10 Contoh Laporan Perjalanan ke Kepulauan Riau Menggunakan Kalimat Efektif dan Majas Metafora
Nolpitos Hendri August 20, 2026 01:18 AM

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Berikut 10 contoh laporan perjalanan menarik ke tempat wisata atau ke tempat bersejarah di Kepulauan Riau - Tanjung Pinang dalam bentuk narasi atau karangan menggunakan kalimat efektif dan majas metafora untuk kunci jawaban Bahasa Indonesia kelas 4 halaman 146 147 soal Menulis Bab 6 Satu Titik dalam buku paket Kurikulum Merdeka terbitan Kemendibudristek edisi revisi 2023 .

Baca juga: 10 Contoh Laporan Perjalanan di Riau - Pekanbaru Menggunakan Kalimat Efektif dan Majas Metafora

Bab 6 Satu Titik

Soal : 

Bahas Bahasa

Majas Metafora

Majas adalah kiasan. Majas metafora adalah kiasan yang menggunakan kata atau kelompok kata yang bukan arti sebenarnya untuk menggambarkan sesuatu. Kata atau kelompok kata tersebut memiliki persamaan atau perbandingan dengan kata yang diwakilinya.

Berikut ini kalimat yang menggunakan majas metafora dalam teks “AnakAnak Merapi”.

1. Beberapa tahun lalu, wedhus gembel menjadi buah bibir orang-orang di Indonesia.
Arti buah bibir sebenarnya : bahan pembicaraan

2. Wedhus gembel membabi buta, menghanguskan apa saja yang dilaluinya.
Arti membabi buta sebenarnya : menerjang tanpa memilih

3. “Abu dan lava yang dikeluarkan itu baik untuk menyuburkan tanah,” Ratna angkat bicara.
Arti angkat bicara sebenarnya : mulai berbicara atau memberi pendapat

4. Mereka meminta Panji berlapang dada menerima kenyataan itu.
Arti berlapang dada sebenarnya : sabar

5. Mendung menyelimuti wajah Panji ketika dia teringat sapi kesayangannya.
Arti mendung sebenarnya : sedih

Menulis

Apa
Siapa
Mengapa
Dimana
Kapan
Bagaimana

Laporan Perjalanan

Kamu tentu pernah melakukan perjalanan ke suatu tempat untuk berwisata atau keperluan lainnya. Kegiatan itu dapat kamu tuangkan dalam bentuk laporan perjalanan.

Apakah laporan perjalanan itu? Laporan perjalanan adalah tulisan yang berisi hasil dari kunjungan atau perjalanan ke suatu tempat. Laporan perjalanan berisi fakta atau informasi berdasarkan pengamatan atau pengalaman orang yang melakukan perjalanan. Laporan perjalanan harus ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Laporan perjalanan dapat dituliskan dalam bentuk narasi atau karangan. Kamu tentu masih ingat ADiKSiMBa (apa, di mana, kapan, siapa, mengapa, bagaimana). Unsur-unsur di dalam laporan perjalanan harus dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Sekarang, ingat-ingatlah perjalanan menarik yang pernah kamu lakukan. Lalu, buatlah laporan perjalanan dalam bentuk narasi atau karangan. Tuliskan karanganmu dengan memulai dari bagian awal yang menarik, diikuti bagian tengah yang seru, ditutup dengan bagian akhir yang juga menarik. Jangan lupa gunakan kalimat efektif dan majas metafora yang telah kalian pelajari.

Gunakan kerangka karangan berikut untuk memudahkan kamu bekerja.

Judul : 

Awal (1 paragraf)

Ceritakan nama dan waktu perjalanan yang dilakukan (apa dan kapan), orang yang ikut dalam perjalanan (siapa), dan untuk apa perjalanan itu dilakukan (mengapa).

Tengah (2—3 paragraf)

Ceritakan proses perjalanannya (bagaimana). Kamu dapat menceritakan kendaraan yang digunakan, berapa lama waktu yang diperlukan, dan suasana perjalanannya. Kalau kamu mengetahui biaya-biaya dalam perjalanan tersebut, kamu dapat mencantumkannya. Ceritakan suka duka yang dialami selama perjalanan atau saat sampai di tujuan. Ceritakan pula hal-hal yang dijumpai atau dilakukan di tempat tujuan.

Akhir (1 paragraf)

Sampaikan kesan yang kamu dapat dari perjalanan ini. Kamu juga dapat menyampaikan rencana atau saran untuk perjalanan selanjutnya. Misalnya, “Kalau berkunjung ke tempat ini, sebaiknya membawa payung.”

