TRIBUNNEWS.COM - Kebiasaan bekerja menggunakan laptop dari rumah, kafe, atau tempat lain memang membuat aktivitas kerja menjadi lebih fleksibel.
Namun, fleksibilitas tersebut juga perlu diimbangi dengan perhatian terhadap posisi tubuh dan meja kerja.
Ketika laptop diletakkan terlalu rendah.
Misalnya di atas meja yang tidak sesuai dengan tinggi tubuh, seseorang cenderung menundukkan kepala atau mempertahankan posisi lengan yang tidak ideal dalam waktu lama.
Kondisi tersebut bukan sekadar persoalan kenyamanan.
Posisi kerja yang kurang ergonomis dan dipertahankan terus-menerus dapat memberikan tekanan pada bagian tubuh tertentu, termasuk leher, bahu, lengan, hingga tangan.
Jika keluhan seperti kesemutan atau kebas mulai muncul dan terus diabaikan, gangguan pada saraf dapat berkembang menjadi kondisi yang lebih serius.
Hal tersebut dibahas dalam podcast YouTube Tribun Health bertajuk “Bukan Hanya Posisi Duduk, Meja Kerja yang Tak Ergonomis Bisa Meningkatkan Risiko Saraf Kejepit”.
Dalam podcast tersebut, Dokter Spesialis Neurologi RS Kasih Ibu Solo, Jawa Tengah, dr. Ema Ratna, Sp. N, menjelaskan bahwa posisi layar dan tubuh ketika bekerja menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan untuk mengurangi risiko gangguan saraf.
Menurut dr. Ema, pengaturan posisi laptop tidak boleh dianggap sepele, terutama bagi orang yang bekerja menggunakan komputer dalam waktu panjang.
Baca juga: Terlalu Lama Duduk saat Kerja Bisa Picu Saraf Kejepit, Dokter Ungkap Bagian Tubuh yang Paling Rentan
Layar yang terlalu rendah membuat kepala secara otomatis menunduk sehingga leher dan bagian tubuh lainnya dapat berada dalam posisi yang kurang ideal.
Ia menyarankan agar posisi mata dan layar komputer atau laptop dibuat sejajar.
Dengan pengaturan tersebut, posisi tangan juga diharapkan tidak terlalu tinggi maupun terlalu rendah saat mengetik.
“Posisi mata dengan layar komputer atau laptop itu sebaiknya sejajar," jelas dr. Ema kepada wartawan Tribun Health di Studio 5 Kantor Tribunnews Solo, Jawa Tengah, Senin (9/2/2026).
"Jadi harapannya kalau sejajar berarti otomatis posisi tangan kita kan juga tidak terlalu rendah atau terlalu tinggi gini ya karena nanti akan ngefeknya juga ke area lengan juga gitu," tambahnya.
Pengaturan meja kerja menjadi semakin penting bagi pekerja yang menerapkan Work From Home (WFH) maupun Work From Anywhere (WFA).
Berbeda dengan meja kantor yang umumnya telah disesuaikan dengan kebutuhan kerja, meja di rumah atau kafe belum tentu memiliki tinggi dan posisi yang mendukung postur tubuh.
Bekerja sesekali dari kafe dengan fasilitas meja yang kurang ideal pada dasarnya tidak langsung berarti akan mengalami saraf terjepit.
Persoalan muncul ketika posisi yang kurang baik tersebut dilakukan terus-menerus tanpa memberikan waktu bagi tubuh untuk beristirahat.
Menurut dr. Ema, durasi menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan.
Jika posisi tubuh yang tidak tepat berlangsung lama, tekanan terhadap bagian tubuh tertentu dapat semakin besar.
“Kalau memang itu berlangsung lama ya tentu tidak dianjurkan. Tapi kalau cuma untuk sewaktu-waktu misalkan pas nongkrong di kafe itu ya enggak masalah," tambahnya.
Karena itu, pekerja yang menggunakan laptop di berbagai tempat sebaiknya tidak hanya mempertimbangkan kenyamanan meja.
Tetapi juga memperhatikan apakah layar, kepala, punggung, serta lengan berada dalam posisi yang relatif baik.
Tubuh sebenarnya dapat memberikan tanda ketika posisi kerja mulai menimbulkan masalah.
Kesemutan, kebas, rasa tidak nyaman, atau sensasi tertentu pada bagian tubuh dapat menjadi sinyal yang sebaiknya tidak diabaikan.
Ketika tanda tersebut muncul, dr. Ema menyarankan untuk menghentikan aktivitas sejenak dan memberikan kesempatan bagi tubuh untuk rileks.
“Kalau sudah merasa ada warning-nya, ada alarmnya, mungkin merasa kesemutan atau sudah mulai kayak kebas-kebas, ya sudah rileks dulu, lepas dulu, santai," terangnya.
Artinya, seseorang tidak seharusnya memaksakan diri terus bekerja hanya karena pekerjaan belum selesai.
Mengubah posisi, beristirahat sejenak, dan kembali bekerja dengan postur yang lebih baik dapat menjadi langkah sederhana untuk mengurangi tekanan akibat posisi statis yang terlalu lama.
Gangguan saraf akibat posisi kerja tidak hanya berkaitan dengan leher atau punggung.
Bagian tangan juga dapat mengalami tekanan, terutama ketika posisi pergelangan atau lengan tidak baik dan dipertahankan dalam waktu lama.
Hal ini terkadang luput dari perhatian karena orang lebih sering menghubungkan saraf terjepit dengan rasa sakit pada leher atau pinggang.
Padahal, tekanan pada saraf di area tertentu dapat menimbulkan keluhan seperti kesemutan dan kebas hingga ke tangan.
dr. Ema menekankan bahwa kondisi tersebut cukup sering ditemukan ketika seseorang baru mencari pertolongan setelah keluhannya semakin berat.
“Karena ternyata tangan juga bisa terkena saraf kejepit. Itu sering banget," jelasnya.
Ia menjelaskan bahwa pada kondisi yang sudah berat, gangguan saraf bahkan dapat memengaruhi otot.
Salah satu gambaran yang disebutkan adalah ketika otot mulai mengecil akibat gangguan saraf yang berlangsung cukup lama.
“Ada derajatnya tuh sudah derajat yang 3, jadi mungkin sampai otot-ototnya mengecil. Nah itu berarti aliran sarafnya benar-benar macet, sudah kejerat total," ungkapnya.
Kebiasaan bekerja dari rumah atau berpindah-pindah tempat membuat pekerja perlu lebih mandiri dalam memastikan lingkungan kerjanya mendukung kesehatan tubuh.
Tidak harus menggunakan meja kantor khusus, tetapi posisi perangkat dan tubuh perlu disesuaikan agar tidak memberikan tekanan berlebihan.
Beberapa hal sederhana yang dapat diperhatikan antara lain:
Jika keluhan semakin sering, menetap, atau disertai kelemahan pada anggota tubuh, pertimbangkan untuk berkonsultasi dengan tenaga medis.
Pada akhirnya, bekerja secara fleksibel bukan berarti mengabaikan posisi tubuh.
Meja kafe atau meja rumah boleh digunakan sesekali, tetapi kebiasaan bekerja berjam-jam dengan posisi yang tidak sesuai sebaiknya dihindari.
Mengenali sinyal tubuh sejak awal juga penting agar keluhan tidak berkembang menjadi gangguan saraf yang lebih berat.
(Tribunnews.com/Farra)