BANGKAPOS.COM, BANGKA - Musim kemarau di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung saat ini masih dalam perjalanan menuju periode puncaknya.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan puncak musim kemarau di Bangka Belitung baru akan terjadi pada September 2026.
Prakirawan Iklim BMKG Bangka Belitung, Lulut Ajeng, mengatakan kondisi tersebut juga terlihat dari prediksi curah hujan dasarian.
Sebagian besar wilayah Pulau Bangka diprakirakan masih berada pada kategori curah hujan rendah, yakni sekitar 0–20 milimeter (mm) per dasarian.
"Untuk prediksi puncak musim kemarau di Bangka Belitung diprakirakan terjadi pada bulan September 2026. Jadi, saat ini masih menuju puncak musim kemarau," kata Lulut kepada Bangkapos.com, Rabu (19/8/2026).
Kondisi curah hujan yang rendah tersebut menunjukkan periode kering masih berpotensi berlanjut dalam beberapa pekan ke depan.
Dengan curah hujan yang relatif sedikit, kondisi lingkungan akan semakin kering sehingga kebutuhan masyarakat terhadap ketersediaan air perlu menjadi perhatian.
Menghadapi periode kering tersebut, BMKG mengimbau masyarakat mulai mengantisipasi keterbatasan air, terutama untuk kebutuhan sehari-hari.
Masyarakat diminta menggunakan air secara bijak dan memprioritaskannya untuk kebutuhan yang benar-benar penting.
"Untuk menghadapi musim kemarau ini, kami mengimbau masyarakat untuk menghemat dan menggunakan air secara bijak, terutama untuk kebutuhan yang benar-benar prioritas," kata Lulut.
Masyarakat juga diminta menyiapkan cadangan air sebagai langkah antisipasi apabila kondisi kering berlangsung lebih lama.
Selain persoalan ketersediaan air, BMKG turut mengingatkan masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama periode kemarau.
Warga diminta menghindari aktivitas pembakaran sampah maupun pembukaan lahan dengan cara membakar, karena kondisi lingkungan yang kering dapat membuat api lebih mudah menyebar.
BMKG mengajak masyarakat terus memantau perkembangan informasi cuaca dan iklim melalui kanal resmi BMKG, di antaranya media sosial @bmkg_babel, @infobmkgpkp, serta Papan Iklim Babel.
Informasi tersebut penting karena kondisi cuaca maupun potensi hujan dapat mengalami perubahan dari waktu ke waktu.
Sementara itu, Prakirawan Cuaca BMKG Bangka Belitung, Bimo Satria Nugroho, menjelaskan peluang hujan dalam periode menuju puncak kemarau juga cenderung kecil.
Menurut dia, kondisi atmosfer yang relatif kering disertai pola angin yang cenderung divergen atau menyebar membuat pertumbuhan awan hujan menjadi lebih sulit.
"Potensi hujan turun cukup kecil. Kelembapan udara yang relatif kering ditambah pola angin yang cenderung divergen membuat pertumbuhan awan hujan sulit terbentuk sehingga potensi terjadinya hujan juga kecil," ujar Bimo kepada Bangkapos.com, Rabu (19/8/2026).
Kalaupun hujan turun, Bimo menyebut potensi tersebut lebih banyak berada di wilayah bagian barat Pulau Bangka.
Hujan yang terjadi pun diprakirakan memiliki intensitas ringan, berdurasi singkat, serta tidak merata di seluruh wilayah.
"Kemungkinan hujan yang terjadi lebih ke arah barat dari Pulau Bangka, itu pun dengan intensitas yang sangat ringan, durasi yang singkat dan tidak merata," katanya.
BMKG mengingatkan masyarakat untuk tidak menganggap hujan sesaat sebagai tanda bahwa musim kemarau telah berakhir.
Sebab, secara klimatologis, Bangka Belitung masih menuju puncak musim kemarau yang diprakirakan berlangsung pada September.
(Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah)