Sosok dan Kekayaan Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa yang Pengawal Pribadinya Menghina Mahasiswa
Theresia Felisiani August 20, 2026 02:33 AM

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pengawal pribadi Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa, Sersan Kepala (Serka) La Rahimu viral hingga akhirnya menyampaikan permintaan maaf setelah mengakui melontarkan kata "monyet" kepada seorang mahasiswa asal Pegunungan Seram Utara usai upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Lapangan Merdeka Ambon pada Senin (17/8/2026).

Ucapan tersebut terekam dalam sebuah video yang beredar di media sosial dan memicu sorotan publik.

Kini sosok dan rekam jejak sang Gubernur, Hendrik Lewerissa ikut disorot.

Gubernur Hendrik Lewerissa belum bersuara soal kelakuan Serka La Rahimu.

Sementara Serka La Rahimu sudah muncul memberikan klarifikasi dan permohonan maaf.

 

Profil Hendrik Lewerissa

Hendrik Lewerissa, S.H., LL.M. merupakan Gubernur Maluku terpilih periode 2025 hingga 2030.

Hendrik yang berpasangan dengan Wakil Gubernur Maluku terpilih, Abdullah Vanath berhasil meraih suara terbanyak pada Pemilihan Gubernur pada 2024 lalu.

Pasangan itu berhasil meraup 437.379 suara dari total suara sah 922.769.

Sebelum terpilih menjadi Gubernur Maluku, Hendrik mengemban tugas sebagai anggota DPR RI periode 2019–2024.

Baca juga: Nasib Anggota TNI Pengawal Pribadi Gubernur Maluku Usai Viral Sebut Mahasiswa Monyet

Dilansir dari situs Wikipedia, Hendrik Lewerissa lahir di Ambon, Maluku pada 2 Maret 1968.

Saat ini, ia telah berusia 58 tahun.

Hendrik Lewerissa memiliki istri yang bernama Maya Baby Rampen dan telah dikaruniai tiga anak.

 

Pendidikan

Hendrik Lewerissa diketahui pernah mengenyam pendidikan di SD Itawaka, Maluku Tengah tahun 1974 hingga 1980.

Kemudian, ia melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 7 Ambon dari tahun 1980 hingga 1983.

Ia menamatkan pendidikan di SMA Negeri Saparua, Maluku Tengah tahun 1986.

Usai lulus SMA, Hendrik Lewerissa melanjutkan studi S1 dan berhasil meraih gelar Sarjana Hukum di Universitas Pattimura tahun 1992.

Ia kemudian mengambil studi S2 dan berhasil mendapat gelar Master of Laws dari Temple University tahun 1995.

 

Karier

Hendrik Lewerissa mengawali karier dengan menjabat sebagai Staf Administrasi di PT Tugu Pratama Indonesia tahun 1995 hingga 2000.

Kemudian ia juga pernah menjadi advokat kantor firma hukum hingga penasehat hukum sejumlah perusahaan pertambangan minyak bumi dan batubara.

Hendrik Lewerissa mulai terjun ke dunia politik dengan bergabung bersama Partai Demokrat pada 2006 hingga 2010.

Setelah itu, ia memutuskan untuk bergabung dengan Partai Gerakan Indonesia Raya atau Gerindra tahun 2010.

Usai bergabung dengan Partai Gerindra, ia didapuk menjadi Ketua DPD Partai Gerindra Maluku sejak 2010.

Pada Pemilu 2019, ia mencalon diri untuk maju sebagai anggota DPR-RI dari fraksi Gerindra dan ia pun terpilih untuk masa bakti 2019 hingga 2024.

Kemudian usai purna tugas sebagai Anggota DPR-RI, Hendrik Lewerissa mencalonkan diri menjadi Gubernur Maluku.

Ia yang berpasangan dengan Abdullah Vanath berhasil menang dalam Pilkada 2024, sehingga membuatnya terpilih menjadi Gubernur Maluku periode 2025 hingga 2030.

