Oleh: Muh, Iqbal Latief
Dosen Sosiologi Unhas/Chairman “Muhil Kelana” Foundation
TRIBUN-TIMUR.COM - Peringatan 81 tahun kemerdekaan Republik Indonesia, beberapa hari yang lalu memiliki makna simbolik yang mendalam.
Rasa Syukur sebagai bangsa yang merdeka tumpah ruah dengan beragam seremoni yang menandai peringatan 17 Agustus tahun ini.
Namun, terkadang ada keinginan besar untuk berintrospeksi.
Seakan kita ingin bertanya kembali, betulkah kita sudah Merdeka?
Kalau definisi merdeka itu adalah bebas dari penghambaan, penjajahan atau belenggu dari pihak tertentu, mungkin secara hukum dan politik kita sudah merdeka, tapi jika terminologi merdeka, ada aksentuasi pada kesanggupan untuk berdiri sendiri dan tidak bergantung pada orang atau pihak lain, mungkin ini yang masih butuh dialog yang panjang.
Realitas sosiologis memperlihatkan bahwa kendati pun kita sudah menikmati 81 tahun kemerdekaan, namun masih banyak rakyat kita yang belum mampu berdiri sendiri dan mereka ini yang disebut rakyat miskin.
Bahkan dalam terminologi pembangunan, dijumpai ada rakyat yang miskin ekstrim (orang atau kelompok yang sudah tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya tanpa intervensi negara atau kelompok lain), dan ini jumlahnya lumayan banyak.
Kalau dalam hitungan bank dunia dengan indikator tertentu, maka jumlah orang miskin di negara tercinta ini lebih dari 100 juta penduduk.
Namun dengan perhitungan BPS (Badan Pusat Statistik), jumlah orang miskin di negeri “Gemah Ripah Loh Jinawi" (yang tentram, makmur dan sangat subur tanahnya) berkisar kurang lebih 29 juta penduduk.
Walaupun berbeda datanya, tapi keduanya menggambarkan bahwa kemiskinan masih menjadi masalah serius di “Bumi Pertiwi” justru di saat usia Indonesia sudah tidak muda lagi bahkan sudah masuk fase lansia (ukuran demografis).
Dalam hitungan para ekonom yang selalu muncul dalam diskusi, mestinya tidak ada orang miskin di negeri tercinta.
Sumber daya alam yang melimpah, dibawah dan di atas tanah, dilaut dan digunung, juga diudara, adalah karunia Tuhan Yang Maha Esa untuk bangsa Indonesia.
Kalau hari ini, masih dijumpai banyak orang miskin – maka kebanyakan dari kita akan menuding bahwa akibat dari salah urus dalam mengelola sumber daya alam.
Asing dan Aseng, masih mencengkram kuat dalam tata Kelola kekayaan alam kita.
Itulah sebabnya, saat ini masih dijumpai banyak pengemis jalanan, anak-anak dieksploitasi jadi peminta-minta bahkan penyandang disabilitas cenderung dijadikan alat memelas untuk memenuhi kebutuhan perut (makan).
Setragis inikah kehidupan masyarakat miskin dan marjinal kita?
Bisakah kita suatu hari nanti melihat, kemiskinan benar-benar hilang di Indonesia?
Rakyat menampakkan wajahnya yang sumringah, bahagia dan rukun karena mampu berdiri sendiri dan tidak lagi tunduk oleh kepentingan para penjajah gaya baru (kapitalis).
Keprihatinan yang mendalam, kalau para elit di negeri ini – masih berfikiran untuk memelihara kemiskinan agar tetap ada sehingga eksploitasi terhadap orang miskin bisa dilanggengkan.
Disadari bahwa merdeka bagi orang miskin secara hukum dan politik sudah terpenuhi, namun secara ekonomi belum terwujud sepenuhnya.
Secara konstitusi, setiap warga negara memiliki hak yang sama untuk merdeka, Tetapi kemiskinan menjadi belenggu yang membatasi pilihan hidup, akses dan kesempatan seseorang.
Analogi yang pas adalah kita Merdeka tetapi masih miskin.
Namun satu hal pasti dan selalu terpatri dalam diri kita sebagai warga negara adalah “jangan pernah lelah mencintai Indonesia".
Selamat Ultah bangsaku, dekapanmu selalu membuat rasa cinta yang tak pernah lekang.(*)