TERIK matahari seolah bukan lagi menjadi lawan bagi para buruh di Pelabuhan Manado, Sulawesi Utara.
Di tengah panas yang menyengat, mereka terus bergerak.
Memikul karung, mengangkat dus, lalu berjalan bolak-balik dari dermaga menuju kapal atau truk.
Seolah punya tiga paru-paru.
Napas mereka tetap teratur, sementara keringat terus membasahi tubuh mereka.
Pemandangan itu terlihat pada Rabu (19/8/2026) siang, sekitar pukul 13.30 WITA.
Siang itu, saya datang ke Pelabuhan Manado untuk mengirim barang di KM Permata Bunda tujuan Jailolo.
Begitu tiba di area dermaga, puluhan buruh sudah terlihat sibuk.
Tumpukan barang memenuhi sejumlah bagian pelabuhan.
Karung-karung berisi kopra menjadi salah satu barang yang paling banyak terlihat.
Sebagian buruh mengangkut barang masuk ke dalam kapal.
Sebagian lainnya justru mengeluarkan barang dari kapal untuk dipindahkan ke truk.
Mereka bekerja bergantian, nyaris tanpa jeda. Padahal, cuaca siang itu cukup ekstrem.
Langit terlihat cerah tanpa awan.
Matahari terasa menyengat dari atas, ditambah hawa panas yang terasa dari air laut.
Saya sendiri hanya membawa satu karung barang dari mobil menuju tempat penitipan.
Jaraknya bahkan tidak sampai 50 meter.
Namun, baru sekali berjalan, napas sudah terasa ngos-ngosan.
Berbeda dengan para buruh.
Jarak puluhan meter itu mereka tempuh berkali-kali sambil membawa beban yang tidak ringan.
Keringat membasahi tubuh mereka.
Saking panasnya, beberapa buruh bahkan memilih melepas baju saat bekerja.
Sebagian lainnya menutup kepala dengan kain atau benda seadanya untuk menghindari langsungnya sengatan matahari.
Ada pula yang mencoba mendinginkan tubuh dengan menikmati es yang dijual pedagang di sekitar pelabuhan.
Namun, waktu istirahat mereka tak lama.
Sambil menikmati es, mereka kembali bersiap mengangkat barang.
Mencari buruh untuk sekadar berbincang pun tidak mudah.
Semuanya terlihat sibuk.
Hingga akhirnya saya bertemu dengan Anto (45), seorang buruh yang sedang beristirahat bersama beberapa rekannya di atas kapal.
Anto mengenakan pakaian kerja buruh.
Bajunya terlihat sudah lama digunakan. Tulisan di bagian depan bahkan mulai memudar.
Ia baru saja selesai makan siang.
"Istirahat sedikit dulu," katanya sambil menikmati es lilin.
Anto mengaku sudah sekitar 20 tahun bekerja sebagai buruh di pelabuhan.
Baginya, mengangkat dan memindahkan barang dalam kondisi seperti itu sudah menjadi bagian dari keseharian.
"Hal begini sudah biasa," ujar dia sambil melihat ke arah rekan-rekannya yang masih bekerja.
Namun, menurut Anto, cuaca tetap menjadi tantangan paling berat.
Panas maupun hujan sama-sama menyulitkan pekerjaan.
"Kalau panas, apalagi hujan, susahnya minta ampun," katanya.
Ia kemudian menunjuk salah seorang rekannya.
Menurut Anto, rekannya itu pernah terjatuh ketika mengangkut barang ke dalam kapal.
Saat itu hujan membuat lantai dermaga menjadi licin.
"Teman saya yang ini sempat jatuh saat angkut barang ke dalam kapal. Di dermaga karena hujan, lantainya licin. Dia jatuh," ujar Anto sambil memperagakan kejadian tersebut.
Cerita itu justru diakhiri dengan tawa.
Mereka saling bercanda.
Tawa kecil menjadi cara sederhana untuk melepas penat setelah bekerja di bawah panas.
Namun, waktu istirahat kembali terhenti.
Seorang buruh memanggil mereka untuk mengangkut barang ke truk.
Anto pun meminta maaf karena harus kembali bekerja.
Bagi para buruh itu, pekerjaan tak mengenal terik.
"Maaf ya pak, sudah somo kerja lagi," Kata dia kemudian pergi.
Biasanya mereka mulai bekerja sejak pukul 08.00 WITA dan baru selesai pada sore hari.
Hari demi hari, mereka terus mengangkat beban yang sama.
Bagi sebagian orang, terik siang mungkin cukup untuk membuat tubuh menyerah.
Tetapi bagi buruh Pelabuhan Manado, panas hanyalah bagian lain dari pekerjaan yang harus ditaklukkan. (Pet)
WhatsApp Tribun Manado: Klik di Sini