10 Contoh Laporan Perjalanan di Sumatera Barat-Padang Menggunakan Kalimat Efektif dan Majas Metafora
Nolpitos Hendri August 20, 2026 12:29 AM

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Berikut 10 contoh laporan perjalanan menarik ke tempat wisata atau ke tempat bersejarah di Sumatera Barat - Padang dalam bentuk narasi atau karangan menggunakan kalimat efektif dan majas metafora untuk kunci jawaban Bahasa Indonesia kelas 4 halaman 146 147 soal Menulis Bab 6 Satu Titik dalam buku paket Kurikulum Merdeka terbitan Kemendibudristek edisi revisi 2023 .

Baca juga: 10 Contoh Laporan Perjalanan Menarik ke Tempat Wisata dan Tempat Bersejarah di Sumatera Utara-Medan

Bab 6 Satu Titik

Soal : 

Bahas Bahasa

Majas Metafora

Majas adalah kiasan. Majas metafora adalah kiasan yang menggunakan kata atau kelompok kata yang bukan arti sebenarnya untuk menggambarkan sesuatu. Kata atau kelompok kata tersebut memiliki persamaan atau perbandingan dengan kata yang diwakilinya.

Berikut ini kalimat yang menggunakan majas metafora dalam teks “AnakAnak Merapi”.

1. Beberapa tahun lalu, wedhus gembel menjadi buah bibir orang-orang di Indonesia.
Arti buah bibir sebenarnya : bahan pembicaraan

2. Wedhus gembel membabi buta, menghanguskan apa saja yang dilaluinya.
Arti membabi buta sebenarnya : menerjang tanpa memilih

3. “Abu dan lava yang dikeluarkan itu baik untuk menyuburkan tanah,” Ratna angkat bicara.
Arti angkat bicara sebenarnya : mulai berbicara atau memberi pendapat

4. Mereka meminta Panji berlapang dada menerima kenyataan itu.
Arti berlapang dada sebenarnya : sabar

5. Mendung menyelimuti wajah Panji ketika dia teringat sapi kesayangannya.
Arti mendung sebenarnya : sedih

Menulis

Apa
Siapa
Mengapa
Dimana
Kapan
Bagaimana

Laporan Perjalanan

Kamu tentu pernah melakukan perjalanan ke suatu tempat untuk berwisata atau keperluan lainnya. Kegiatan itu dapat kamu tuangkan dalam bentuk laporan perjalanan.

Apakah laporan perjalanan itu? Laporan perjalanan adalah tulisan yang berisi hasil dari kunjungan atau perjalanan ke suatu tempat. Laporan perjalanan berisi fakta atau informasi berdasarkan pengamatan atau pengalaman orang yang melakukan perjalanan. Laporan perjalanan harus ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Laporan perjalanan dapat dituliskan dalam bentuk narasi atau karangan. Kamu tentu masih ingat ADiKSiMBa (apa, di mana, kapan, siapa, mengapa, bagaimana). Unsur-unsur di dalam laporan perjalanan harus dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Sekarang, ingat-ingatlah perjalanan menarik yang pernah kamu lakukan. Lalu, buatlah laporan perjalanan dalam bentuk narasi atau karangan. Tuliskan karanganmu dengan memulai dari bagian awal yang menarik, diikuti bagian tengah yang seru, ditutup dengan bagian akhir yang juga menarik. Jangan lupa gunakan kalimat efektif dan majas metafora yang telah kalian pelajari.

Gunakan kerangka karangan berikut untuk memudahkan kamu bekerja.

Judul : 

Awal (1 paragraf)

Ceritakan nama dan waktu perjalanan yang dilakukan (apa dan kapan), orang yang ikut dalam perjalanan (siapa), dan untuk apa perjalanan itu dilakukan (mengapa).

Tengah (2—3 paragraf)

Ceritakan proses perjalanannya (bagaimana). Kamu dapat menceritakan kendaraan yang digunakan, berapa lama waktu yang diperlukan, dan suasana perjalanannya. Kalau kamu mengetahui biaya-biaya dalam perjalanan tersebut, kamu dapat mencantumkannya. Ceritakan suka duka yang dialami selama perjalanan atau saat sampai di tujuan. Ceritakan pula hal-hal yang dijumpai atau dilakukan di tempat tujuan.

Akhir (1 paragraf)

Sampaikan kesan yang kamu dapat dari perjalanan ini. Kamu juga dapat menyampaikan rencana atau saran untuk perjalanan selanjutnya. Misalnya, “Kalau berkunjung ke tempat ini, sebaiknya membawa payung.”

Kunci jawaban : 

Berikut contoh jawaban menulis laporan perjalanan menarik yakni 10 contoh laporan perjalanan menarik ke tempat wisata atau ke tempat bersejarah di Sumatera Barat - Padang dalam bentuk narasi atau karangan menggunakan kalimat efektif dan majas metafora dalam bentuk narasi atau karangan menggunakan kalimat efektif dan majas metafora : 

1. Laporan Perjalanan ke Jam Gadang, Bukittinggi
Judul: Menyapa Sang Penjaga Waktu di Jantung Bukittinggi

Pada awal bulan Juni, saat embun masih membasahi dedaunan, aku bersama kedua orang tuaku berangkat menuju Jam Gadang, ikon kebanggaan Sumatera Barat yang berdiri gagah di jantung Kota Bukittinggi. Perjalanan ini kami lakukan untuk mengisi libur sekolah sekaligus menyaksikan langsung saksi bisu perjalanan waktu yang namanya terukir bagai emas di lembaran sejarah tanah Minangkabau.

Kami menempuh perjalanan menggunakan bus antarkota yang bergerak perlahan membelah jalan berkelok bagai unta yang berjalan tenang menembus bukit hijau. Perjalanan dari Padang memakan waktu sekitar tiga jam dengan biaya tiket sebesar Rp65.000 per orang. Di sepanjang jalan, hamparan sawah bagai permadani hijau terbentang luas menyambut pandangan, sementara bukit-bukit berjejer rapi bagai prajurit yang menjaga kedamaian tanah kelahirannya.

Sesampainya di depan bangunan megah itu, Jam Gadang tampak menjulang tinggi bagai raksasa yang tak pernah lelah menjaga perjalanan waktu. Atapnya yang berbentuk runcing melengkung bagai tanduk kerbau yang menjadi lambang kebanggaan masyarakat Minang, berdiri tegak menyapa langit biru yang bersih tanpa noda sedikit pun.

Kami melangkah mendekat dengan penuh rasa kagum bagai anak kecil yang memasuki negeri dongeng. Angka-angka pada papan jam yang besar tampak jelas bagai jendela waktu yang terbuka lebar, seakan berbisik menceritakan kisah masa lampau yang tak lekang oleh waktu. Kami berkeliling di sekeliling bangunan itu, menyaksikan setiap sudut yang bagai lembaran kitab terbuka bercerita tentang kejayaan masa lalu.

Di bawah bayang-bayang menara jam, kami juga menikmati suasana pasar yang ramai dan hangat bagai pelukan kerabat lama. Udara segar berhembus lembut menyapa wajah, membawa aroma khas tanah dataran tinggi yang sejuk dan menenangkan hati. Kami berjalan perlahan, membiarkan setiap detik yang berlalu tersimpan rapi di dalam dada bagai butiran mutiara yang berharga.

Menjelang sore, saat matahari mulai turun perlahan, bayangan menara jam memanjang bagai tangan yang melambai menyambut kedatangan senja. Kami berpamitan meninggalkan tempat itu dengan hati yang penuh dan pikiran yang jernih bagai air mata yang jernih mengalir membasahi pipi yang bahagia.

Jam Gadang bukan sekadar penunjuk waktu, melainkan jantung yang terus berdetak menyimpan kenangan masa lalu. Jika kamu berkunjung ke sini, sebaiknya datanglah pagi hari agar dapat menikmati setiap sudut bangunan dengan tenang tanpa terik matahari yang membakar kulit, dan bawalah topi agar kepala terlindung dari panas yang sesekali menyengat bagai jarum halus di siang hari.

2. Laporan Perjalanan ke Pantai Padang
Judul: Di Bawah Peluk Ombak Pantai Padang

Pada pertengahan bulan Juli, aku dan kedua sahabatku melangkah beriringan menuju Pantai Padang yang terbentang indah di tepi Samudera Hindia. Perjalanan ini kami lakukan bukan sekadar untuk melepas penat, melainkan untuk menyaksikan sendiri keindahan pantai yang bagai permata berkilauan terpasang indah di bahu pulau Sumatera yang subur.

Kami menempuh perjalanan menggunakan kendaraan umum yang melaju tenang menyusuri jalan kota yang mulus bagai permadani yang terhampar rapi. Perjalanan memakan waktu sekitar tiga puluh menit dari pusat kota dengan biaya perjalanan sebesar Rp15.000 per orang. Di sepanjang jalan, pepohonan rindang bagai barisan penjaga yang menyambut kedatangan kami dengan senyum ramah dan sejuk yang menenangkan hati.

Sesampainya di tepian pantai, hamparan pasir putih bagai tepung sagu yang bersih menyambut langkah kaki. Air laut yang berwarna biru pekat tampak menyatu dengan langit bagai dua lembar kain yang dijahit menjadi satu tanpa batas yang tampak oleh mata, memancarkan keagungan ciptaan Yang Maha Kuasa yang tak terhingga.

Ombak datang berlarian bagai anak-anak yang riang berlari menyapa tepian, lalu mundur kembali perlahan membawa serta butiran pasir bagai memeluk bumi dengan kasih sayang yang tak terhingga. Kami berjalan menyusuri pantai yang panjang bagai jalan tak berujung, membiarkan air laut menyentuh kaki yang terasa sejuk dan segar bagai disiram air murni yang menyejukkan kerongkongan yang haus.

Kami juga duduk bersantai menikmati semilir angin laut yang berhembus lembut membelai wajah bagai sentuhan kasih sayang seorang ibu. Sambil menikmati pemandangan matahari yang mulai condong ke barat, kami mencicipi kuliner khas pantai yang rasanya lezat dan segar bagai madu yang dicampur dengan air jernih yang menyejukkan segenap raga.

Saat matahari terbenam perlahan, langit berwarna jingga keemasan bagai kain sutra yang dilukis dengan tangan ahli yang penuh seni. Kami pulang membawa kenangan indah yang tersimpan rapi di dalam dada bagai harta berharga yang tak akan pudar dimakan waktu dan tak akan hilang dimakan zaman yang terus berjalan.

Pantai Padang sungguh menyisakan kenangan manis bagai madu yang tak mudah hilang rasanya dari lidah. Jika kamu berkunjung ke sini, sebaiknya bawalah alas kaki yang nyaman dan perlengkapan mandi, serta jangan lupa membawa payung atau topi agar terik matahari tidak membakar kulit bagai tanah yang retak di musim kemarau yang panjang.

3. Laporan Perjalanan ke Danau Maninjau, Agam
Judul: Melayang di Atas Cermin Biru Danau Maninjau

Pada awal bulan Agustus, aku beserta keluarga besar berkunjung ke Danau Maninjau yang tersembunyi indah di dataran tinggi Kabupaten Agam. Perjalanan ini kami lakukan untuk menikmati keindahan danau yang konon airnya jernih bagai cermin raksasa yang diletakkan Tuhan di tengah pelukan bukit-bukit hijau yang menjulang gagah.

Kami menempuh perjalanan menggunakan mobil keluarga yang melaju perlahan menembus jalan berkelok yang dikenal sebagai kelok empat puluh empat. Jalan itu berliku-liku bagai ular yang melilit bukit hijau yang subur, memakan waktu sekitar dua jam dari Bukittinggi dengan biaya bahan bakar dan tiket masuk sebesar Rp30.000 per orang. Di sepanjang jalan, pemandangan lembah yang dalam dan hijau bagai lautan hijau yang bergoyang tertiup angin menyambut pandangan mata kami.

Sesampainya di tepian danau, hamparan air yang tenang dan berwarna biru pekat tampak bagai cermin raksasa yang memantulkan bayangan bukit-bukit dan langit biru tanpa cela sedikit pun. Angin berhembus lembut menyapu permukaan air yang beriak tipis bagai kain sutra yang digerakkan tangan halus, menciptakan pemandangan yang bagai lukisan alam yang tak tertandingi keindahannya.

Kami berkeliling menyusuri tepian danau yang asri dan tenang bagai hati yang damai tanpa beban. Perkampungan penduduk yang tersusun rapi di tepian danau tampak bagai manik-manik yang tersusun indah di sekeliling permata biru yang berharga, menampilkan kehidupan yang sederhana namun penuh dengan kedamaian dan kebahagiaan.

Kami juga menaiki perahu kecil yang bergerak perlahan membelah air danau yang jernih bagai kaca bening tanpa cela. Dari tengah danau, pemandangan bukit-bukit yang mengelilingi air tampak semakin megah dan memukau bagai pelukan hangat yang melindungi ketenangan danau dari gangguan dunia luar yang sibuk dan bising.

Menjelang sore, kabut tipis mulai turun menyelimuti permukaan air bagai kain sutra putih yang menutupi wajah keindahan yang mulai terlelap. Kami berpamitan pulang membawa kesegaran yang meresap hingga ke dalam tulang bagai air yang meresap ke dalam tanah menyuburkan kehidupan yang tumbuh subur di atas bumi yang diberkahi Tuhan.

Danau Maninjau adalah anugerah alam yang menyejukkan jiwa raga bagai hujan yang turun di musim kemarau yang panjang. Jika kamu berkunjung ke sini, sebaiknya bawalah jaket tebal karena udara di sekitar danau terasa dingin bagai sentuhan embun pagi yang menyelimuti dedaunan, serta berhati-hatilah saat melintasi kelok empat puluh empat yang berkelok dan menanjak tajam.

