TRIBUNJOGJA.COM - Upaya memperkenalkan nilai-nilai budaya Yogyakarta kepada generasi anak melalui media bermain terus dikembangkan. Melalui Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) yang didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), tim pengabdi dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dan Universitas Ahmad Dahlan (UAD) melaksanakan program pengembangan Alat Permainan Edukatif (APE) dengan mengangkat tema Sumbu Filosofis Yogyakarta.
Program yang dilaksanakan pada Juli–Agustus 2026 ini melibatkan Arsianti Latifah (UNY), Dwi Retno Sri Ambarwati (UNY), Novan Edo Pratama (UNY), Raden Wisnu Wijaya D (UAD), dan beberapa mahasiswa. Kegiatan dilaksanakan melalui rangkaian sosialisasi, workshop literasi budaya, serta pendampingan dalam menciptakan APE yang mengintegrasikan nilai-nilai filosofis dan budaya Yogyakarta.
Dalam pelaksanaannya, tim pengabdi menggandeng UD. Dedi Jaya sebagai mitra kegiatan. UD. Dedi Jaya merupakan pelaku industri APE yang telah berdiri sejak tahun 2000 di Pedan, Klaten, Jawa Tengah. Keterlibatan mitra menjadi bagian penting dalam proses pengembangan inovasi karena UD. Dedi Jaya memiliki pengalaman dalam produksi APE sekaligus menjadi ruang untuk menerapkan hasil perancangan dan pendampingan secara langsung pada konteks industri kreatif.
Rangkaian kegiatan dilaksanakan pada 2 Juli, 23 Juli, dan 15 Agustus 2026. Kegiatan diawali dengan sosialisasi program untuk membangun pemahaman mengenai pentingnya literasi budaya serta potensi Sumbu Filosofis Yogyakarta sebagai sumber ide kreatif dalam pengembangan media edukasi anak.
Selanjutnya, peserta mendapatkan workshop literasi yang membahas makna dan nilai filosofis Sumbu Filosofis Yogyakarta. Materi diarahkan untuk memahami keterkaitan unsur-unsur penting dalam Sumbu Filosofis, mulai dari Gunung Merapi, Tugu Yogyakarta, Keraton Yogyakarta, Panggung Krapyak, hingga Laut Selatan, sebagai bagian dari identitas dan tata nilai budaya Yogyakarta.
“Pengembangan APE tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan produk permainan, tetapi juga menjadi sarana untuk mentransformasikan nilai budaya ke dalam bentuk yang dekat dengan dunia anak. Dengan pendekatan bermain, nilai-nilai budaya dapat dikenalkan secara lebih kontekstual, menarik, dan menyenangkan,” ujar Arsianti Latifah, ketua tim pengabdi.
Tahap berikutnya berupa pendampingan desain dan pengembangan APE. Tim pengabdi bersama UD. Dedi Jaya melakukan eksplorasi konsep visual, penyusunan narasi permainan, perancangan bentuk, serta pengembangan mekanika permainan agar sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan anak. Pendampingan juga diarahkan untuk mempertemukan aspek konseptual budaya dengan aspek teknis produksi APE sehingga inovasi yang dikembangkan tetap memiliki nilai edukatif sekaligus memungkinkan untuk diproduksi.
Dalam proses pendampingan, mitra didorong untuk mengembangkan desain APE secara modular sehingga dapat diproduksi dan dikembangkan secara berkelanjutan. Pengembangan tersebut sekaligus membuka peluang bagi penguatan kreativitas dan inovasi UD. Dedi Jaya dalam menghasilkan produk APE berbasis budaya lokal.
Tim pengabdi menilai bahwa integrasi budaya lokal ke dalam APE memiliki potensi strategis untuk memperkuat literasi budaya sejak usia dini. Anak tidak hanya memperoleh pengalaman bermain, tetapi juga dapat mengenal ruang, simbol, cerita, dan nilai filosofis yang menjadi bagian dari identitas Yogyakarta.
Program PISN ini diharapkan menghasilkan inovasi seni yang dapat dimanfaatkan sebagai media edukasi sekaligus menjadi model pengembangan produk kreatif berbasis budaya. Ke depan, hasil pendampingan akan terus dikembangkan melalui proses penyempurnaan desain, pembuatan prototipe, uji coba permainan, serta optimalisasi produksi bersama mitra.
Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri kreatif, program ini diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata terhadap pelestarian budaya Nusantara melalui inovasi desain dan pengembangan produk kreatif, sekaligus memperkuat kapasitas UD. Dedi Jaya sebagai mitra dalam pengembangan APE berbasis budaya lokal.