19 Agustus Jadi Momentum Tiga Peringatan Internasional, Apa Saja?
Muhammad Fatoni August 19, 2026 09:14 AM

TRIBUNJOGJA.COM- Bulan Agustus identik dengan berbagai peringatan, terutama karena Indonesia baru saja merayakan Hari Kemerdekaan pada 17 Agustus.

Namun, dua hari setelahnya, tepat 19 Agustus, ada sejumlah peringatan internasional yang mungkin belum banyak diketahui Tribunners.

Tanggal ini menjadi momentum untuk memperingati Hari Kemanusiaan Sedunia (World Humanitarian Day), Hari Fotografi Sedunia (World Photography Day), dan Hari Orangutan Sedunia (World Orangutan Day).

Meski memiliki tema yang berbeda, ketiganya sama-sama mengajak masyarakat untuk melihat kembali hal-hal yang dekat dengan kehidupan manusia, mulai dari kepedulian terhadap sesama, perkembangan fotografi, hingga keberadaan satwa dan lingkungan.

Lantas, apa yang melatarbelakangi ketiga peringatan tersebut?

Hari Kemanusiaan Sedunia

Hari Kemanusiaan Sedunia menjadi salah satu peringatan resmi yang ditetapkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Peringatan ini jatuh setiap 19 Agustus untuk menghormati para pekerja kemanusiaan sekaligus mengingat masyarakat yang hidup dalam situasi krisis, seperti konflik dan bencana.

Pemilihan tanggal tersebut tidak terlepas dari sebuah peristiwa tragis di Baghdad, Irak.

Pada 19 Agustus 2003, terjadi serangan bom terhadap Hotel Canal yang saat itu menjadi kantor PBB. Sebanyak 22 orang meninggal dunia dalam peristiwa tersebut, termasuk Sergio Vieira de Mello, Perwakilan Khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk Irak.

Lima tahun setelah kejadian itu, Majelis Umum PBB menetapkan 19 Agustus sebagai Hari Kemanusiaan Sedunia.

Peringatan tersebut kemudian secara resmi pertama kali dilakukan pada 2009.

Hari Kemanusiaan Sedunia bukan sekadar momen untuk mengenang mereka yang gugur.

Peringatan ini juga menjadi pengingat bahwa di tengah perang, konflik, maupun bencana, selalu ada orang-orang yang turun langsung membantu mereka yang terdampak.

Mereka bisa bekerja sebagai tenaga medis, relawan, petugas bantuan, maupun orang-orang yang berada di garis depan untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi.

Karena itu, Hari Kemanusiaan Sedunia juga membawa pesan bahwa orang yang memberikan bantuan seharusnya mendapatkan perlindungan, terutama ketika bekerja di wilayah yang sedang mengalami krisis.

Hari Fotografi Sedunia

Medium Shot
Medium Shot (pinterest/allblogthings)

Kalau peringatan sebelumnya membawa pesan kemanusiaan, Hari Fotografi Sedunia punya suasana yang berbeda.

Tanggal 19 Agustus dipilih untuk memperingati salah satu tonggak penting dalam sejarah fotografi, yaitu pengumuman proses daguerreotype yang dikembangkan Louis Daguerre pada 1839.

Proses tersebut menjadi salah satu metode fotografi praktis pertama yang memungkinkan gambar dibuat secara permanen.

Pada masa itu, membuat sebuah foto tentu tidak semudah sekarang.

Tribunners tinggal mengeluarkan ponsel, mengarahkan kamera, lalu menekan layar.

Sementara pada masa awal fotografi, proses menghasilkan gambar membutuhkan peralatan dan teknik khusus.

Perkembangan fotografi kemudian berjalan sangat panjang. Dari kamera dengan proses yang rumit, film, kamera digital, hingga kamera yang sekarang hampir selalu ada di dalam ponsel.

Perubahan tersebut membuat fotografi tidak lagi menjadi sesuatu yang hanya dilakukan fotografer profesional.

Hari ini, siapa saja bisa mengabadikan makanan, perjalanan, keluarga, hewan peliharaan, pemandangan, atau momen kecil yang mungkin tidak akan terulang.

Itulah yang membuat fotografi menarik. Sebuah foto bukan hanya soal gambar yang terlihat bagus, tetapi juga bisa menjadi cara menyimpan kenangan dan merekam sebuah masa.

Royal Photographic Society juga menempatkan Hari Fotografi Sedunia sebagai kesempatan untuk melihat kembali alasan seseorang mengambil foto dan bagaimana fotografi menjadi bagian dari kehidupan.

Media seperti detik juga menyoroti fotografi sebagai “jendela ke masa lalu”, karena sebuah gambar dapat membantu orang melihat kembali peristiwa dan kehidupan pada masa yang berbeda.

Baca juga: Trump Berulah Lagi, Labeli Selat Hormuz Sebagai Wilayah Baru AS

Hari Orangutan Sedunia

4 Arti Mimpi Orang Utan Menurut Primbon, Benarkah Tanda Masalah Dalam Hidup?
4 Arti Mimpi Orang Utan Menurut Primbon, Benarkah Tanda Masalah Dalam Hidup? (pixabay)

Peringatan ketiga yang jatuh pada 19 Agustus adalah Hari Orangutan Sedunia.

Bagi Indonesia, peringatan ini cukup dekat karena orangutan hidup secara alami di wilayah Sumatera dan Kalimantan.

Kementerian Kehutanan menyebut Hari Orangutan Sedunia sebagai momentum untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya melindungi orangutan dan habitatnya yang menghadapi berbagai ancaman, termasuk deforestasi, perburuan, dan perdagangan ilegal.

Satwa ini memiliki peran dalam menjaga ekosistem karena membantu menyebarkan biji dari buah yang mereka makan.

Karena itu, BOS Foundation menyebut orangutan sebagai semacam “petani hutan” yang ikut membantu regenerasi hutan.

Masalahnya adalah kehidupan orangutan sangat bergantung pada kondisi hutan.

Ketika habitatnya rusak atau semakin berkurang, orangutan ikut kehilangan tempat untuk mencari makan dan berkembang biak. Ancaman lain seperti perburuan dan perdagangan ilegal juga membuat upaya perlindungan satwa ini menjadi semakin penting.

Peringatan Hari Orangutan Sedunia  bukan hanya tentang orangutan, tetapi juga tentang hutan yang menjadi rumah bagi berbagai makhluk hidup.

Tiga Peringatan, Tiga Pesan Berbeda

Menariknya, satu tanggal bisa membawa tiga pesan yang berbeda.

Hari Kemanusiaan Sedunia mengingatkan Tribunners tentang pentingnya membantu dan melindungi manusia yang terdampak krisis.

Hari Fotografi Sedunia mengajak melihat kembali perjalanan sebuah teknologi yang kini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Sementara Hari Orangutan Sedunia mengingatkan bahwa menjaga satwa juga berarti menjaga hutan dan lingkungan tempat mereka hidup.

Jadi, kalau selama ini 19 Agustus terasa seperti hari biasa setelah hiruk-pikuk perayaan kemerdekaan, ternyata ada beberapa hal yang bisa dikenang pada tanggal tersebut.

Mulai dari orang-orang yang membantu di tengah krisis, foto yang menyimpan cerita, sampai orangutan yang ikut menjaga kehidupan hutan.

Tiga peringatan dengan tema berbeda, tetapi semuanya punya satu kesamaan yakmi mengajak manusia untuk lebih peduli terhadap sesuatu yang sering kali ada di sekitar, tetapi mudah terlewatkan.

(MG Mayumi Cinta Mahesi)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.