantau di Muara Enim, Ogan Ilir, Kota Lubuk Linggau dan Musi Rawas," katanya
Menurutnya, untuk penanganan di lapangan, BPBD Sumsel bersama tim gabungan terus melakukan patroli darat dan udara, pemantauan hotspot, sosialisasi pencegahan karhutla, hingga operasi pemadaman.
Selain pemadaman darat, operasi udara juga disiapkan untuk mempercepat penanganan titik api.
Dalam dukungan penanganan tersebut ada sembilan helikopter disiagakan, dua untuk patroli dan enam helikopter water bombing.
BPBD mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan, terutama di tengah kondisi cuaca yang kering.
Kewaspadaan juga perlu ditingkatkan karena lahan dan kawasan hutan saat ini sangat mudah terbakar dan api dapat cepat meluas.
Dengan potensi karhutla yang masih tinggi, BPBD Sumsel meminta seluruh pihak, mulai dari pemerintah daerah, tim gabungan hingga masyarakat, bersama-sama melakukan pencegahan.
Langkah tersebut dinilai penting agar kebakaran tidak meluas dan dampak kabut asap terhadap masyarakat dapat diminimalkan.