Kunci jawaban : 

Berikut contoh jawaban menulis laporan perjalanan menarik yakni 10 contoh laporan perjalanan menarik ke tempat wisata atau ke tempat bersejarah di Kepulauan Riau - Tanjung Pinang dalam bentuk narasi atau karangan menggunakan kalimat efektif dan majas metafora : 

1. Laporan Perjalanan ke Situs Bukit Candi, Tanjung Pinang
Judul: Menyusuri Jejak Sejarah yang Terukir di Bukit Candi

Pada awal bulan Juni, saat angin laut berhembus lembut menyapa bumi, aku bersama kedua orang tuaku berangkat menuju Situs Bukit Candi, peninggalan bersejarah yang berdiri tenang di kawasan Tanjung Pinang. Perjalanan ini kami lakukan untuk mengisi libur sekolah sekaligus menyaksikan langsung jejak peradaban masa lampau yang namanya terukir bagai batu prasasti yang tak lekang oleh waktu di lembaran sejarah Kepulauan Riau.

Kami menempuh perjalanan menggunakan kendaraan pribadi yang melaju perlahan menanjak menyusuri jalan berkelok bagai ular yang melilit bukit hijau yang rimbun. Perjalanan dari pusat kota memakan waktu sekitar dua puluh lima menit dengan suasana yang sejuk dan tenang. Di sepanjang jalan, pepohonan rindang berjejer rapi bagai barisan penjaga yang menyambut kedatangan kami dengan sejuk yang meneduhkan jiwa dan raga.

Sesampainya di lokasi, reruntuhan bangunan kuno yang terbuat dari batu-batu kokoh tampak bagai saksi bisu yang berdiri tegak meski diterjang waktu ratusan tahun. Batu-batu yang tersusun rapi seakan bercerita tentang kebesaran kerajaan yang pernah bertahta di tanah ini, berdiri kokoh bagai gunung yang tak mudah goyah meski diterjang badai dan hujan sepanjang masa.

Kami berjalan mendekat dengan penuh rasa hormat bagai menghadap leluhur yang penuh kebijaksanaan. Setiap batu yang kami lihat seakan menyimpan rahasia masa lampau yang mendalam bagai samudera yang luasnya tak terukur, membuat kami berdiri terpaku memandang betapa tingginya peradaban yang pernah tumbuh subur di tanah ini bagai pohon besar yang menaungi ribuan makhluk hidup.

Dari puncak bukit, pemandangan laut yang biru dan hamparan kota tampak terbentang luas bagai lukisan alam yang tak tertandingi. Angin berhembus kencang namun sejuk, membawa aroma garam dan keagungan samudera yang seakan ikut bercerita tentang perjalanan waktu yang terus berjalan bagai air sungai yang tak pernah berhenti mengalir menuju muara yang kekal.

Menjelang sore, saat matahari mulai turun perlahan, bayangan reruntuhan candi memanjang bagai tangan leluhur yang melambai menyambut kedatangan senja. Kami berpamitan meninggalkan tempat itu dengan hati yang penuh dan pikiran yang jernih bagai air laut yang jernih setelah ombak tenang, menyadari bahwa warisan leluhur ini adalah permata berharga yang wajib dijaga sepanjang masa.

Situs Bukit Candi bukan sekadar tumpukan batu, melainkan jendela masa lalu yang menerangi jalan masa depan. Jika kamu berkunjung ke sini, sebaiknya kenakan alas kaki yang kokoh dan berhati-hatilah saat melangkah di atas batu yang licin dan berlumut, serta bawalah air minum agar tetap segar saat menapaki jejak sejarah di bawah sinar matahari yang hangat.

2. Laporan Perjalanan ke Pulau Penyengat, Tanjung Pinang
Judul: Permata Kecil yang Menyimpan Ribuan Kisah Agung

Pada pertengahan bulan Juli, aku dan kedua sahabatku berangkat menuju Pulau Penyengat, pulau kecil yang menyimpan ribuan jejak kemegahan Kesultanan Riau-Lingga. Perjalanan ini kami lakukan bukan sekadar untuk berwisata menyeberangi laut, melainkan untuk menyaksikan langsung pulau yang bagai permata berkilauan terhampar di tengah samudera biru, menyimpan sejarah yang bersinar terang bagai bintang di langit malam.

Kami menaiki perahu kecil yang bergerak membelah air biru yang jernih bagai pisau yang membelah kain sutra halus. Penyeberangan memakan waktu sekitar sepuluh menit dari pelabuhan Tanjung Pinang dengan biaya tiket sebesar Rp15.000 per orang. Di sepanjang perairan, ombak yang tenang beriak lembut bagai senyum kerabat yang menyambut kedatangan kami ke pulau penuh berkah dan sejarah.

