TRIBUN-TIMUR.COM, PINRANG - Ketua Badan Pengurus Pusat Kerukunan Keluarga Pinrang (BPP-KKP), Abdillah Natsir, meminta warga Pinrang di Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk segera melapor jika terdampak bencana gempa bumi.
Gempa bumi tektonik dahsyat bermagnitudo 7,7 mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8/2026) pukul 04.58 WIB.
Gempa berpusat di laut sekitar 38 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, dengan kedalaman dangkal 15 km akibat aktivitas Sesar Naik Flores.
Guncangan kuat memicu peringatan dini tsunami yang sempat aktif selama 2,5 jam sebelum akhirnya dinyatakan berakhir oleh BMKG.
Gelombang air laut setinggi hingga 1,6 meter sempat menyapu pesisir dan merusak puluhan rumah warga serta perahu nelayan.
Bencana ini melumpuhkan sebagian wilayah Pulau Flores.
Data hingga 18 Agustus 2026 sore, dampak gempa bumi menyebabkan 70 orang tewas, 1.182 orang luka-luka dan lebih dari 40.000 jiwa terpaksa mengungsi.
Lebih dari 1.350 rumah warga, infrastruktur jalan, fasilitas umum sekolah, tempat ibadah, layanan kesehatan, hingga area pelabuhan mengalami kerusakan parah.
Himbauan tersebut disampaikan Abdillah Natsir merespons situasi darurat pasca gempa di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
Namun hingga saat ini, pihak Pengurus Pusat KKP belum menerima laporan adanya warga asal Kabupaten Pinrang yang menjadi korban dampak gempa tersebut.
"Sampai sekarang tidak ada kedengaran dan tidak ada laporan kalau ada warga kita yang terdampak di sana," ujar Abdillah Natsir saat dikonfirmasi Tribun-Timur.com via telpon, Selasa (18/8/2026).
Abdillah menjelaskan bahwa struktur organisasi KKP memang belum terbentuk secara resmi di wilayah Provinsi NTT.
Meski demikian, pihak Pengurus Pusat KKP mencatat terdapat sejumlah keluarga asal Pinrang yang bermukim dan membuka usaha di sana.
"Di sana belum pernah terbentuk KKP, tetapi ada beberapa warga kita seperti dari daerah Tiroang yang punya toko di NTT," katanya.
Mantan Sekretaris DPD I Golkar Sulsel ini mengungkapkan bahwa pemantauan terus dilakukan melalui jaringan komunikasi grup percakapan internal KKP.
"Termasuk di grup-grup internal KKP juga sampai saat ini belum ada informasi mengenai keberadaan korban dari Pinrang," tuturnya.
Guna mengantisipasi dampak buruk bencana, KKP menerbitkan tiga poin himbauan penting bagi seluruh warga perantau asal Pinrang di NTT.
Poin pertama, warga yang terdampak diminta segera memberi informasi ke pengurus KKP terdekat maupun ke Pengurus Pusat KKP.
"Jika ada warga Pinrang terdampak, segera informasikan ke pengurus terdekat atau ke Pengurus Pusat KKP agar bisa merespons bantuan," tegasnya.
Poin kedua, masyarakat diimbau untuk segera mengevakuasi diri ke lokasi yang telah disiapkan pemerintah setempat demi menjamin keselamatan.
"Warga kita yang terdampak harus mencari tempat aman dan perlindungan yang disiapkan pemerintah maupun keluarga di sana," lanjut Abdillah.
Poin ketiga, KKP mengingatkan warga untuk selalu waspada dan mengutamakan keselamatan jiwa dari potensi bahaya erupsi susulan.
"Kalau situasi masih belum aman, harus mencari lokasi berlindung agar keselamatan jiwa tidak terancam oleh kejadian berulang," tambahnya.
Pengurus Pusat KKP menegaskan komitmennya untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan serta tali kasih bagi warga Pinrang yang membutuhkan.
"Bantuan dan tali kasih siap kita koordinasikan bersama seluruh keluarga besar KKP se-Indonesia untuk warga yang terdampak di NTT," pungkasnya.
Gempa Susulan
Sebelumnya, Gempa bumi susulan magnitudo 5,8 mengguncang wilayah timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), Senin (17/8/2026) pagi.
Guncangan membuat sejumlah peserta upacara HUT Kemerdekaan ke-81 RI di Manggarai Timur panik.
Berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa terjadi pukul 07.46.43 WIB atau 08.46.43 Wita.
Episenter berada pada koordinat 8,38 Lintang Selatan dan 121,52 Bujur Timur, sekitar 40 kilometer timur laut Mbay, dengan kedalaman 10 kilometer.
Informasi tersebut dibagikan Frans Sales Lega dari BMKG Ruteng melalui grup WhatsApp Info BMKG Manggarai.
Guncangan turut dirasakan peserta upacara peringatan HUT ke-81 RI tingkat Kabupaten Manggarai Timur yang berlangsung di Natas Lehong.
Sejumlah peserta yang berada di lantai dasar panggung utama terlihat kaget.
Beberapa di antaranya bahkan sempat berlari keluar ruangan karena panik.
Meski sempat picu kepanikan, rangkaian upacara peringatan HUT Kemerdekaan RI yang dipimpin Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Jenderal Polisi (Purn) Muhammad Tito Karnavian tetap berlangsung hingga selesai.(*)