Laporan Wartawan Magang, Samuel
BANGKAPOS.COM, BANGKA - Sebuah gerobak besi berkarat teronggok di pinggir halaman SMP Negeri 7 Pangkalpinang.
Rodanya kempes, catnya luntur, separuh badannya mulai dijerati semak yang naik dari tanah.
Dulu, rangka ini pernah diarak sebagai kereta hias pawai kemerdekaan.
Kini ia cuma jadi rongsokan berkarat yang tidak digunakan lagi di tahun ini.
Menurut salah satu pengajar di sekolah tersebut, alasanya sederhana. Karena anggaran sekolah tidak lagi mencukupi untuk membiayainya.
SMK Pelayaran Pangkalpinang dan SMP Negeri 3 Pangkalpinang menghadapi ironi yang sama.
Sementara sekolah swasta seperti Santo Yosef dan sekolah Bahagia memilih tak ambil bagian sama sekali di pawai karnaval tahun ini.
Berpindah beberapa kilometer, sosok kerangka bambu menyerupai anatomi manusia berdiri tegak di halaman SMA Negeri 4, di antara batang-batang bambu lainnya.
"Kami menyiapkan replika struktur Garuda dari bambu sebagai simbol pilar kebangsaan yang sakral dan penuh falsafah," ujar Muttaqin, penanggung jawab pawai karnaval SMAN 4.
Di tengah barisan sekolah yang memilih mundur dari pawai karnaval kemerdekaan tahun ini, SMAN 4 justru tampil dengan persiapan yang hampir maksimal.
40 dari kuota 45 siswa diturunkan dalam pawai karnaval, dengan pendanaan yang, menurut Muttaqin, murni ditanggung sekolah tanpa campur tangan pemerintah.
"Kita nggak mau ada drama-drama," katanya.
SMAN 4 berani mempertaruhkan dananya dalam pawai tahun ini.
Selain rangka Garuda yang tengah dirakit, sekolah ini membawa satu aset yang tak dimiliki sekolah lain yakni hak cipta atas tarian mereka sendiri.
Pamerkan HAKI
Dua tahun lalu, SMAN 4 mendaftarkan Hak Atas Kekayaan Intelektual untuk sebuah tarian bernama Tari Sambut Kontemporer.
Musiknya digarap guru seni Pak Andi, koreografinya oleh Bu Meilani, melibatkan sekitar 15 siswa penari dan pemain dambus.
Tarian ini lahir dari kegelisahan yang sederhana. Pinang Sebelas, tari sambut klasik khas Bangka, dinilai terlalu lambat temponya untuk tamu yang baru datang.
"Sering bosen orang melihatnya," klaim Muttaqin.
Maka lahirlah versi baru dengan beat yang lebih cepat, tanpa meninggalkan gerakan spesifik khas Bangka yang jadi akarnya, menurut Muttaqin.
Tentu transformasi dan perkawinan kedua elemen ini tak sepenuhnya berjalan mulus.
Muttaqin mengaku sempat berkonsultasi dengan budayawan setempat sebelum merilis versi kontemporer itu, dan mendapat jawaban bahwa pakem tarian semestinya tak diubah.
Menanggapi pendapat tersebut, SMAN 4 beradaptasi dan tetap melangkah maju.
"Akarnya tetap dapat, gerakan spesifik Bangka tetap dapat, tapi dengan format baru," ujarnya, mencoba menjembatani dua tarikan: kesetiaan pada tradisi dan tuntutan untuk tetap menarik ditonton di masa sekarang.
Tarian ini kini bukan cuma jadi bagian dari pawai 27 Agustus, tapi juga tampil rutin di acara-acara Dinas Pariwisata.
Soal target, Muttaqin sendiri tentu memiliki ambisi namun tetap mengedepankan kebermanfaatan.
"Namanya kompetisi, kita berharap menang. Tapi target utama kita kan menyemarakkan, ikut berkontribusi, dan memberikan ide-ide positif bahkan inspirasi ke masyarakat yang menonton," katanya.
Bagi Muttaqin, juara hanyalah bonus dari kerja keras siswa yang selama berminggu-minggu mengikat bambu jadi kerangka Garuda dan menghapal ulang koreografi yang belum genap dua tahun disahkan sebagai hak cipta mereka sendiri.
Namun, tak semua sekolah bernasib sama seperti SMAN 4 Pangkalpinang. Semua sekolah tentu punya ambisi, namun tak semua sekolah punya modal untuk sekadar berharap.
Di halaman SMP Negeri 7, gerobak berkarat itu masih di sana, menunggu dibongkar atau dibiarkan lapuk sendiri oleh hujan dan semak yang terus menjalar.
SMAN 4 sudah punya panggung memuka debutnya di acara Dinas Pariwisata untuk memutar hak cipta tariannya.
Sementara bagi deretan sekolah yang absen, ketidakhadiran mereka memotret realitas di lapangan: euforia karnaval di jalanan kini menuntut biaya operasional yang tak lagi ramah bagi keuangan sekolah.
Keputusan menepi atau sekadar beralih ke rute hemat seperti pawai PBB, pada akhirnya terbaca bukan sebagai kemunduran kreativitas, melainkan sekadar kompromi paling logis untuk menjaga napas finansial institusi tanpa membebani kantong siapa-siapa.(*)