TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Setiap 43 detik, 1 anak di dunia meninggal karena pneumonia. Pneumonia seringkali dicap sebagai pembunuh senyap karena menyerang paru-paru, melelahkan napas, dan bahkan menyebabkan kematian terutama pada anak.
Memahami kondisi tersebut, sebuah sesi edukasi bertajuk “Bantu Cegah Pneumonia, Berikan Perlindungan Lebih Luas pada Anak Sejak Dini” yang menyasar komunitas ibu di Kota Bandung digelar, diinisiasi oleh MSD Indonesia.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya bersama untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai bahaya pneumonia dan pentingnya pencegahan sejak dini, sesuai rekomendasi.
Secara global, World Health Organization (WHO) mencatat pneumonia sebagai penyebab sekitar 14?ri seluruh kematian anak di bawah lima tahun.
Penyakit ini dapat berkembang cepat dan memicu komplikasi berat, namun demikian risikonya dapat dicegah, salah satunya melalui imunisasi.
Di Indonesia, pemerintah menargetkan penurunan insiden pneumonia pada balita hingga 70 % , sejalan dengan tingginya beban penyakit ini yang pada 2023 tercatat sebagai penyebab biaya pengobatan tertinggi berdasarkan data BPJS Kesehatan.
Namun, kesenjangan pemahaman tentang bahaya penyakit, keterlambatan orang tua dalam mengenali risiko, serta maraknya misinformasi seputar langkah pencegahan membuat kasus pneumonia pada anak masih menjadi tantangan dalam perluasan upaya pencegahan sesuai rekomendasi.
Menegaskan pentingnya penguatan literasi kesehatan melalui edukasi berbasis sains, External Affairs Director MSD Indonesia, Dudit Triyanto, menyampaikan, Pneumonia adalah ancaman yang sebagian besar risikonya dapat dicegah melalui perlindungan sejak dini.
"Tantangan yang kita hadapi saat ini tidak hanya terkait akses, tetapi juga kesenjangan informasi dan maraknya misinformasi. Melalui sesi edukasi ini, kami ingin membantu menghadirkan informasi yang relevan dan berbasis sains agar orang tua khususnya di wilayah Jawa Barat, bisa lebih bijak dalam mengambil keputusan kesehatan untuk anaknya,"kata Dudit.
Di Jawa Barat, isu pneumonia pada balita juga masih menjadi perhatian, dengan temuan kasus mencapai 578.490 di berbagai kabupaten/kota dari tahun 2019 s.d. 2024.2 dr. R. Vini Adiani Dewi, MMRS, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat menekankan pentingnya peran komunitas dalam memperkuat edukasi kesehatan di tingkat akar rumput.
“Kasus pneumonia pada balita di Jawa Barat masih perlu menjadi perhatian bersama. Upaya pencegahan sejak dini, termasuk melalui imunisasi dengan perlindungan yang lebih luas sesuai rekomendasi, perlu terus diperkuat. Puskesmas, kader, dan komunitas ibu memiliki peran strategis sebagai garda terdepan dalam menyampaikan informasi kesehatan kepada keluarga," Kata dr Vini.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) merekomendasikan imunisasi sebagai bagian dari upaya pencegahan pneumonia untuk Informasi lebih lanjut mengenai rekomendasi tersebut dapat merujuk pada pedoman resmi IDAI
Urgensi untuk pengambilan langkah preventif yang tepat sesuai anjuran yang disampaikan Prof. Dr. dr. Anggraini Alam, Sp.A, Subsp.Inf.P.T.(K), Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak Universitas Padjajaran dan Konsultan Infeksi dan Penyakit Tropis.
“Pneumonia pada anak sering kali berkembang cepat tanpa gejala awal yang jelas, sehingga banyak orang tua terlambat menyadarinya. Padahal, anak usia balita memiliki sistem imun yang belum matang, sehingga lebih rentan mengalami infeksi berat. Karena itu, langkah pencegahan seperti imunisasi menjadi sangat krusial untuk membantu melindungi anak sejak dini dari risiko komplikasi serius hingga rawat inap," kata dr Anggraini.
Menjawab kekhawatiran yang masih muncul di masyarakat terkait pemberian beberapa vaksin dalam satu waktu, Prof. Dr. dr. Anggraini Alam, Sp.A, Subsp.Inf.P.T.(K) menegaskan bahwa hal tersebut dapat dilakukan sesuai rekomendasi tenaga medis.
“Banyak orang tua khawatir ketika anak menerima beberapa imunisasi sekaligus. Padahal, secara medis hal ini mungkin dilakukan karena sistem imun anak mampu merespons beberapa antigen dalam waktu bersamaan. Pemberian vaksin kombinasi atau simultan juga justru membantu memastikan anak mendapatkan perlindungan lebih cepat dan lengkap, terutama pada periode usia rentan,” jelasnya.
Melalui kolaborasi multipihak, diharapkan kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap pencegahan pneumonia dapat semakin meningkat, sehingga perlindungan anak Indonesia khususnya di Jawa Barat dapat diperkuat secara berkelanjutan.