Sesampainya di daratan Pulau Penyengat, suasana yang tenang dan penuh kenangan langsung menyambut kami bagai pelukan hangat nenek yang rindu akan kehadiran anak cucunya. Jalan-jalan berbatu yang berkelok menyusuri pulau bagai mengajak kami menelusuri lorong waktu yang membawa kembali ke masa kejayaan kerajaan yang bertahta dengan penuh keadilan dan kemakmuran.

Kami berjalan menuju Masjid Raya Pulau Penyengat yang berdiri megah bagai istana putih yang bersinar terang di tengah pulau. Dinding-dindingnya yang kokoh dan menara yang menjulang tinggi seakan berbisik menceritakan ketakwaan dan kemuliaan para pemimpin yang dahulu, yang membangun tempat ibadah bagai membangun rumah kasih sayang yang kekal abadi hingga akhir zaman.

Di sekeliling masjid dan bangunan bersejarah lainnya, kami juga menyaksikan makam-makam raja dan pahlawan yang berdiri tenang bagai bintang yang beristirahat dengan damai di pelukan bumi. Setiap nama yang terukir di batu nisan bagai untaian doa yang tak pernah putus, mengingatkan kami akan jasa-jasa leluhur yang berjuang membela tanah air bagai singa yang tak pernah takut menghadapi musuh.

Menjelang sore, saat matahari mulai terbenam membasuh kakinya di perairan biru, pulau itu berubah warna menjadi keemasan bagai dilapisi emas murni yang berkilauan diterpa cahaya senja. Kami menaiki perahu kembali menyeberang dengan hati yang penuh dan mata yang tak lelah memandang pulau kecil yang perlahan menjauh bagai permata yang dikembalikan ke peti harta karun samudera.

Pulau Penyengat adalah permata sejarah yang tak ternilai harganya bagi bangsa kita. Jika kamu berkunjung ke sini, sebaiknya datanglah pagi hari agar dapat menikmati setiap sudut pulau dengan tenang, serta bawalah topi dan air minum karena udara di pulau terasa hangat dan terbuka tanpa banyak pepohonan yang rindang.

3. Laporan Perjalanan ke Pantai Tanjung Pinang
Judul: Di Tepian Pantai yang Menyimpan Pesan Sang Laut

Pada awal bulan Agustus, aku beserta keluarga besar berkunjung ke Pantai Tanjung Pinang yang terbentang indah di tepi perairan kota. Perjalanan ini kami lakukan untuk melepas penat sekaligus menikmati keindahan laut yang airnya jernih dan tenang bagai cermin bening yang memantulkan keagungan langit biru yang bersih tanpa noda sedikit pun sepanjang hari.

Kami menempuh perjalanan menggunakan kendaraan umum yang melaju tenang menyusuri jalan tepian air yang berkelok indah bagai pita perak yang melilit lembut di bahu bumi. Perjalanan memakan waktu sekitar dua puluh menit dari pusat kota dengan biaya perjalanan sebesar Rp20.000 per orang. Di sepanjang jalan, angin laut berhembus segar menyapa wajah bagai sapuan kasih sayang yang lembut dan menyejukkan hati setiap yang dijumpainya.

Sesampainya di tepian pantai, pasir putih yang halus bersih menyambut langkah kaki bagai tepung sagu yang lembut menyentuh kulit dengan penuh kelembutan. Air laut yang berwarna biru jernih tampak menyatu dengan langit di kejauhan bagai dua lembar kain biru yang dijahit menjadi satu, memancarkan keagungan Tuhan yang tak terhingga luasnya dan tak terukur dalamnya.

Ombak datang berkejaran bagai anak-anak riang yang berlari menyapa tepian, lalu mundur perlahan membawa serta butiran pasir bagai memeluk bumi dengan kasih sayang yang tak pernah putus. Kami berjalan menyusuri pantai yang panjang bagai jalan tak berujung, membiarkan air menyentuh kaki yang terasa sejuk dan segar bagai disiram air murni yang menyejukkan kerongkongan yang haus akan keindahan.

Kami juga duduk bersantai menikmati semilir angin yang membawa aroma garam dan kedamaian. Sambil menikmati pemandangan perahu-perahu nelayan yang berlabuh tenang bagai anak-anak yang pulang ke pelukan ibunya, kami mencicipi hidangan laut segar yang rasanya lezat bagai anugerah yang diberikan samudera kepada kami yang datang dengan hati gembira dan tulus.

Saat matahari terbenam perlahan, langit berwarna jingga memantul di permukaan air yang berkilauan bagai hamparan emas yang tersebar di atas permadani biru yang luas. Kami pulang membawa kenangan indah yang tersimpan rapi di dalam dada bagai mutiara berharga yang diambil dari dasar samudera yang dalam dan dijaga dengan penuh kasih sayang.