4. Laporan Perjalanan ke Lembah Harau, Lima Puluh Kota
Judul: Di Antara Dinding Batu Raksasa Lembah Harau

Pada hari Sabtu pertengahan bulan Agustus, aku bersama paman dan sepupu berangkat menuju Lembah Harau yang dikenal sebagai negeri dongeng di Sumatera Barat. Perjalanan ini kami lakukan untuk menyaksikan langsung keindahan lembah yang dikelilingi tebing batu raksasa yang menjulang gagah bagai dinding istana raksasa yang terbuat dari batu alam yang kokoh dan abadi.

Kami menempuh perjalanan menggunakan sepeda motor yang melaju membelah angin segar bagai burung yang terbang rendah menyusuri lembah hijau. Perjalanan dari Padang memakan waktu sekitar empat jam dengan biaya tiket masuk sebesar Rp20.000 per orang. Di sepanjang jalan, pemandangan bukit hijau dan sawah yang membentang luas bagai permadani hijau yang tak bertepi terus mengiringi langkah kami.

Sesampainya di mulut lembah, tebing-tebing batu raksasa tampak menjulang tinggi ke angkasa bagai dinding penyangga langit yang kokoh dan tak tergoyahkan. Tebing-tebing itu berdiri berhadapan bagai dua raksasa yang saling berpeluk memeluk lembah hijau yang subur di dalamnya, menciptakan suasana yang megah dan penuh dengan keagungan ciptaan Tuhan.

Di dalam lembah, air terjun jatuh dari ketinggian tebing bagai tirai putih yang terhampar luas dari langit ke bumi. Air yang jatuh itu jernih dan sejuk bagai air yang baru saja turun dari langit, membasahi bumi dan menyuburkan ribuan tanaman hijau yang tumbuh subur bagai anak-anak yang tumbuh sehat di bawah asuhan kasih sayang Yang Maha Kuasa.

Kami berjalan menyusuri sungai yang airnya jernih dan mengalir tenang bagai aliran kehidupan yang terus berjalan tanpa henti. Suara gemuruh air terjun dan kicauan burung yang riang menyatu menjadi irama musik alam yang merdu menenangkan jiwa, membuat segala lelah perjalanan perlahan luruh terbawa arus air yang mengalir tenang menuju kejauhan.

Menjelang siang, kami berpamitan meninggalkan lembah yang masih tampak hijau dan asri bagai surga kecil yang jatuh ke bumi. Kami pulang membawa kekaguman yang mendalam bagai lautan yang tak bertepi, menyadari betapa kecilnya diri di hadapan kebesaran dan kemuliaan Yang Maha Pencipta yang menciptakan segala sesuatu dengan indah dan sempurna.

Lembah Harau adalah keajaiban alam yang sungguh luar biasa dan memukau hati setiap yang memandangnya. Jika kamu berkunjung ke sini, sebaiknya kenakan alas kaki yang kokoh dan tidak licin karena jalan di sekitar air terjun basah dan licin bagai lantai yang dilapisi lumut halus, serta bawalah jaket karena udara di dalam lembah terasa sejuk dan segar sepanjang hari.

5. Laporan Perjalanan ke Istana Basa Pagaruyung, Tanah Datar
Judul: Jejak Kejayaan di Atas Singgasana Pagaruyung

Pada awal bulan September, aku beserta teman-teman sekelas dan guru pembimbing berkunjung ke Istana Basa Pagaruyung yang berdiri megah di tanah dataran tinggi Tanah Datar. Perjalanan ini kami lakukan sebagai bagian dari tugas sejarah, untuk melihat langsung peninggalan Kerajaan Pagaruyung yang namanya bersinar terang bagai bintang yang bersinar terang di langit malam yang gelap gulita.

Kami menaiki bus sekolah yang melaju tenang menyusuri jalan berkelok bagai aliran sungai yang berkelok namun tetap mengalir menuju tujuannya. Perjalanan dari Padang memakan waktu sekitar tiga jam tanpa biaya tiket masuk karena merupakan kunjungan resmi sekolah. Sepanjang perjalanan, kami berbincang dengan gembira bagai kawanan burung yang terbang beriringan menuju sarang kebahagiaannya di atas puncak pohon yang tinggi.

Sesampainya di lokasi, istana yang megah dan indah tampak bagai istana peri yang tiba-tiba muncul dari dalam hutan hijau yang rimbun. Atapnya yang berlapis-lapis dan melengkung bagai tanduk kerbau yang berdiri tegak menyapa langit, memancarkan keagungan dan ketinggian seni budaya masyarakat Minangkabau yang tak tertandingi keindahannya di sepanjang masa.

