TRIBUN-TIMUR.COM - Sampah tak pernah sirnah.
Apalagi di abad belanja daring, masalah persampahan menjadi problem sosial kemasyarakatan.
Sebiji jarum dibeli via daring, memunculkan sampah plastik-kertas segenggam.
Artinya masalah sampah berkait erat dengan masalah kebutuhan masyarakat.
Karena itu, kita tak pantas membenci sampah.
Sampah seharusnya diperlakukan sebagai kebutuhan, bukan limbah.
Sebab ia datang saat kebutuhan kita terhadap sesuatu terpenuhi.
Ditingkat pemerintah, perubahan pola konsumsi publik memaksa pemerintah harus memikirkan solusi persampahan.
Pemerintah tak boleh menganggap sampah sebagai masalah.
Sebab sampah yang lahir di tengah perubahan pola konsumsi masyarakat sesungguhnya berbuah income ekonomi bagi pemerintah.
Semua layanan belanja daring dan konsumennya, wajib membayar pajak pada negara.
Karena itu, pemerintah harus melihat sampah sebagai investasi, bukan barang buangan tak berguna.
Begitupun sampah di pasar-pasar tradisional, ia tak boleh dianggap sebagai biang kekotoran kota.
Sebab, saban hari para pedagang di pasar-pasar tradisional itu menyetor retribusi dengan beragam jenisnya.
Namun bukan karena itu, para pedagang tak boleh pula membuang sampah dengan senonoh.
Hal yang sama juga berlaku untuk pelaku usaha.
Mereka tak boleh dianggap mesin sampah.
Sebab pada pokoknya, mereka juga mesin PAD.
Namun bukan karena itu, pelaku usaha enggan mengurus sampahnya.
Mereka harus berperan aktif dalam mengolah sampahnya pula, sebab estetika kota yang bersih tentu menjadi daya tarik konsumen mereka.
Sama pula halnya dengan masyarakat kebanyakan yang saban hari menciptakan sampah rumah tangga.
Sampah mereka tak boleh diabaikan sebab mereka penyetor pajak yang rutin.
Akan tetapi, bukan karena itu sampah rumahan dibuang begitu saja.
Sebab lingkungan yang bersih tentu harus dimulai dari penanganan sampah bersama.
Artinya, masalah persampahan bukan urusan pemerintah belaka.
Tetapi juga bagian penting dari problem bersama.
Kita semua setara sebagai produsen sampah. Kita harus bersatu padu membangun kultur bersih.
Disitulah letak tugas pemerintah Kota Makassar, mengedukasi seluruh komponen kota ini terkait penanganan sampah sekaligus mengelola sampah-sampah itu menjadi potensi ekonomi yang dapat diakses seluruh warga.
Sampah tak pernah salah.
Mungkin kita saja yang sering keliru memaknai sampah sebatas sebagai barang buangan belaka.(*)