Pantai Tanjung Pinang sungguh menyejukkan jiwa dan menyegarkan raga bagai ramuan penyembuh yang diberikan alam. Jika kamu berkunjung ke sini, sebaiknya bawalah alas kaki yang nyaman dan perlengkapan berenang, serta jangan lupa membawa payung atau topi agar terik matahari tidak membakar kulit bagai tanah yang retak di musim kemarau yang panjang.

4. Laporan Perjalanan ke Masjid Jami’ Tanjung Pinang
Judul: Cahaya Iman yang Bersinar di Tepian Laut Melayu

Pada hari Jumat pertengahan bulan Agustus, aku bersama ayah berkunjung ke Masjid Jami’ Tanjung Pinang yang berdiri megah dan bersejarah di tepian perairan kota. Perjalanan ini kami lakukan untuk melaksanakan ibadah sekaligus menyaksikan keindahan masjid yang telah berdiri ratusan tahun bagai pelita yang tak pernah padam cahayanya menerangi jalan kehidupan masyarakat yang hidup rukun di tepi samudera.

Kami menempuh perjalanan menggunakan taksi yang melaju tenang menyusuri jalan kota yang ramai namun tetap tertib bagai air sungai yang mengalir tenang menuju muara. Perjalanan memakan waktu sekitar dua puluh menit dengan biaya perjalanan sebesar Rp25.000. Di sepanjang jalan, suasana kota yang asri dan penuh dengan nuansa Melayu bagai menyambut kedatangan kami dengan keramahan yang hangat dan kedamaian yang menyejukkan hati.

Sesampainya di depan masjid, bangunan kuno yang tetap kokoh dan indah tampak bagai kapal besar yang berlabuh tenang di tepi laut, siap membawa setiap yang beribadah menuju pelabuhan keselamatan yang kekal. Kubah dan menara yang sederhana namun penuh wibawa seakan bercerita tentang keteguhan iman yang tak pernah goyah meski diterjang ombak dan badai sepanjang masa.

Kami melangkah masuk ke halaman masjid dengan hati yang tenang dan penuh rasa hormat bagai memasuki rumah Tuhan yang disucikan oleh berkah dan kasih sayang. Halaman yang luas dan bersih bagai lembaran putih yang terbentang luas, menyambut setiap langkah kaki yang datang membawa harapan dan doa yang tulus dari lubuk hati yang paling dalam dan suci.

Di dalam ruang utama masjid, suasana yang sejuk dan damai langsung menyelimuti hati bagai berada di bawah naungan pohon rindang yang meneduhkan jiwa dan raga. Cahaya matahari yang menembus celah jendela tampak bagai berkas-berkas cahaya iman yang menerangi jalan kehidupan di tengah malam yang gelap gulita, membuat hati yang gelisah menjadi tenang dan damai bagai air danau yang tenang tanpa riak sedikit pun.

Setelah selesai beribadah dan berdoa sejenak, kami berpamitan meninggalkan masjid dengan hati yang penuh kedamaian bagai hati anak yang mendapat pelukan kasih sayang dari ibunya yang tulus. Cahaya iman yang terpancar dari masjid ini seakan ikut kami bawa pulang bagai lentera yang menyala terang menerangi jalan kehidupan yang kami tempuh setiap hari.

Masjid Jami’ Tanjung Pinang adalah bukti keteguhan iman leluhur yang patut kita teladani. Jika kamu berkunjung ke sini, sebaiknya datanglah dengan hati yang tenang dan pakaian yang sopan sebagai tanda penghormatan terhadap rumah Tuhan yang mulia, serta bawa air minum agar tetap segar dan nyaman sepanjang waktu beribadah dan berkeliling.

5. Laporan Perjalanan ke Gua Batu Kurau, Tanjung Pinang
Judul: Rahasia Alam yang Tersembunyi di Dalam Perut Bukit

Pada awal bulan September, aku beserta teman-teman sekelas dan guru pembimbing berkunjung ke Gua Batu Kurau yang menyimpan ribuan rahasia alam di kawasan Tanjung Pinang. Perjalanan ini kami lakukan sebagai bagian dari pembelajaran alam, untuk menyaksikan langsung keajaiban gua yang terbentuk secara alami bagai istana raksasa yang dibangun Tuhan di dalam perut bukit yang kokoh dan abadi.

Kami menaiki bus sekolah yang melaju perlahan menanjak menyusuri jalan berkelok bagai unta yang berjalan tekun menuju tujuannya. Perjalanan memakan waktu sekitar tiga puluh menit dari sekolah dengan biaya tiket masuk sebesar Rp10.000 per orang. Di sepanjang jalan, udara semakin sejuk dan segar bagai air yang baru saja diambil dari mata air pegunungan yang jernih dan murni, menyambut kami seketika menghapus rasa lelah.

