Iran Tembak 2 Rudal ke Laut, UEA Bekukan Total Perdagangan dengan Teheran
Darwin Sijabat August 19, 2026 11:03 AM

 

TRIBUNJAMBI.COM – Eskalasi militer Timur Tengah di kawasan Teluk meruncing dramatis. 
Kementerian Pertahanan Uni Emirat Arab (UEA) mengonfirmasi Iran meluncurkan dua rudal balistik yang menyasar alur navigasi maritim pada Selasa (18/8/2026) waktu setempat.

Pengumuman resmi mengenai ancaman militer terbaru ini dirilis Kementerian Pertahanan UEA melalui saluran resmi platform X pada Rabu (19/8/2026) dini hari.

"Kementerian Pertahanan mengumumkan bahwa penilaian mengungkapkan dua rudal balistik yang terdeteksi, yang berasal dari Iran, menargetkan navigasi maritim dan jatuh ke laut," tulis kementerian tersebut di X, Rabu (19/8/2026) pukul 02.48 WIB.

Otoritas pertahanan UEA menegaskan komitmen penuh untuk mengambil langkah-langkah responsif guna melindungi kedaulatan serta stabilitas koridor maritim regional.

"Kementerian Pertahanan menegaskan kesiapannya untuk menanggapi ancaman apa pun dan dengan tegas melawan setiap upaya untuk merusak keamanan negara atau keselamatan navigasi maritim di kawasan tersebut, sehingga melindungi kedaulatan, keamanan, dan stabilitas negara, serta melindungi kepentingan, aset, dan sumber daya nasionalnya," tegas pernyataan resmi tersebut.

"Kementerian juga mendesak masyarakat untuk memperoleh semua informasi dari otoritas resmi di negara tersebut serta menghindari rumor dan informasi yang salah," tambah pihak kementerian.

Merusaknya stabilitas keamanan ini direspons cepat oleh diplomasi Abu Dhabi. 

Kementerian Luar Negeri UEA secara resmi mengumumkan penghentian total seluruh arus perdagangan, pertukaran komersial, hingga transaksi keuangan dengan Iran sampai batas waktu yang belum ditentukan. 

Langkah drastis ini diambil dipicu oleh eskalasi regional yang dinilai merusak perdamaian internasional.

Bantahan Teheran dan Rekam Jejak Konflik Teluk

Di sisi lain, Pemerintah Iran membantah keras tuduhan penembakan alutsista tersebut. 

Melansir media resmi Iran yang dikutip Iran International, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, secara tegas menolak klaim UEA ada rudal yang diluncurkan dari wilayah Iran ke arah negara tetangganya itu.

Tensi antara kedua negara sejatinya telah memanas dalam beberapa hari terakhir. 

Baca juga: Trump Tolak Perpanjang MoU, Desak Iran Menyerah dan Ancam Bombardir Oman

Baca juga: Laka di Jalan Ness Jambi: Mobil Diduga Berisi BBM Terperosok, Sopir Kabur

Pada Sabtu (15/8/2026), UEA melaporkan armada kapal milik Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) dihantam serangan Iran saat melintasi Selat Hormuz. 

Mengutip NDTV, Kemlu UEA lantas mendesak Teheran menghentikan aksi agresi tanpa provokasi, mengakhiri permusuhan, dan segera membuka kembali Selat Hormuz secara penuh.

Ancaman ini mengembalikan ingatan publik pada riwayat krisis keamanan di UEA. 

Peringatan rudal terakhir di negara tersebut tercatat pada Mei lalu, diikuti insiden alarm palsu pada Juni akibat gangguan teknis sistem peringatan dini nasional yang terkirim ke ponsel warga.

Sejak konflik Timur Tengah meletus pada 28 Februari, UEA menjadi sasaran paling intensif dari serangan Iran, di mana hampir 3.000 rudal dan drone diarahkan ke wilayahnya—jumlah terbesar dibandingkan negara mana pun di kawasan. 

Meski sempat menikmati periode tenang tanpa serangan pasca-Nota Kesepahaman (MoU) AS-Iran berlaku pada Juni, runtuhnya kesepakatan tersebut kini mengembalikan UEA ke dalam zona bahaya.

Apa Isi MoU Tersebut?

Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian menandatangani perjanjian tersebut pada 17 Juni untuk menghentikan perang yang telah berlangsung lebih dari tiga bulan dan menewaskan ribuan orang serta melumpuhkan pengiriman komersial melalui Teluk, terutama ekspor minyak dan gas yang sangat diandalkan secara global.

MoU yang terdiri dari 14 poin tersebut menyisakan sejumlah perselisihan kompleks antara kedua negara, seperti program nuklir Iran, untuk ditangani kemudian.

Namun, MoU tersebut berupaya menemukan solusi diplomatik segera untuk menghentikan perang dan mengakhiri konflik di Lebanon.

"Amerika Serikat dan Republik Islam Iran serta sekutu mereka dalam perang saat ini dengan menandatangani MoU ini menyatakan penghentian segera dan permanen operasi militer di semua lini, termasuk di Lebanon, dan berjanji mulai sekarang untuk tidak memulai perang atau operasi militer apa pun terhadap satu sama lain, menahan diri dari ancaman atau penggunaan kekerasan terhadap satu sama lain, serta memastikan integritas teritorial dan kedaulatan Lebanon," demikian bunyi MoU tersebut.

“Kesepakatan akhir akan mengonfirmasi penghentian permanen perang di semua front, termasuk di Lebanon, dan ketentuan lain dari paragraf ini” akan disetujui oleh Dewan Keamanan PBB dan akan dicapai dalam waktu maksimal 60 hari, yang dapat diperpanjang dengan persetujuan bersama,” tambahnya.

Kesepakatan itu juga mengharuskan AS mengakhiri blokade angkatan lautnya dalam waktu 30 hari setelah kesepakatan akhir tercapai dan memulai pekerjaan pada paket rekonstruksi dan pembangunan untuk Iran senilai setidaknya 300 miliar dolar AS.

Berdasarkan perjanjian tersebut, Amerika Serikat juga diharuskan mencabut sanksi terhadap Iran, mengeluarkan pengecualian untuk ekspor minyak Iran, dan mengizinkan Teheran mengakses miliaran dana yang dibekukan di luar negeri.

Di pihak lain, Iran diminta membersihkan ranjau dari Selat Hormuz dan mengizinkan kapal melintas tanpa biaya selama 60 hari.

Iran juga menegaskan kembali bahwa mereka tidak akan memperoleh atau mengembangkan senjata nuklir dan akan mempertahankan status quo.

Baca juga: Sidang Praperadilan Penetapan Tersangka Eks Jampidsus Febrie Digelar Hari Ini di PN Jaksel

Baca juga: Breaking News Kadisdik Kota Jambi dan Kabid Guru dan TK Mengundurkan Diri

Baca juga: Harga Ayam di Jambi Capai Rp46 Ribu per Kg Hari Ini

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.