Kami melangkah masuk ke halaman istana dengan penuh rasa hormat bagai memasuki istana tempat bertahta kebenaran dan kebijaksanaan para raja masa lampau. Dinding-dinding istana yang penuh dengan ukiran indah dan lukisan khas Minang bagai lembaran kitab terbuka yang bercerita tentang kebijaksanaan dan kemakmuran yang pernah tumbuh subur di tanah ini bagai pohon yang berbuah lebat di musim panen.

Di dalam ruangan istana, kami menyaksikan berbagai benda peninggalan yang tersusun rapi bagai permata berharga yang dijaga dengan penuh kesabaran dan kasih sayang. Setiap ruangan dan setiap sudut seakan berbisik menceritakan kisah-kisah luhur tentang keadilan dan kebijaksanaan para raja yang pernah memerintah dengan penuh kasih sayang bagai ayah yang mengasihi anak-anaknya.

Saat kunjungan selesai, kami keluar dari istana dengan hati yang kagum dan pikiran yang penuh bagai bejana yang meluap dengan rasa syukur atas warisan luhur nenek moyang. Langkah kaki terasa mantap dan penuh semangat bagai langkah prajurit yang kembali berjuang membawa bekal ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan yang tak ternilai harganya bagi masa depan bangsa.

Istana Basa Pagaruyung adalah jendela emas yang membuka pandangan kami tentang masa lalu yang gemilang dan penuh kemuliaan. Jika kamu berkunjung ke sini, sebaiknya datanglah pagi hari agar dapat menikmati keindahan ukiran dan arsitektur istana dengan tenang, serta berbicara dengan suara pelan agar tidak mengganggu ketenangan suasana yang bagai perpustakaan tempat ilmu pengetahuan tumbuh dan berkembang biak.

6. Laporan Perjalanan ke Kawasan Ngarai Sianok, Bukittinggi
Judul: Lembah Dalam yang Menyimpan Ribuan Rahasia Alam

Pada pertengahan bulan September, aku bersama ayah dan ibu berangkat menuju Ngarai Sianok yang menjadi kebanggaan Kota Bukittinggi. Perjalanan ini kami lakukan untuk menyaksikan langsung keindahan lembah dalam yang membelah daratan bagai pedang raksasa yang membelah bumi menjadi dua bagian yang sama indahnya, menyuguhkan pemandangan yang tak terlupakan seumur hidup.

Kami menempuh perjalanan menggunakan kendaraan pribadi yang melaju tenang menyusuri jalan kota yang mulus bagai permadani yang terhampar rapi. Perjalanan memakan waktu sekitar tiga jam dari Padang dengan biaya tiket masuk sebesar Rp15.000 per orang. Di sepanjang jalan menuju tepi ngarai, udara semakin sejuk dan segar bagai air yang baru saja diambil dari mata air pegunungan yang jernih dan murni.

Sesampainya di tepi Ngarai Sianok, pemandangan yang terbentang di hadapan mata sungguh luar biasa memukau. Tebing-tebing batu yang curam dan menjulang tinggi berdiri berhadapan bagai dua dinding raksasa yang memeluk lembah hijau yang subur di dasarnya, menciptakan pemandangan yang bagai lukisan alam yang tak tertandingi keindahannya oleh tangan manusia manapun.

Di dasar lembah yang dalam itu, sungai berkelok mengalir tenang bagai pita perak yang melilit lembut di tengah hamparan hijau yang luas. Kabut tipis sesekali melayang-layang di antara tebing-tebing batu yang tinggi bagai kain sutra putih yang melambai lembut menyapa wajah keindahan yang tampak semakin mempesona dan penuh dengan rahasia alam yang agung dan maha dahsyat.

Kami berdiri terpaku memandang ke bawah, menyadari betapa dalam dan megahnya ciptaan Tuhan yang terhampar di hadapan mata kami. Hati terasa tenang dan damai bagai air danau yang tenang tanpa riak sedikit pun, seakan segala beban dan lelah perjalanan turun perlahan bersama kabut yang turun menyelimuti dasar lembah yang hijau dan asri.

Menjelang sore, saat matahari mulai condong ke barat, bayangan tebing-tebing memanjang menjangkau kejauhan bagai tangan yang melambai menyambut kedatangan malam. Kami pulang membawa kesan mendalam yang tersimpan rapi di dalam dada bagai harta berharga yang tak akan pudar dimakan waktu dan tak akan hilang dimakan zaman yang terus berjalan.

Ngarai Sianok adalah keajaiban alam yang sungguh luar biasa dan mengajarkan kami tentang kebesaran Tuhan. Jika kamu berkunjung ke sini, sebaiknya berhati-hatilah saat berdiri di tepi jurang yang dalam dan curam, serta bawalah jaket tebal karena angin yang berhembus di tepi ngarai terasa dingin dan kencang bagai sentuhan angin yang datang dari puncak gunung yang tinggi.