Sesampainya di mulut gua, suasana sejuk dan segar langsung menyambut kami bagai pelukan dingin yang lembut namun menenangkan hati. Di dalam gua, batu-batu yang menjulang dan stalaktit yang menjuntai dari langit-langit gua bagai tirai batu yang dipahat tangan ahli penuh seni, menciptakan pemandangan yang megah dan penuh keagungan ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Kami berjalan perlahan menyusuri lorong gua yang berkelok dan berkelok bagai menyusuri lorong waktu yang membawa kami ke dunia lain yang penuh keajaiban. Setiap bentuk batu yang kami lihat seakan menceritakan perjalanan panjang alam yang terbentuk perlahan bagai tetesan air yang melubangi batu keras perlahan namun pasti hingga menciptakan keindahan yang luar biasa ini.

Dari celah-celah gua, cahaya matahari yang masuk tampak bagai berkas-berkas emas yang menerangi lorong gelap, mengingatkan kami bahwa di tengah kegelapan pun selalu ada cahaya harapan yang menuntun langkah. Hati terasa kagum dan rendah hati memandang kebesaran Tuhan yang menciptakan segala sesuatu dengan indah dan sempurna, tempat yang tenang bagai pelukan kasih sayang yang meneduhkan jiwa.

Menjelang siang, kami keluar dari gua dengan pikiran yang penuh dan hati yang kagum bagai orang yang baru saja menemukan harta karun berharga di dalam perut bumi. Kami pulang membawa pengalaman berharga yang tersimpan rapi di dalam dada bagai permata yang dijaga dengan penuh kasih sayang agar tak hilang dimakan waktu dan tak pudar dimakan zaman.

Gua Batu Kurau adalah keajaiban alam yang sungguh luar biasa dan mengajarkan kami kesabaran serta keteguhan. Jika kamu berkunjung ke sini, sebaiknya bawalah senter dan kenakan alas kaki yang tidak licin karena lantai gua terasa dingin dan licin, serta berhati-hatilah saat melangkah agar tidak menyentuh dinding batu yang tajam dan berbahaya.

6. Laporan Perjalanan ke Taman Kota Tanjung Pinang
Judul: Oase Hijau yang Menyejukkan Hati di Tepian Kota

Pada hari libur pertengahan bulan September, aku bersama adik dan sepupu-sepupu berangkat menuju Taman Kota Tanjung Pinang yang menjadi tempat rekreasi dan penyejuk udara di tengah kota. Perjalanan ini kami lakukan untuk melepas penat setelah sibuk dengan kegiatan sehari-hari, sekaligus menikmati kesegaran alam yang bagai ramuan penyembuh bagi jiwa yang lelah dan pikiran yang penat.

Kami menempuh perjalanan menggunakan sepeda yang kami kayuh bersama bagai langkah seribu yang berjalan beriringan menuju kebahagiaan. Perjalanan memakan waktu sekitar tiga puluh menit dari rumah tanpa biaya tiket masuk. Di sepanjang jalan, kami menikmati pemandangan kota yang asri dan penduduk yang ramah menyapa satu sama lain bagai keluarga besar yang hidup rukun di bawah naungan kasih sayang Tuhan.

Sesampainya di dalam taman, hamparan rumput hijau yang lembut dan bunga-bunga yang bermekaran berwarna-warni bagai permata berwarna-warni yang tersebar di atas permadani hijau yang luas. Udara yang segar dan bersih bagai napas baru yang menyegarkan paru-paru, langsung menyambut kami seketika menghapus rasa lelah yang menyelimuti tubuh selama perjalanan tadi.

Kami berjalan menyusuri jalan setapak yang dikelilingi pepohonan rindang dan kolam air yang jernih bagai kaca bening tanpa cela. Di kolam, ikan-ikan berenang riang bagai anak-anak yang bermain tanpa beban di tengah halaman rumah yang luas dan indah. Angin berhembus lembut membelai dedaunan yang berbisik lemah bagai orang tua yang menceritakan kisah-kisah indah tentang kehidupan yang sederhana namun penuh makna.

Kami juga duduk beristirahat di bawah naungan pohon-pohon besar yang rindang bagai berada di bawah pelukan kasih sayang yang hangat dan meneduhkan. Sambil menikmati bekal makanan yang dibawa dari rumah, kami tertawa dan berbincang dengan gembira bagai kawanan burung yang berkicau riang di dahan pohon yang rindang, melupakan sejenak segala beban dan kesibukan yang menanti.

Menjelang sore, kami berpamitan meninggalkan taman yang masih tampak hijau dan indah bagai lukisan yang tak akan pudar dimakan waktu. Meski tubuh terasa sedikit lelah karena berjalan dan bermain, namun jiwa terasa segar kembali bagai disiram air jernih yang mengalir dari mata air murni yang menyejukkan segenap raga dan menyegarkan pikiran yang penat.

