Kenapa Pria yang Suka Nge-Gym Sering Dikaitkan dengan Homoseksual? Ini Kata dr Boyke
Nurul Hayati August 19, 2026 05:03 PM

SERAMBINEWS.COM - Anggapan bahwa pria yang gemar berolahraga di gym kerap dikaitkan dengan homoseksual menjadi salah satu topik yang disinggung dr Boyke dalam sebuah perbincangan di podcast.

dr Boyke menjelaskan, anggapan tersebut salah satunya muncul karena pria yang rutin nge-gym biasanya lebih memperhatikan bentuk tubuh dan penampilan fisiknya.

Menurutnya, pria yang sudah memiliki tubuh atletis dan berotot cenderung semakin percaya diri menunjukkan bentuk tubuhnya, termasuk melalui foto di media sosial.

"Karena badannya sudah bagus, dia akan mencari juga badannya yang bagus juga," ujar dr Boyke dikutip dari YouTube C8Revolution, Rabu (19/8/2026).

Ia kemudian menyinggung adanya kecenderungan sebagian pria untuk mendapatkan perhatian dari orang lain ketika memiliki bentuk tubuh yang dianggap ideal.

dr Boyke menyebut pria dengan tubuh kekar dan berotot, seperti memiliki otot bisep yang terlihat jelas atau perut six-pack, dapat lebih sering menjadi perhatian.

Baca juga: Mau Anak Laki-laki atau Perempuan? dr Boyke Ungkap Tipsnya, Ada Soal Pola Makan & Waktu Berhubungan

"Kalau narsis kan dikagumi sama orang-orang, badannya six-pack, otot-otot bisepnya keluar semua," katanya.

Namun, pernyataan tersebut tidak berarti bahwa pria yang rutin nge-gym atau memiliki tubuh atletis dapat langsung dikategorikan memiliki orientasi seksual tertentu.

Dalam perbincangan tersebut, dr Boyke juga sebelumnya menjelaskan soal anggapan pria dengan sifat lemah lembut.

Ia mengatakan hanya sebagian pria pembawaan demikian. Sementara sebagian lainnya justru aktif berolahraga dan pergi ke gym.

"Yang lemah lembut itu kan 10-15 persen, hanya 85 persen itu justru yang ke gym," ujarnya.

dr Boyke kemudian mengatakan perhatian terhadap pria bertubuh atletis tidak selalu datang dari perempuan.

Baca juga: Dr Boyke Ingatkan Bahaya Kanker yang Sering Datang Tanpa Disadari, Ajak Pria dan Wanita Vaksin HPV

Ia menyebut, dalam pandangannya, pria dengan tubuh kekar juga bisa mendapatkan perhatian dari sesama pria.

"Yang naksir itu kan sedikit perempuan, kebanyakannya justru yang laki-laki yang naksir," kata dr Boyke.

Di sisi lain, ia menyebut perempuan tidak selalu menjadikan bentuk tubuh sebagai faktor utama dalam memilih pasangan.

Menurutnya, ada perempuan yang lebih mempertimbangkan sikap dan kepribadian dibandingkan bentuk fisik.

"Yang penting dia baik dan normal," tuturnya.

Pernyataan Dokter Boyke tersebut menyoroti bagaimana penampilan fisik, kebiasaan berolahraga, dan persepsi masyarakat dapat memunculkan anggapan tertentu terhadap seseorang.

Namun, kebiasaan nge-gym maupun memiliki tubuh atletis pada dasarnya tidak dapat dijadikan indikator untuk menentukan orientasi seksual seseorang.

Kenapa Seseorang Mengalami LGBT?

Pada kesempatan berbeda, dr Boyke mengungkapkan bahwa dalam banyak kasus, kondisi orientasi seksual yang berbeda sering kali bersifat "gifted" atau pemberian yang sudah ada sejak lahir.

Hal ini didasari oleh curhatan banyak orang yang sudah merasakan perbedaan tersebut sejak usia dini, bahkan sejak duduk di kelas 3 atau 4 SD.

"Saya harus mengatakan bahwa ini gifted ya, jadi artinya kalau untuk menghindari itu sulit," ujar dr Boyke dikutip dari YouTube Sonora FM.

Penyebab yang Kompleks: Dari Hormon Ayam hingga Trauma

Mengapa seseorang bisa menjadi gay atau lesbian?

dr Boyke memaparkan faktor penyebabnya sangat beragam dan tidak bisa hanya menyalahkan keluarga.

Berikut adalah faktor-faktor pemicunya:

  • Faktor Prenatal (Sebelum Lahir): Terjadi ketidakseimbangan hormonal saat di dalam kandungan. Hal ini bisa dipengaruhi oleh konsumsi makanan seperti ayam yang disuntik hormon atau ibu yang tidak sengaja meminum pil KB saat ternyata sudah hamil
  • Psikologis Ibu: Tekanan ekonomi, stres berkepanjangan saat hamil, hingga baby blues syndrome setelah melahirkan turut berpengaruh
  • Trauma Masa Kecil: Pengalaman pahit seperti pelecehan seksual, menjadi korban perundungan (bully), hingga mengalami KDRT secara verbal (sering dimarahi orang tua) bisa menjadi pemicu seseorang berubah orientasi
  • Dinamika Keluarga: Anak laki-laki yang terlalu dekat dengan ibunya (kurang figur ayah) atau anak perempuan yang terlalu dekat dengan ayahnya juga menjadi salah satu faktor yang diakui dalam teori psikologi.

Lantas, Bisakah Kembali "Normal"?

Bagi mereka yang merasa tersiksa dan ingin kembali ke orientasi heteroseksual, dr Boyke menegaskan bahwa hal tersebut membutuhkan motivasi yang sangat kuat dan sesi konsultasi yang cukup panjang.

Meskipun mendekatkan diri kepada agama adalah langkah yang baik, dr  Boyke mengakui bahwa hal tersebut terkadang tidak serta-merta menghilangkan keinginan atau dorongan seksual yang sudah ada sejak kecil.

Menanggapi adanya kasus-kasus viral yang memicu hujatan hingga membuat pelaku merasa tertekan dan ingin bunuh diri, dr Boyke memberikan pesan menyentuh.

"Langkah yang pertama adalah jangan untuk bunuh diri," tegasnya.

Ia mengimbau agar mereka yang memiliki orientasi berbeda tetap bisa mengontrol diri.

Yang terpenting, menurut dr Boyke, adalah memahami batasan agama dan tidak melakukan tindakan yang merugikan orang lain.

"Yang penting jangan sampai Anda memengaruhi orang lain atau mencari korban untuk menjadi pasangan Anda," tutupnya. (Serambinews.com/Firdha)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.