7. Laporan Perjalanan ke Pantai Air Manis, Padang
Judul: Di Tempat Malin Kundang Berubah Menjadi Batu

Pada awal bulan Oktober, aku bersama kakak perempuan berangkat menuju Pantai Air Manis yang terletak tak jauh dari pusat Kota Padang. Perjalanan ini kami lakukan untuk berwisata sekaligus melihat langsung batu yang konon merupakan perwujudan tokoh legendaris Malin Kundang, yang kisahnya bagai pelajaran berharga yang tak lekang oleh waktu bagi setiap anak yang berbakti kepada orang tua.

Kami menempuh perjalanan menggunakan taksi yang melaju tenang menyusuri tepian laut yang berkelok indah bagai aliran kasih sayang yang tak pernah putus. Perjalanan memakan waktu sekitar dua puluh menit dari pusat kota tanpa biaya tiket masuk. Di sepanjang jalan, angin laut berhembus segar menyapa wajah bagai sapuan lembut yang membawa aroma garam dan keagungan samudera yang luasnya tak terukur oleh pandangan mata.

Sesampainya di tepian Pantai Air Manis, ombak yang besar datang berkejaran bagai anak-anak yang riang berlari menyapa tepian dengan penuh semangat dan kegembiraan. Di kejauhan, batu-batu besar yang menyerupai sosok manusia dan perahu tampak berdiri kokoh bagai saksi bisu yang tak pernah berhenti bercerita tentang kisah masa lampau yang penuh dengan pesan moral yang mendalam dan berharga.

Kami berjalan mendekat menuju batu yang dipercaya sebagai sosok Malin Kundang, memandangnya dengan penuh rasa haru dan kekaguman. Batu itu berdiri kokoh membelai ombak yang datang silih berganti bagai orang yang terus bertobat dan memohon ampun di tepian laut yang luasnya tak terhingga, mengingatkan kami agar senantiasa berbakti kepada orang tua bagai menjaga biji mata di tengah siang yang terik.

Kami duduk di tepian pasir sambil mendengarkan suara ombak yang berdebam bagai orang yang bercerita dengan suara lantang namun penuh kelembutan. Kisah yang tersimpan di tempat ini bagai tinta emas yang tak mudah pudar di atas lembaran hati, mengajarkan kami bahwa kasih sayang orang tua bagai samudera yang tak bertepi, sedangkan durhaka kepada mereka bagai membakar jembatan kehidupan yang tak akan pernah bisa dibangun kembali.

Menjelang matahari terbenam, langit berwarna jingga memantul di permukaan air yang berkilauan bagai hamparan emas yang tersebar di atas permadani biru yang luas. Kami pulang membawa pesan berharga yang tertanam rapi di dalam hati bagai benih yang ditanam di tanah subur agar tumbuh menjadi pohon yang rindang dan bermanfaat bagi sesama.

Pantai Air Manis bukan sekadar tempat indah memandang laut, melainkan tempat penuh pesan berharga yang mengingatkan kami akan kasih sayang orang tua. Jika kamu berkunjung ke sini, sebaiknya berhati-hatilah karena ombak terkadang datang besar dan berbahaya bagai raksasa yang bangun dari tidurnya, serta jangan lupa membawa air minum karena angin laut yang kering dapat membuat kerongkongan terasa kering bagai tanah yang retak tak disiram hujan.

8. Laporan Perjalanan ke Masjid Raya Sumatera Barat, Padang
Judul: Cahaya Iman yang Bersinar di Atas Permukaan Bumi Minang

Pada hari Jumat pertengahan bulan Oktober, aku beserta ayah berkunjung ke Masjid Raya Sumatera Barat yang berdiri megah di tepian Danau Sipin, Kota Padang. Perjalanan ini kami lakukan untuk melaksanakan ibadah sekaligus menyaksikan keindahan arsitektur masjid yang merupakan perpaduan sempurna antara seni budaya Minangkabau dan kemuliaan nilai-nilai keimanan yang bersumber dari hati yang tulus.

Kami menempuh perjalanan menggunakan kendaraan pribadi yang melaju tenang menyusuri jalan kota yang ramai namun tetap tertib bagai air sungai yang mengalir tenang menuju muara. Perjalanan memakan waktu sekitar dua puluh menit dari pusat kota tanpa biaya tiket masuk. Di sepanjang jalan, kami disambut suasana kota yang asri dan damai bagai perkampungan yang penuh dengan kedamaian dan kebahagiaan yang sederhana namun bermakna.