Taman Kota Tanjung Pinang adalah tempat pelarian yang indah dari hiruk pikuk kehidupan kota yang sibuk. Jika kamu berkunjung ke sini, sebaiknya bawalah alas kaki yang nyaman untuk berjalan jauh dan alas duduk agar dapat beristirahat dengan nyaman, serta jangan lupa membawa air minum dan menjaga kebersihan agar taman ini tetap indah bagai surga kecil yang bersih dan asri.

7. Laporan Perjalanan ke Benteng Tanjung Pinang
Judul: Saksi Bisu yang Berdiri Tegak Menjaga Perairan

Pada awal bulan Oktober, aku bersama paman dan sepupu berangkat menuju Benteng Tanjung Pinang yang berdiri kokoh menjaga perairan kota sejak masa lampau. Perjalanan ini kami lakukan untuk menyaksikan langsung bangunan pertahanan yang bagai raksasa batu yang tak pernah goyah, menyimpan kisah perjuangan leluhur yang membela tanah air bagai singa yang tak pernah takut menghadapi musuh yang datang menyerang.

Kami menempuh perjalanan menggunakan mobil keluarga yang melaju tenang menyusuri jalan tepian laut yang berkelok indah bagai pita perak yang melilit lembut di tepi samudera. Perjalanan memakan waktu sekitar dua puluh menit dengan biaya tiket masuk sebesar Rp15.000 per orang. Di sepanjang jalan, angin laut berhembus kencang namun sejuk, membawa aroma garam dan kisah-kisah lama yang terbawa angin dari kejauhan.

Sesampainya di lokasi, dinding-dinding batu yang tebal dan kokoh tampak berdiri tegak bagai prajurit perkasa yang tak pernah lelah menjaga perairan dari gangguan. Setiap batu yang tersusun rapi seakan bercerita tentang ketekunan dan kekuatan nenek moyang yang membangun benteng ini dengan tangan sendiri, keteguhan bagai batu karang yang tak pernah hancur meski diterjang ombak besar berkali-kali.

Kami berjalan di atas tembok benteng yang luas dan tinggi memandang ke arah laut yang biru dan luas bagai permadani biru yang terbentang tak bertepi. Dari atas benteng, perairan dan pulau-pulau kecil tampak bagai permata hijau yang tersebar di atas kain biru yang luas, menyadarkan kami betapa indahnya tanah air yang dijaga dengan penuh pengorbanan oleh para leluhur.

Di dalam halaman benteng, kami juga menyaksikan sisa-sisa meriam kuno yang berdiri tegak bagai saksi bisu pertempuran yang pernah terjadi di masa lampau. Meriam-meriam itu seakan bercerita tentang keberanian dan cinta tanah air yang membara bagai api yang tak pernah padam, mengingatkan kami untuk senantiasa menjaga dan mencintai tanah air bagai menjaga biji mata di tengah siang yang terik.

Menjelang matahari terbenam, bayangan tembok benteng memanjang menjangkau kejauhan bagai tangan leluhur yang melambai memberi semangat kepada anak cucunya. Kami pulang membawa semangat baru dan rasa bangga yang mendalam bagai bendera yang berkibar gagah di tiang tinggi, berjanji akan meneruskan perjuangan menjaga tanah air bagai benteng ini menjaga perairan dari dulu hingga kini.

Benteng Tanjung Pinang adalah lambang keteguhan dan cinta tanah air yang patut kita teladani. Jika kamu berkunjung ke sini, sebaiknya berhati-hatilah saat berjalan di tepi tembok yang tinggi dan curam, serta bawalah topi dan air minum karena angin laut yang kencang dan udara yang hangat dapat membuat tubuh terasa haus dan lelah dengan cepat.

8. Laporan Perjalanan ke Pasar Tradisional Tanjung Pinang
Judul: Jejak Kehidupan yang Penuh Warna dan Semangat

Pada pertengahan bulan Oktober, aku bersama Ibu berangkat menuju Pasar Tradisional Tanjung Pinang yang menjadi pusat kehidupan dan perdagangan masyarakat setempat. Perjalanan ini kami lakukan untuk berbelanja sekaligus menyaksikan langsung semangat dan keramahan masyarakat yang hidup dari hasil laut dan bumi yang subur bagai berkah Tuhan yang terus mengalir tanpa henti kepada hamba-Nya yang bersyukur.

