Indonesia Hadapi Tantangan Kemandirian Teknologi AI Nasional
Choirul Arifin August 19, 2026 07:20 PM

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Penggunaan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) di Indonesia terus meluas, mulai dari kebutuhan personal, pengembangan aplikasi, bisnis hingga pemerintahan.

Pemerintah mencatat tingkat adopsi AI Indonesia mencapai 92 persen pada Februari 2026.

Tingginya penggunaan tersebut membuat tantangan nasional tidak lagi sebatas meningkatkan adopsi, tetapi juga membangun kemampuan untuk mengembangkan, mengelola dan memanfaatkan AI secara mandiri.

Founder Onno Center, Onno W. Purbo, menilai kemandirian teknologi perlu dibangun melalui pengembangan teknologi terbuka dan perluasan akses terhadap AI.

Menurut Onno, penguasaan teknologi tidak cukup hanya dengan menjadi pengguna.

Komunitas dan industri di dalam negeri membutuhkan akses serta tata kelola agar AI dapat dikembangkan dan dimanfaatkan sesuai kebutuhan Indonesia.

"Inisiatif ini sejalan dengan misi kami di Onno Center untuk terus mendorong kemandirian teknologi terbuka. Pemuda.ai memberikan akses dan tata kelola token yang sangat dibutuhkan oleh komunitas dan industri di Indonesia," ujar Onno di acara soft launching Pemuda.ai yang digagas Prominence di Jakarta, Rabu (18/8/2026).

Dikatakannya, seiring meningkatnya penggunaan AI, kebutuhan komputasi (compute) juga bertambah. 

"Setiap permintaan kepada model AI membutuhkan proses inference, sementara model dan aplikasi dengan beban kerja lebih besar membutuhkan kapasitas komputasi yang lebih tinggi," katanya.

Baca juga: Teknologi AI Picu Pergeseran Cara Pandang Anak Muda terhadap Karier dan Uang

Director & Founder Prominence Edi Sugianto mengatakan kondisi tersebut membuat pengelolaan penggunaan AI semakin penting bagi developer dan perusahaan.

Dalam layanan AI generatif, penggunaan komputasi antara lain berkaitan dengan token, yakni satuan yang digunakan model untuk memproses masukan dan menghasilkan keluaran.

"Token dapat digunakan untuk memproses pertanyaan, konteks percakapan, dokumen maupun respons AI. Semakin banyak dan kompleks permintaan yang diproses, semakin besar pula konsumsi token," kata Edi.

Bagi developer dan perusahaan, konsumsi tersebut berkaitan dengan kebutuhan mengendalikan penggunaan, kapasitas komputasi dan biaya operasional ketika AI digunakan dalam skala besar.

Baca juga: AI Voice Agent Mulai Dilirik untuk Otomatisasi Layanan Bisnis 

Menurut Edi, kebutuhan tersebut menjadi salah satu alasan pengembangan layanan Token-as-a-Service (TaaS) melalui Pemuda.ai.

"Melalui soft launching Pemuda.ai dan layanan Token-as-a-Service, kami hadir untuk dapat menjawab kebutuhan developer serta enterprise dalam pengelolaan ekosistem AI secara efisien di Indonesia," katanya.

Kolaborasi Prominence dan Onno Center juga diarahkan pada pengembangan use case, riset dan edukasi AI untuk kebutuhan masyarakat dan industri. Prominence menjadwalkan grand launching Pemuda.ai pada 28 Oktober 2026, bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda.

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.