Kekeringan Panjang, Petani di Pangiang Alihkan Sawah Jadi Lahan Cabai hingga Cokelat
Abd Rahman August 19, 2026 12:47 PM

 

 

TRIBUN-SULBAR.COM,PASANGKAYU-Kekeringan yang berlangsung cukup lama mulai mengubah pola tanam petani di Desa Pangiang, Kecamatan Bambalamotu, Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat.

Sejumlah petani memilih mengalihkan lahan yang sebelumnya digunakan untuk menanam padi menjadi tanaman yang dinilai lebih mampu bertahan dengan kondisi minim air, seperti cabai hingga cokelat.

Langkah tersebut dilakukan karena ketersediaan air untuk mengairi persawahan semakin terbatas akibat musim kemarau berkepanjangan.

Baca juga: Kronologi Pria di Mateng Lecehkan Anak di Bawah Umur di Bawah Pohon Sawit

Baca juga: BPBD Polman Salurkan Air Bersih Sasar 120 KK Warga Dusun Bajoe Terdampak Kekeringan

Salah seorang petani di Desa Pangiang mengatakan, kondisi kekeringan membuat petani kesulitan mempertahankan tanaman padi. Karena itu, sebagian petani mulai mencari alternatif tanaman yang bisa dibudidayakan di tengah keterbatasan air.

"Kalau air tidak ada, kami pilih tanam cabai, ada juga yang tanam cokelat," kata petani tersebut saat dikonfirmasi, Rabu (19/8/2026).

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi pilihan petani agar lahan tetap bisa dimanfaatkan meski persawahan tidak mendapatkan pasokan air yang cukup.

Diketahui, total areal persawahan di Desa Pangiang mencapai sekitar 100 hektare. Namun, akibat persoalan ketersediaan air, sejauh ini hanya sekitar 80 hektare yang masih dapat berproduksi.

Kondisi itu sebelumnya juga membuat sejumlah lahan persawahan mengalami kekeringan. Tanah di beberapa bagian sawah tampak terbelah dan mengeras, sementara saluran irigasi yang menjadi sumber pengairan juga mulai mengering.

Pemerintah Desa Pangiang kemudian melaporkan kondisi tersebut kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pasangkayu.

BPBD Pasangkayu merespons dengan menurunkan mesin pompa air untuk mengambil air dari sungai dan mengalirkannya ke area persawahan yang terdampak.

Sementara itu, Kepala Desa Pangiang, Rizal, mengatakan kondisi kekeringan menjadi ancaman serius bagi petani jika musim kemarau masih terus berlangsung.

Ia menyebut, apabila dalam 10 hari ke depan belum juga turun hujan, dipastikan banyak lahan persawahan berpotensi mengalami gagal panen.

"Kalau kemarau panjang masih berlanjut sampai 10 hari ke depan, dipastikan sawah banyak yang gagal panen," kata Rizal.

Rizal berharap hujan segera turun sehingga kebutuhan air untuk persawahan dapat kembali terpenuhi.

Menurutnya, bantuan pompa air dari BPBD memang cukup membantu untuk sementara, namun petani tetap membutuhkan pasokan air yang lebih stabil untuk menjaga keberlangsungan tanaman padi.

Kondisi kekeringan tersebut menjadi perhatian karena sektor pertanian merupakan salah satu sumber penghidupan masyarakat Desa Pangiang. Jika kemarau berkepanjangan, bukan hanya produksi padi yang terancam, tetapi pola tanam dan sumber pendapatan petani juga ikut berubah.(*)

Laporan wartawan Tribun-Sulbar.com Taufan

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.