Kami menempuh perjalanan menggunakan kendaraan umum yang melaju tenang menyusuri jalan yang ramai bagai aliran sungai yang terus bergerak membawa kehidupan ke segenap penjuru. Perjalanan memakan waktu sekitar dua puluh lima menit dengan biaya perjalanan sebesar Rp15.000 per orang. Di sepanjang jalan, kami menyaksikan kesibukan penduduk yang beraktivitas dengan penuh semangat bagai ombak yang tak pernah berhenti menyapu tepian sepanjang masa.

Sesampainya di pasar, suasana yang ramai dan hangat langsung menyambut kedatangan kami bagai pelukan kerabat lama yang lama tak berjumpa. Aroma ikan segar, rempah-rempah, dan buah-buahan yang harum wanginya menyatu menjadi satu aroma khas yang menggambarkan kemakmuran tanah ini bagai berkah yang turun dari langit dan tumbuh subur di bumi yang diberkahi.

Di setiap lorong pasar, beragam jenis ikan segar yang berkilauan bagai perak yang baru saja diambil dari dasar laut, buah-buahan yang manis dan segar bagai madu yang dicampur air jernih, serta sayuran yang hijau dan sehat bagai permata berwarna-warni yang dipajang dengan penuh keramahan. Penjual yang ramah menyapa pembeli dengan senyum tulus bagai matahari pagi yang bersinar lembut menyapa bumi yang baru saja dibasuh air hujan.

Kami berkeliling memilih barang yang dibutuhkan sambil berbincang dengan para penjual yang murah senyum dan jujur dalam berdagang. Suara tawar-menawar yang terdengar di mana-mana bagai irama kehidupan yang merdu dan penuh semangat, menunjukkan betapa giat dan uletnya masyarakat Tanjung Pinang dalam mencari nafkah yang halal dan berkah bagi keluarga tercinta.

Menjelang siang, kami pulang membawa bekal belanjaan yang penuh dan hati yang gembira bagai orang yang baru saja pulang dari pesta yang penuh dengan kebahagiaan dan kelimpahan. Langkah kaki terasa ringan meski membawa beban yang cukup berat, karena hati terasa penuh dengan kebahagiaan dan rasa syukur atas keramahan serta kemakmuran yang kami temui di sepanjang perjalanan.

Pasar Tradisional Tanjung Pinang adalah cermin kehidupan masyarakat yang giat, jujur, dan penuh keramahan. Jika kamu berkunjung ke sini, sebaiknya datanglah pagi hari agar mendapatkan ikan dan sayuran yang masih segar, serta jaga keselamatan barang bawaan dan dompetmu di tengah keramaian bagai menjaga biji mata agar tetap aman dan bersinar terang di siang hari yang terik.

9. Laporan Perjalanan ke Pulau Beras Basah, Tanjung Pinang
Judul: Surga Kecil yang Tersembunyi di Tengah Laut

Pada awal bulan November, aku beserta keluarga besar berangkat menuju Pulau Beras Basah yang tersembunyi indah di perairan Tanjung Pinang. Perjalanan ini kami lakukan untuk menikmati keindahan pulau yang airnya jernih dan tenang bagai cermin bening yang memantulkan keindahan langit dan bumi, tempat di mana ketenangan dan keindahan menyatu bagai jiwa dan raga yang tak terpisahkan.

Kami menaiki perahu wisata yang bergerak membelah air biru yang jernih bagai pisau yang membelah kain sutra halus. Perjalanan menyeberang memakan waktu sekitar empat puluh menit dengan biaya sewa perahu sebesar Rp200.000 untuk satu rombongan. Di sepanjang perairan, ombak yang tenang beriak lembut bagai senyum kerabat yang menyambut kedatangan kami ke pulau yang penuh keindahan dan kedamaian.

Sesampainya di pulau, pasir putih yang halus dan bersih menyambut langkah kaki bagai tepung sagu yang lembut menyentuh kulit dengan penuh kelembutan. Air laut yang jernih dan tenang bagai kaca bening tanpa cela, memantulkan bayangan langit biru dan pulau yang hijau bagai permata hijau yang terhampar di atas kain biru yang luas dan indah.

Kami berjalan menyusuri tepian pulau yang dikelilingi pohon-pohon hijau yang tumbuh subur bagai anak-anak yang tumbuh sehat di bawah asuhan kasih sayang Tuhan. Di perairan dangkal yang jernih, ikan-ikan berenang riang di antara terumbu karang yang indah bagai taman bunga yang tumbuh di dasar samudera yang sejuk dan teduh, membiarkan kami mendekat dan menyaksikan keindahan mereka dengan penuh kekaguman.

Kami juga beristirahat di bawah naungan pohon-pohon rindang yang tumbuh di tepian pantai bagai berada di bawah pelukan kasih sayang yang hangat dan meneduhkan. Sambil menikmati angin laut yang berhembus sejuk dan segar, kami menikmati hidangan yang dibawa dari rumah sambil bercanda dan tertawa dengan gembira bagai anak-anak yang bermain riang di pelukan kasih sayang orang tuanya.

