PILU Rumah Pasangan Lansia Tinggal Puing Gegara Puting Beliung, Ketakutan Seng Terbang Kena Leher
Septrina Ayu Simanjorang August 19, 2026 09:54 PM

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Pilu rumah pasangan lansia tinggal puing gegara puting beliung.

Ia pun ketakutan seng terbang kena leher.

Pasangan Lanjut Usia (Lansia) warga Kecamatan Suka Maju, Kecamatan Medan Johor, Kota Medan, menjadi salah satu dari 150 keluarga yang menjadi korban bencana angin puting beliung.

Baca juga: MOMEN Menegangkan Tiang Listrik Tumbang Timpa Warung, Pemilik Nyaris Jadi Korban, Terlindung Meja

Akibat bencana yang terjadi pada Selasa (18/8/2026) malam, membuat rumah yang selama ini dihuni oleh Nurbaiti dan suaminya ini rubuh. 

Di tengah tubuh rentanya, Nurbaiti bercerita malam tadi merupakan malam yang panjang bagi dirinya dan sang suami.

Bagaimana tidak, di tengah kondisi yang sudah senja ia harus menghadapi bencana yang akhirnya merubuhkan rumah yang semalama ini menjadi saksi hidupnya bersama sang suami. 

Baca juga: Kasus Ledakan Maut di Komplek Grand Polonia Medan Naik ke Penyidikan, Polisi Tetapkan Tersangka

Sedikit bergetar, nenek berusia 73 tahun itu menceritakan kesaksiannya yang hampir menjadi korban dalam bencana angin puting beliung malam tadi.

Saat angin kencang melanda daerah rumahnya, ia sempat melihat tanda-tanda runahnya akan rubuh hingga akhirnya ia bersama suaminya memutuskan untuk menyelamatkan diri. 

Nahas, saat akan keluar rumah dengan niat menyelamatkan diri wanita renta ini malah tertimpa balok kayu di bagian pundaknya.

Baca juga: BMKG Prediksi Cuaca Ekstrem di Sumut Bertahan Seminggu ke Depan

Sedangkan sang suami, sempat tertimpa balok di bagian kepalanya. Beruntung, setelah dicoba digeser balok kayu itu berhasil disingkirkan hingga akhirnya ia dan suaminya bisa keluar rumah. 

"Waktu kejadian itu kan, nenek mau keluar, enggak bisa. Ini nenek (pundak) ketimpa balok broti, ya Allah. Seng-sengnya pun sudah jatuh pas nenek mau keluar. Terus nenek keluar ke kanal itu," ujar Nurbaiti, Rabu (19/8/2026). 

Setelah berhasil keluar rumah, ia melihat banyak material rumah warga yang beterbangan akibat disapu angin kencang.

Karena posisi semakin menekam, ia melihat rumah tetangganya dalam kondisi terbuka akhirnya ia dan sang suami memutuskan menumpang berteduh. 

"Ya Allah, ya Allah. Terbang-terbang seng, takut nenek kena leher. Jadi rumah Ibu itu yang ada motornya itu kan, terus situ buka. Lari lah nenek ke rumahnya, masuk. Pak, numpang sini, aku berteduh," katanya. 

Baca juga: Wacana Perubahan Status PPPK, Pemko Siantar Bisa Hemat Rp 75 Miliar Per Tahun

Sambil mengingat apa yang dialaminya malam tadi, nenek Nurbaiti mengaku saat akan menyelamatkan diri ia sempat terombang-ambing terbawa kencangnya hembusan angin.

Dalam kondisi hujan dan angin kencang, tubuh rentanya itu tak lagi mampu menahan dingin guyuran air hujan bercampur angin itu. 

"Duduk sini lah, kata dia di situ. Duduklah nenek tuh. Selamatlah nenek, Nak. Udah, udah capek nenek kan capek lah nenek," katanya. 

Setelah angin berangsur-angsur berhenti, Nurbaiti masih belum bisa melihat secara jelas keadaan rumahnya karena kondisi listrik yang padam.

Baca juga: Wacana Perubahan Status PPPK, Pemko Siantar Bisa Hemat Rp 75 Miliar Per Tahun

Namun, pada pagi tadi ia yang kembali melihat kondisi rumahnya sontak kaget karena keadaan rumahnya yang sudah porak-poranda rubuh tersapu angin malam tadi. 

"Baru tadi pagi nenek tengok, udah habis kali. Ya Allah, memang kuasa dari Allah. Masih ada nyawa dikasihnya," ucapnya. 

Nurbaiti mengaku, sebelumnya suaminya bekerja sebagai penarik becak sedangkan dirinya berjualan di pasar.

Namun, karena keadaan tubuh yang tak lagi mampu bekerja berat kini ia hanya bisa mengandalkan penghasilan dari anaknya yang bekerja sebagai buruh bangunan di luar kota. 

Ia bercerita, keadaan malam tadi cukup mencekam dimana kondisi lampu yang padam dan sebagian material rumahnya yang berjatuhan.

Bahkan, saat akan menyelamatkan diri ia dan suaminya harus berjuang keras karena jalan keluar yang sudah tertutup material bangunan runahnya. 

Tak lagi memikirkan harta benda, Nurbaiti yang saat itu hanya memikirkan keselamatan dirinya dan sang suami bahkan tak sempat mengenakan alas kaki ketika keluar rumah. 

Baca juga: Pemko Binjai Tawarkan Rusunawa untuk Korban Kebakaran yang Hanguskan Enam Unit Rumah

"Enggak ada mikir-mikir harta, itu enggak ada lah. Memang harta nenek enggak ada. Tapi mikirkan keselamatan ajalah, nenek. Jadi apa, gitu, terbang seng lagi, enggak sanggup nenek, lagi takut kena leher apa gitu kan," ungkapnya. 

Wanita yang tinggal di kawasan tersebut sejak tahun 1993 ini mengaku, beberapa waktu sebelumnya juga sempat terjadi peristiwa serupa.

Namun, kondisinya tak separah malam tadi yang menerbangkan sejumlah material rumah dan juga hingga menumbangkan tiang listrik. 

Usai kejadian ini, dirinya berharap kepada Pemerintah Kota Medan agar dapat segera menyalurkan bantuan kepada seluruh korban terdampak termasuk dirinya yang menjadi korban terparah.

Ia mengaku, masih ingin tetap tinggal di rumahnya yang kini hanya menyisakan dinding batu setinggi satu meter itu. 

(mns/tribun-medan.com)

 

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.