nextren.com - ASUS resmi menghadirkan ExpertBook P5 G2 (P5405CAA) di Indonesia pada 14 Agustus 2026. Laptop bisnis 14 inci ini menjadi salah satu perangkat komersial ASUS terbaru yang memakai prosesor Intel Core Ultra Series 3 atau Panther Lake, generasi chip mobile pertama Intel yang dibangun dengan proses Intel 18A.
ASUS membanderol ExpertBook P5 G2 mulai Rp22.899.000 untuk varian Intel Core Ultra 5 325. Sementara versi dengan Intel Core Ultra 7 356H dipasarkan dengan harga Rp26.399.000. Perangkat ini menyasar profesional, pekerja hybrid, institusi pendidikan, serta perusahaan yang membutuhkan laptop ringkas dengan kemampuan upgrade dan fitur keamanan kelas bisnis.

Panther Lake 18A Jadi Pembaruan Utama
Daya tarik utama ExpertBook P5 G2 terletak pada Intel Core Ultra Series 3. Intel memperkenalkan Panther Lake sebagai platform client pertamanya yang diproduksi menggunakan Intel 18A. Teknologi manufaktur tersebut membawa transistor RibbonFET gate-all-around dan PowerVia, sistem penyaluran daya dari sisi belakang chip yang dirancang untuk meningkatkan efisiensi sekaligus kepadatan desain.
Intel Core Ultra 7 356H pada ExpertBook P5 G2 memiliki 16 core dan 16 thread, boost clock hingga 4,7 GHz, serta Intel AI Boost NPU hingga 50 TOPS. Varian Core Ultra 5 325 menawarkan delapan core, delapan thread, boost hingga 4,5 GHz, dan NPU hingga 47 TOPS.
Intel mengatakan Series 3 dikembangkan dengan fokus pada efisiensi daya, performa CPU, kemampuan grafis, dan komputasi AI.
Untuk ExpertBook P5 G2, ASUS memilih Intel Graphics terintegrasi, sehingga orientasinya lebih jelas pada produktivitas dan pekerjaan bisnis dibanding penggunaan grafis berat atau gaming.
RAM Bisa Di-upgrade hingga 64 GB
ASUS melengkapi ExpertBook P5 G2 dengan dua slot SO-DIMM DDR5 yang mendukung kapasitas hingga 64 GB. Penyimpanan juga dapat diperluas melalui dua slot SSD PCIe 4.0, dengan konfigurasi hingga 2 TB pada slot utama dan 1 TB pada slot kedua.
Langkah ini penting untuk laptop bisnis karena perusahaan dapat meningkatkan RAM dan penyimpanan tanpa harus mengganti seluruh perangkat ketika kebutuhan kerja bertambah. Fleksibilitas tersebut juga memberi ruang bagi tim TI untuk menyesuaikan konfigurasi berdasarkan kebutuhan setiap divisi dan memperpanjang siklus penggunaan perangkat.
Layarnya menggunakan panel IPS 14 inci beresolusi 2.560 x 1.600 piksel dengan rasio 16:10, tingkat kecerahan 400 nit, serta cakupan warna 100 persen sRGB. Bobot perangkat mulai 1,38 kg.
ASUS membungkusnya dalam sasis Misty Grey yang diklaim memenuhi standar ketahanan MIL-STD-810H.
Sistem pendingin ExpertCool dirancang mempertahankan performa hingga 40 watt untuk beban kerja berkelanjutan. Kombinasi bobot relatif ringan dan konstruksi yang lebih tangguh menjadi bagian penting dari proposisi perangkat untuk pengguna yang sering bekerja secara mobile,
Konektivitasnya mencakup dua Thunderbolt 4 USB-C, dua USB-A 3.2 Gen 1, HDMI 2.1, audio jack, RJ45 LAN, serta Nano Kensington Lock. Kamera 5 MP dengan infrared dan webcam shield turut tersedia untuk kebutuhan konferensi video serta keamanan.
AI untuk Rapat dan Pencarian Dokumen
Selain NPU, ASUS membawa rangkaian fitur MyExpert. Platform ini mencakup Chat, Knowledge Hub, Advanced Tools, ExpertMeet, dan File Search.
ExpertMeet dapat merekam dan merangkum rapat, menerjemahkan percakapan secara real-time, serta membuat daftar tugas otomatis. File Search memungkinkan pengguna mencari dokumen yang tersimpan secara lokal maupun di cloud melalui satu antarmuka pencarian. Fitur tersebut menunjukkan bahwa ASUS mencoba mengarahkan AI ke pekerjaan administratif yang berulang, bukan sekadar menjadikannya angka spesifikasi.
Untuk keamanan, ASUS menyertakan ExpertGuardian, dukungan Windows 11 Secured-core PC, TPM 2.0, fingerprint sensor, webcam privacy shield, serta BIOS komersial yang mengacu pada NIST SP 800-155. ASUS juga memberikan McAfee+ Premium selama satu tahun. Dukungan bisnisnya mencakup layanan perbaikan on-site, bantuan teknis khusus, dan dukungan pelanggan 24/7.
ExpertBook P5 G2 menunjukkan bahwa gelombang laptop AI pada 2026 mulai bergerak dari sekadar mengejar angka TOPS menuju kebutuhan yang lebih praktis seperti performa CPU, kemampuan upgrade, keamanan, dan AI yang terintegrasi ke alur kerja. Bagi pengguna bisnis, pertanyaan pentingnya bukan lagi apakah sebuah laptop memiliki NPU, tetapi apakah kemampuan tersebut benar-benar dapat mengurangi pekerjaan rutin sekaligus memperpanjang usia pakai perangkat.