TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - PSIM Yogyakarta kembali mendapat bahan evaluasi dalam persiapan menghadapi kompetisi Super League 2026/2027.
Tim berjuluk Laskar Mataram itu ditahan imbang 1-1 oleh kontestan Liga 3, Persekabpas Pasuruan, dalam laga latih tanding di Stadion Mandala Krida, Yogyakarta, Senin (18/8/2026) sore.
Pada laga tersebut, PSIM Yogyakarta sempat unggul lebih dulu 1-0.
Namun, keunggulan tersebut tak mampu dipertahankan setelah Persekabpas Pasuruan memanfaatkan kelengahan lini pertahanan tim besutan Jean-Paul van Gastel.
Bagi PSIM Yogyakarta , pertandingan ini bukan sekadar mengejar kemenangan.
Laga tersebut menjadi bagian dari proses pematangan taktik, sekaligus evaluasi performa pemain sebelum kompetisi musim baru bergulir.
Manajer PSIM Yogyakarta, Iksan Mahar, mengatakan agenda latih tanding dalam beberapa pekan terakhir memang diarahkan untuk mengukur kesiapan tim secara menyeluruh.
“Secara keseluruhan sejak awal uji coba kita memang bukan untuk mencari hasil, melainkan bagaimana menyempurnakan tim secara taktis, teknis, hingga kondisi fisik para pemain,” ungkap Iksan.
Dalam dua pekan terakhir, PSIM Yogyakarta terus menguji komposisi pemain untuk menemukan susunan terbaik.
Selain mematangkan sebelas pemain utama, tim pelatih juga berupaya membangun koneksi antarpemain, terutama mereka yang baru bergabung.
Iksan mengakui masih terdapat sejumlah pekerjaan rumah, khususnya di lini depan.
Beberapa pemain baru dinilai masih membutuhkan waktu untuk menemukan bentuk permainan dan membangun koneksi dengan rekan-rekannya.
“Jadi, kami melihat adanya kekurangan di area tersebut dan hal ini tentu menjadi evaluasi, terutama bagi beberapa pemain baru di lini depan yang terlihat masih mencari cara dan bentuk permainan terbaik. Tidak hanya secara taktis, tetapi juga hubungan antar-pemain,” tuturnya.
Tentunya hal tersebut menjadi bahan evaluasi tim besutan Jean-Paul Van Gastel.
Rotasi juga menjadi bagian penting dalam laga melawan Persekabpas Pasuruan.
PSIM ingin memberikan kesempatan bermain kepada pemain yang sebelumnya mendapat menit tampil terbatas.
“Iya, kami memang ingin mencoba, terutama para pemain yang kemarin hanya bermain setengah jam melawan Bhayangkara di Kebo Giro,” kata Iksan.
Meski menemukan sejumlah kelemahan, Iksan menilai hasil pertandingan melawan Persekabpas Pasuruan belum bisa dijadikan gambaran mutlak mengenai kekuatan PSIM Yogyakarta di kompetisi resmi.
“Kami memang masih melihat beberapa titik kelemahan, tetapi ini tentu belum bisa menjadi tolok ukur bagaimana mereka bermain di liga nanti,” tegasnya.
Baca juga: PSIM Yogyakarta Masih Kurasi Calon Apparel, Sejumlah Tawaran Masuk Jelang Launching Tim
Di sisi lain, penampilan penjaga gawang Athaullah Daib menjadi salah satu catatan positif.
Kiper 16 tahun itu tercatat melakukan tiga penyelamatan penting saat menghadapi para pemain berpengalaman Persekabpas.
“Ada tiga penyelamatan yang dilakukan oleh Daib. Meskipun tadi kebobolan oleh pemain yang terpaut usia 30 tahun dengannya, hal ini tentu menjadi hal positif bagi Daib karena memberikan pengalaman melakukan tiga penyelamatan penting,” ujar Iksan.
Sementara itu, pemain PSIM Yogyakarta, Raka Cahyana Rizky, menilai pertandingan tersebut memberikan manfaat dari sisi kebugaran dan adaptasi pemain terhadap durasi pertandingan penuh.
Menurutnya, para pemain perlahan mulai terbiasa bermain dalam tempo dan durasi yang lebih panjang setelah sebelumnya belum banyak menjalani pertandingan selama 90 menit.
“Hari ini kita melawan tim yang cukup bagus secara pertahan. Secara stamina, perlahan-lahan kami mulai beradaptasi karena biasanya tidak bermain selama 90 menit,” ujar Raka. (*)