Sesampainya di depan masjid, bangunan megah itu tampak bagai istana dari negeri dongeng yang tiba-tiba muncul di tepian danau yang tenang. Atapnya yang melengkung indah menyerupai tanduk kerbau bagai lambang kebanggaan masyarakat Minang, berdiri tegak menyapa langit dengan penuh keagungan dan kemuliaan yang memancarkan cahaya iman yang menyejukkan hati setiap yang memandangnya.

Kami melangkah masuk ke halaman masjid dengan hati yang tenang dan penuh rasa hormat bagai memasuki tempat yang disucikan oleh berkah Tuhan Yang Maha Esa. Halaman yang luas dan bersih bagai lembaran putih yang terbentang luas, menyambut setiap langkah kaki yang datang membawa harapan dan doa yang tulus dari lubuk hati yang paling dalam dan suci.

Di dalam ruang utama masjid, suasana yang sejuk dan damai langsung menyelimuti hati bagai berada di bawah naungan pohon rindang yang meneduhkan jiwa dan raga. Cahaya matahari yang menembus celah jendela tampak bagai berkas-berkas cahaya iman yang menerangi jalan kehidupan di tengah malam yang gelap gulita, membuat hati yang gelisah menjadi tenang dan damai bagai air danau yang tenang tanpa riak sedikit pun.

Setelah selesai beribadah, kami berpamitan meninggalkan masjid dengan hati yang penuh kedamaian bagai hati anak yang mendapat pelukan kasih sayang dari ibunya yang tulus. Cahaya iman yang terpancar dari masjid ini seakan ikut kami bawa pulang bagai lentera yang menyala terang menerangi jalan kehidupan yang kami tempuh setiap hari.

Masjid Raya Sumatera Barat adalah perpaduan sempurna antara keindahan seni dan kemuliaan iman yang menyejukkan jiwa. Jika kamu berkunjung ke sini, sebaiknya datanglah dengan hati yang tenang dan pakaian yang sopan sebagai tanda penghormatan terhadap tempat ibadah yang mulia ini, serta bawalah air minum agar tetap segar dan nyaman sepanjang waktu beribadah dan berkeliling.

9. Laporan Perjalanan ke Pantai Carocok, Pesisir Selatan
Judul: Permata Tersembunyi di Tepian Pesisir Selatan

Pada awal bulan November, aku bersama keluarga besar berangkat menuju Pantai Carocok yang tersembunyi indah di Kabupaten Pesisir Selatan. Perjalanan ini kami lakukan untuk menikmati keindahan pantai yang airnya jernih dan tenang bagai cermin bening yang memantulkan keindahan langit dan bumi, tempat di mana ketenangan dan keindahan menyatu bagai jiwa dan raga yang tak terpisahkan.

Kami menempuh perjalanan menggunakan mobil keluarga yang melaju perlahan menyusuri jalan tepian laut yang berkelok indah bagai pita perak yang melilit lembut di tepi samudera. Perjalanan dari Padang memakan waktu sekitar empat jam dengan biaya tiket masuk sebesar Rp25.000 per orang. Di sepanjang jalan, pemandangan laut yang biru dan bukit hijau yang saling berpeluk menciptakan suasana yang bagai lukisan alam yang tak lekang oleh waktu.

Sesampainya di tepian Pantai Carocok, pasir putih yang halus dan bersih menyambut langkah kaki bagai tepung sagu yang lembut menyentuh kulit dengan penuh kelembutan. Air laut yang jernih dan tenang bagai kaca bening tanpa cela, memantulkan bayangan langit biru dan pulau-pulau kecil yang berdiri gagah di tengah samudera bagai permata hijau yang terhampar di atas kain biru yang luas dan indah.

Kami menaiki perahu kecil menuju pulau-pulau kecil yang berdekatan bagai anak-anak yang berkerumun di dekat ibunya. Di sana, air laut yang jernih memungkinkan kami melihat dasar laut yang berpasir putih dan berhias terumbu karang yang indah bagai taman bunga yang tumbuh di dasar samudera yang sejuk dan teduh. Ikan-ikan berenang riang di antara karang bagai bunga-bunga yang bergerak tertiup angin lembut.

Kami juga beristirahat di bawah naungan pohon-pohon rindang yang tumbuh subur di tepian pantai bagai payung besar yang meneduhkan jiwa dan raga dari terik matahari. Sambil menikmati angin laut yang berhembus sejuk dan segar, kami menikmati hidangan ikan bakar yang segar dan lezat bagai anugerah yang diberikan alam kepada kami yang datang berkunjung dengan hati yang gembira dan tulus.

