Animo Kuliah Seni Cukup Tinggi, Pendaftar ISI Yogyakarta Tahun Ini Capai 12.737 Orang
Muhammad Fatoni August 19, 2026 03:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Animo masyarakat untuk menempuh pendidikan seni di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta pada Tahun Akademik 2026/2027 terbilang tinggi.

Perguruan tinggi seni yang berada di Sewon, Kabupaten Bantul, tersebut mencatat jumlah pendaftar mencapai 12.737 orang.

Wakil Rektor Bidang Akademik dan Perencanaan (Wakil Rektor I) ISI Yogyakarta, Dewanto Sukistono, mengatakan proses penerimaan mahasiswa baru melalui berbagai jalur seleksi berjalan dengan lancar.

"Secara keseluruhan, jumlah pendaftar di ISI Yogyakarta mencapai 12.737 orang. Dari total pendaftar tersebut, calon mahasiswa yang dinyatakan diterima sebanyak 1.967 orang, dan yang melakukan registrasi ulang mencapai 1.899 orang," ujar Dewanto dalam Sidang Senat Terbuka Penerimaan Mahasiswa Baru, Rabu (19/8/2026).

Jalur Penerimaan Mahasiswa Baru

Dewanto menjelaskan, pendaftar berasal dari sejumlah jalur penerimaan. 

Pada jalur SNBP tercatat 3.486 pendaftar, sedangkan jalur SNBT mencapai 5.656 pendaftar.

Sementara itu, jalur mandiri mencatat 2.969 pendaftar.

Adapun untuk program pascasarjana, terdapat 365 pendaftar.

Jika dilihat berdasarkan jenjang pendidikan, pendaftar program sarjana (S1) mencapai 9.292 orang.

Dari jumlah tersebut, 1.489 orang dinyatakan diterima dan 1.454 orang melakukan registrasi ulang.

Untuk program sarjana terapan (D4), tercatat 3.019 pendaftar.

Sebanyak 363 orang diterima dan 348 orang melakukan registrasi ulang.

Sementara itu, program magister (S2) mencatat 365 pendaftar, dengan 95 orang diterima dan 79 orang melakukan registrasi ulang.

Sedangkan pada program doktor (S3), terdapat 61 pendaftar, 20 orang diterima, dan 18 orang melakukan registrasi ulang.

Baca juga: ISI Yogyakarta Soroti Tantangan Seniman di Era AI Lewat Pameran Narrating Humanity

Rektor ISI Yogyakarta, Irwandi, menyambut para mahasiswa baru dalam sidang senat terbuka. 

Ia menyebut para mahasiswa baru tersebut telah melewati persaingan yang cukup ketat sebelum akhirnya menjadi bagian dari keluarga besar ISI Yogyakarta.

"Selamat datang di kampus seni. Selamat datang di kampus seni tertua, terbesar, dan terbaik di Indonesia," ujar Irwandi.

Ia berpesan agar mahasiswa baru tidak menganggap kesempatan belajar di ISI Yogyakarta sebagai sesuatu yang biasa.

Menurutnya, kesempatan tersebut harus dipandang sebagai amanah sekaligus tantangan.

Mahasiswa tidak hanya dituntut belajar dan mengejar nilai, tetapi juga menghasilkan karya serta memiliki kemampuan untuk menciptakan peluang kerja.

Irwandi juga meminta mahasiswa tidak terlalu terkotak pada satu disiplin ilmu seni yang dipelajari.

Mereka perlu memiliki kemampuan berkolaborasi dan mengembangkan multikompetensi agar mampu menghadapi berbagai tantangan dan disrupsi.

"Kami menerima 1.900-an, hampir 2.000 mahasiswa baru tahun ini. Sehingga ini merupakan satu kabar baik, artinya minat mahasiswa belajar seni ini tetap ada, bahkan tumbuh," katanya.

Di sisi lain, ia mengatakan ISI Yogyakarta terus berupaya meningkatkan daya tampung mahasiswa.

Menurut Irwandi, mahasiswa ISI Yogyakarta juga berasal dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Aceh hingga Papua.

Keragaman tersebut menjadi salah satu kekuatan tersendiri bagi kampus seni tersebut.

"Seni yang plural," ujarnya.

Tantangan Seni di Tengah Perkembangan Teknologi

Namun demikian, dunia seni saat ini juga tengah menghadapi perkembangan teknologi, termasuk artificial intelligence (AI), Irwandi mengatakan ISI Yogyakarta tidak melarang mahasiswa menggunakan teknologi tersebut.

Namun, penggunaan AI tetap harus memperhatikan etika, kejujuran, dan atribusi.

Ia mengatakan kampus telah menyiapkan Peraturan Rektor mengenai penggunaan AI di lingkungan ISI Yogyakarta.

Aturan tersebut disebut telah selesai disusun dan tinggal menunggu proses penandatanganan serta publikasi.

Menurutnya, aturan tersebut tidak hanya menyasar penggunaan AI dalam penulisan akademik, tetapi juga proses penciptaan karya seni.

"Bagaimana ideasi, prototyping, dan eksekusinya itu sudah harus memperhatikan etika itu. Sekali lagi kita tidak melarang, tetapi menjaga etika dan ada atribusi. Ini kita minta kejujuran kepada yang menggunakan itu," katanya.

Irwandi juga mengingatkan mahasiswa baru mengenai visi ISI Yogyakarta yang harus menjadi pegangan selama menjalani pendidikan.

"Visi ISI Yogyakarta adalah menjadi pelopor perguruan tinggi seni nasional yang unggul, kreatif, inovatif, inklusif, berdasarkan Pancasila," pungkasnya.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.