TRIBUNKALTIM.CO, UJOH BILANG - Kemarau panjang membuat Sungai Mahakam di wilayah ibu kota Kabupaten Mahakam Ulu, surut drastis hingga memunculkan dasar sungai berbatuan dan jeram kecil.
Kondisi ekstrem ini justru dimanfaatkan warga setempat, salah satunya di daerah Long Bagun untuk memutar roda ekonomi melalui pendulangan emas, pencarian ikan, hingga bisnis pengangkutan air.
Seorang motoris taksi ketinting rute Long Bagun–Batu Majang, Thomas Aring Daung, menuturkan bahwa dangkalnya air sungai membuka peluang kerja baru bagi warga lokal.
Tingginya harga emas membuat sebagian besar masyarakat beralih profesi menjadi pendulang di sepanjang tepian sungai yang mengering.
"Itulah kita bilang kemaraunya yang kasih peluang kerja untuk masyarakat. Banyak yang mendulang ke sini cari emas," ujar Thomas, Selasa (18/8/2026).
Baca juga: Sungai Mahakam Surut, Pertamina Kirim 920 Tabung LPG ke Mahakam Ulu Lewat Jalur Alternatif
Selain berburu emas dan mencari ikan, warga juga memanfaatkan air sungai untuk mencuci dan mandi karena air sumur mulai tak layak pakai.
Momen ini dimanfaatkan sebagian warga untuk menjual air sungai dalam tandon seharga Rp120 ribu hingga Rp150 ribu per tong oren dengan kapasitas 1200 liter.
Meski membawa berkah ekonomi, surutnya sungai menghadirkan cobaan berat bagi sektor transportasi air dan pengangkutan material pasir.
Risiko kerusakan baling-baling kapal akibat membentur karangan batu terus mengintai para motoris, ditambah lonjakan biaya hidup akibat harga BBM jenis pertalite yang meroket hingga Rp16.000 per liter.
Kemarau tahunan yang melanda kawasan Hulu Mahakam beberapa waktu terakhir berdampak langsung pada melambungnya harga bahan pokok dan energi di Kecamatan Long Apari.
Surutnya alur Sungai Mahakam sebagai urat nadi logistik membuat biaya angkut membengkak hingga pasokan barang ke Mahakam Ulu terutama kawasan perbatasan tersebut turut terhambat.
Pantauan per 10 Agustus 2026 menunjukkan harga beras 25 kg kini menyentuh Rp750.000 per sak dari sebelumnya Rp550.000–Rp600.000, serta telur ayam naik drastis 133,3 persen menjadi Rp7.000 per butir.
Baca juga: Pemprov Kaltim Gerak Cepat Kirim Bantuan Bapokting ke Mahulu Imbas Sungai Mahakam Surut
Lonjakan serupa terjadi pada komoditas energi, di mana harga bensin eceran dan LPG 3 kg sama-sama meroket hingga 100 persen, masing-masing menembus Rp30.000 per liter dan Rp300.000 per tabung.
Sekretaris Daerah Kabupaten Mahakam Ulu, Stephanus Madang, menegaskan bahwa ketergantungan penuh pada akses sungai menjadikan kawasan perbatasan ini berada pada posisi yang sangat rentan.
"Long Apari menjadi wilayah yang paling perlu diantisipasi, karena stok BBM mulai menipis, harga kebutuhan pokok dan energi meningkat, sementara akses distribusi sangat bergantung pada jalur sungai yang saat ini mengalami penurunan muka air secara signifikan," katanya.
Analisis singkat pemerintah daerah menunjukkan bahwa tingginya harga komoditas di tingkat masyarakat murni dipicu oleh lonjakan biaya akses dan distribusi akibat dangkalnya sungai, bukan karena ketiadaan stok di wilayah bawah.
Sebagai tindak lanjut, Pemkab Mahulu menggelar Operasi Pasar Murah (OPM), memetakan armada kapal yang masih sanggup melintasi sungai dangkal, serta menyiapkan skema subsidi atau tambahan biaya angkutan darat-sungai secara bertahap. (*)