Laporan Wartawan TribunJatim.com, Dya Ayu
TRIBUNJATIM.COM, BATU — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu memetakan empat kawasan hutan dan lahan di wilayahnya yang memiliki risiko tinggi mengalami kebakaran (Karhutla) selama musim kemarau.
Keempat titik rawan tersebut meliputi kawasan Hutan Arjuno-Welirang, Lereng Panderman, Lereng Desa Oro-Oro Ombo, serta kawasan Klemuk.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Batu, Gatot Noegroho, menyampaikan bahwa penetapan wilayah rawan ini mengacu pada dokumen kajian risiko bencana dan rekam jejak sejarah kebakaran sebelumnya.
Baca juga: Harga Daging Ayam di Kota Batu Tembus Rp40 Ribu, Emak-emak Beralih ke Lele dan Pindang
"Kalau dalam dokumen kajian risiko bencana ada empat titik yang memang sering terjadi kejadian. Tepatnya di Arjuno-Welirang, lereng Panderman, lereng Desa Oro-Oro Ombo, dan Klemuk," kata Gatot, Rabu (19/8/2026).
Gatot mengungkapkan, sebagian besar penyebab kebakaran hutan di wilayah Kota Batu dipicu oleh faktor kelalaian manusia.
Kebiasaan seperti pembakaran lahan yang tidak terkontrol, meninggalkan api unggun tanpa dipadamkan hingga benar-benar mati, membuang puntung rokok sembarangan di antara semak kering, hingga aktivitas perburuan menjadi pemicu utamanya.
"Yang kami potret selama ini penyebabnya lebih banyak karena faktor manusia. Kami mengimbau masyarakat, baik yang melakukan pendakian, camping, atau tektok, agar benar-benar memperhatikan penggunaan api," tegasnya.
Mengingat kawasan Hutan Arjuno-Welirang baru saja kembali terbakar pada Selasa (18/8/2026), BPBD Kota Batu kini intens meningkatkan kesiapsiagaan dan memperkuat kolaborasi lintas sektor.
Langkah strategis yang disiapkan antara lain berkoordinasi dengan BPBD Provinsi Jawa Timur serta BPBD Kabupaten Malang dan Pasuruan guna menyiapkan penanganan pemadaman menggunakan teknik water pumping. BPBD juga terus bersinergi dengan pihak Perhutani dan Tahura Raden Soerjo.