Menjelang sore, saat matahari mulai turun perlahan, pulau berubah warna menjadi keemasan bagai dilapisi emas murni yang berkilauan diterpa cahaya senja yang lembut. Kami menaiki perahu kembali meninggalkan pulau kecil yang perlahan menjauh bagai permata yang dikembalikan ke peti harta karun samudera, membawa kenangan indah yang tak akan pudar dimakan waktu.

Pulau Beras Basah adalah surga kecil yang sungguh indah dan menyejukkan hati setiap yang memandangnya. Jika kamu berkunjung ke sini, sebaiknya bawalah perlengkapan berenang dan tabir surya agar kulit terlindung dari terik matahari, serta jangan pernah meninggalkan sampah agar keindahan pulau ini tetap abadi bagai warisan luhur yang dijaga sepenuh hati.

10. Laporan Perjalanan ke Air Terjun Kembar, Tanjung Pinang
Judul: Tirai Putih yang Jatuh dari Bukit Hijau yang Rimbun

Pada hari libur akhir bulan November, aku bersama kedua orang tuaku berangkat menuju Air Terjun Kembar yang tersembunyi indah di kawasan hutan hijau Tanjung Pinang. Perjalanan ini kami lakukan untuk menyaksikan langsung keajaiban alam yang airnya jatuh beriringan bagai dua kakak beradik yang saling berpeluk dan saling mendukung sepanjang perjalanan hidup yang penuh berkah dan kebahagiaan.

Kami menempuh perjalanan menggunakan mobil keluarga yang melaju perlahan menanjak menyusuri jalan berkelok bagai unta yang berjalan tekun menuju tujuannya. Perjalanan dari pusat kota memakan waktu sekitar satu jam dengan biaya tiket masuk sebesar Rp15.000 per orang. Semakin mendekati lokasi, udara semakin sejuk dan segar bagai air yang baru saja diambil dari mata air pegunungan yang jernih dan murni, menyambut kami seketika menghapus rasa lelah.

Sesampainya di lokasi, suara gemuruh air terdengar dari kejauhan bagai irama musik alam yang semakin lama semakin merdu memanggil-manggil kedatangan kami. Saat air terjun itu tampak jelas di hadapan mata, dua aliran air yang jatuh beriringan dari ketinggian bagai dua tirai putih yang turun dari langit menyapa bumi dengan penuh kelembutan dan kekuatan yang seimbang.

Butiran air yang memercik jatuh ke kolam di bawahnya bagai butiran berlian yang bertebaran indah memantulkan cahaya matahari yang menembus celah dedaunan hijau yang rimbun. Kabut tipis sesekali menyelimuti kawasan air terjun bagai kain sutra putih yang menutupi separuh wajah keindahan yang tampak semakin mempesona dan penuh dengan rahasia alam yang agung dan maha dahsyat.

Kami berdiri terpaku memandang keagungan ciptaan Tuhan yang begitu luar biasa, menyadari betapa kecilnya diri di hadapan kebesaran dan kemuliaan Yang Maha Pencipta yang menciptakan segala sesuatu dengan indah dan sempurna. Air yang mengalir jernih dan sejuk bagai pelukan kasih sayang yang menyejukkan jiwa dan raga, membuat segala lelah perjalanan perlahan hilang seketika.

Menjelang siang, kami berpamitan meninggalkan air terjun yang masih tampak megah meski kabut mulai menutupi keindahannya. Kami pulang membawa kesegaran yang meresap hingga ke dalam tulang bagai air yang meresap ke dalam tanah menyuburkan kehidupan yang tumbuh subur di atas bumi yang diberkahi Tuhan Yang Maha Kuasa.

Air Terjun Kembar adalah anugerah alam yang memukau dan mengajarkan kami arti kebersamaan dan keteguhan. Jika kamu berkunjung ke sini, sebaiknya bawalah jaket tebal karena udara di kawasan ini terasa dingin dan sejuk, serta kenakan alas kaki yang tidak licin dan berhati-hatilah saat berjalan di tepian kolam yang basah dan berbahaya.

Demikian 10 contoh laporan perjalanan menarik ke tempat wisata atau ke tempat bersejarah di Kepulauan Riau - Tanjung Pinang dalam bentuk narasi atau karangan menggunakan kalimat efektif dan majas metafora untuk kunci jawaban Bahasa Indonesia kelas 4 halaman 146 147 soal Menulis Bab 6 Satu Titik dalam buku paket Kurikulum Merdeka terbitan Kemendibudristek edisi revisi 2023 .

( Tribunpekanbaru.com / Pitos Punjadi )

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.