Menjelang sore, saat matahari mulai turun perlahan, pantai berubah warna menjadi keemasan bagai dilapisi emas murni yang berkilauan diterpa cahaya senja yang lembut. Kami pulang membawa kenangan indah yang tersimpan rapi di dalam dada bagai harta berharga yang tak akan pudar dimakan waktu dan tak akan hilang dimakan zaman yang terus berjalan.

Pantai Carocok adalah permata tersembunyi yang sungguh indah dan menyejukkan hati setiap yang memandangnya. Jika kamu berkunjung ke sini, sebaiknya bawalah perlengkapan berenang dan tabir surya agar kulit terlindung dari terik matahari, serta jangan lupa membawa alas kaki yang nyaman untuk berjalan di atas pasir yang halus namun kadang berbatu tajam tersembunyi di baliknya.

10. Laporan Perjalanan ke Danau Diatas dan Danau Dibawah, Solok
Judul: Dua Permata Kembar yang Terhampar di Atas Bukit

Pada hari libur akhir bulan November, aku bersama kedua orang tuaku berangkat menuju Danau Diatas dan Danau Dibawah yang terletak berdampingan di dataran tinggi Kabupaten Solok. Perjalanan ini kami lakukan untuk menyaksikan sendiri keajaiban alam berupa dua danau kembar yang terhampar indah bagai dua permata berwarna biru yang diletakkan berdampingan di atas permadani hijau yang luas dan subur.

Kami menempuh perjalanan menggunakan bus antarkota yang melaju perlahan menanjak menyusuri jalan berkelok bagai unta yang berjalan tekun menuju puncak bukit yang tinggi. Perjalanan dari Padang memakan waktu sekitar empat jam dengan biaya tiket sebesar Rp75.000 per orang. Di sepanjang jalan, udara semakin sejuk dan segar bagai air yang baru saja diambil dari mata air pegunungan yang jernih dan murni, menyambut kami seketika menghapus rasa lelah perjalanan.

Sesampainya di tepian Danau Diatas, hamparan air yang luas dan berwarna biru pekat tampak bagai cermin raksasa yang memantulkan bayangan bukit-bukit hijau dan langit biru yang bersih tanpa noda. Di kejauhan, tampak pula Danau Dibawah yang terhampar di ketinggian yang lebih rendah bagai adik yang duduk tenang di samping kakaknya yang menjaga dengan penuh kasih sayang dan kelembutan.

Kami berjalan menyusuri tepian danau yang asri dan tenang bagai hati yang damai tanpa beban. Air danau yang jernih beriak lembut tertiup angin bagai kain sutra halus yang digerakkan tangan lembut, menciptakan pantulan cahaya yang berkilauan bagai ribuan intan yang bertebaran di atas permukaan air yang tenang dan jernih. Perkampungan penduduk yang tersusun rapi di tepian danau tampak bagai manik-manik yang menghiasi pinggiran dua permata biru yang berharga itu.

Kami juga menaiki perahu kecil yang bergerak perlahan membelah permukaan air yang tenang bagai pisau yang membelah sutra halus. Dari tengah danau, pemandangan bukit-bukit yang mengelilingi air tampak semakin megah dan memukau bagai pelukan hangat yang melindungi ketenangan danau dari gangguan dunia luar yang sibuk dan bising. Hati terasa damai dan bahagia bagai anak kecil yang bermain riang di pelukan kasih sayang orang tuanya.

Menjelang sore, kabut tipis mulai turun menyelimuti permukaan air dan bukit-bukit di sekelilingnya bagai kain sutra putih yang menutupi wajah keindahan yang mulai terlelap. Kami pulang membawa kesegaran dan kedamaian yang meresap hingga ke dalam tulang bagai air yang meresap ke dalam tanah menyuburkan kehidupan yang tumbuh subur di atas bumi yang diberkahi Tuhan Yang Maha Kuasa.

Danau Diatas dan Danau Dibawah adalah dua permata kembar yang sungguh luar biasa keindahannya dan menyejukkan jiwa raga. Jika kamu berkunjung ke sini, sebaiknya bawalah jaket tebal karena udara di kawasan danau terasa sangat dingin bagai sentuhan es yang baru saja diambil dari dalam perut bumi, serta berhati-hatilah saat berjalan di tepian danau yang licin dan berbahaya.

Demikian 10 contoh laporan perjalanan menarik ke tempat wisata atau ke tempat bersejarah di Sumatera Barat - Padang dalam bentuk narasi atau karangan menggunakan kalimat efektif dan majas metafora untuk kunci jawaban Bahasa Indonesia kelas 4 halaman 146 147 soal Menulis Bab 6 Satu Titik dalam buku paket Kurikulum Merdeka terbitan Kemendibudristek edisi revisi 2023 .

( Tribunpekanbaru.com / Pitos Punjadi )

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.