Hendrik Lewerissa terpilih sebagai Gubernur Maluku periode 2025 hingga 2030. (Dok. Fraksi Gerindra DPR-RI)

 

Harta Kekayaan

Mengutip dari situs e-LHKPN KPK, Hendrik Lewerissa diketahui memiliki kekayaan mencapai Rp 2.094.460.006

Laporan harta kekayaan terbaru Hendrik Lewerissa diterbitkan pada 31 Desember 2018.

Adapun rincian kekayaan Hendrik Lewerissa yakni sebagai berikut:

A. TANAH DAN BANGUNAN Rp 2.300.000.000                         

1. Tanah Seluas 970 m2 di KAB / KOTA KOTA JAKARTA SELATAN, HASIL SENDIRI Rp 1.000.000.000                                    

2. Tanah dan Bangunan Seluas 294 m2/97 m2 di KAB / KOTA KOTA AMBON, HASIL SENDIRI Rp 250.000.000                            

3. Tanah Seluas 118 m2 di KAB / KOTA KOTA AMBON, HASIL SENDIRI Rp 100.000.000

4. Tanah Seluas 1000 m2 di NEGARA [unknown], HASIL SENDIRI Rp 300.000.000      

5. Tanah Seluas 14830 m2 di KAB / KOTA MINAHASA, HASIL SENDIRI Rp 200.000.000

6. Tanah Seluas 7810 m2 di KAB / KOTA MINAHASA, HASIL SENDIRI Rp 100.000.000

7. Tanah dan Bangunan Seluas 2857 m2/2857 m2 di KAB / KOTA KOTA JAKARTA SELATAN HASIL SENDIRI Rp 350.000.000.

B. ALAT TRANSPORTASI DAN MESIN Rp 629.000.000                        

1. MOBIL, JEEP CHEROKEE Tahun 2013, HASIL SENDIRI Rp 150.000.000

2. MOTOR, HONDA VARIO Tahun 2010, HASIL SENDIRI Rp 4.000.000

3. MOTOR, KAWASAKI NINJA 250 Tahun 2014, HASIL SENDIRI Rp 20.000.000

4. MOTOR, YAMAHA VIXION Tahun 2014, HASIL SENDIRI Rp 5.000.000

5. MOBIL, HONDA JAZZ Tahun 2020, HASIL SENDIRI Rp 150.000.000

6. MOBIL, TOYOTA FORTUNER Tahun 2020, HASIL SENDIRI Rp 300.000.000.

C. HARTA BERGERAK LAINNYA Rp 42.000.000                                   

D. SURAT BERHARGA Rp 0                                  

E. KAS DAN SETARA KAS Rp 23.460.006                        

F. HARTA LAINNYA Rp 0                                  

Sub Total Rp 2.994.460.006.

Hendrik Lewerissa tercatat memiliki hutang sebesar Rp 900.000.000, sehingga total kekayaan yang dimiliki saat ini mencapai Rp 2.094.460.006.

 

Kronologi: Surat Tak Sampai ke Tangan Gubernur Maluku, Mahasiswa Asal Pegunungan Pulau Seram Malah Dihina Pengawal Pribadi Gubernur

Lima mahasiswa asal Pegunungan Pulau Seram berniat menyampaikan aspirasi kepada Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, usai upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Lapangan Merdeka Ambon, Senin (17/8/2026), berujung insiden penghinaan.

Mahasiswa bernama Wili Ropena, mengaku mendapat hinaan "monyet" dari pengawal pribadi Gubernur saat berusaha menyerahkan surat yang dibawa dari Raja Tanah Manusela, Sepnat Amanukuany, di Pegunungan Seram Utara.

Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 11.00 WIT, sesaat setelah Hendrik Lewerissa selesai memimpin upacara sebagai inspektur upacara dan mulai meninggalkan Lapangan Merdeka.

Saat gubernur menuruni tangga menuju kendaraan dinasnya, lima mahasiswa yang terdiri dari empat laki-laki dan seorang perempuan bergerak mendekat.

Mereka mengenakan ikat kepala merah sebagai simbol perjuangan masyarakat adat Pegunungan Seram Utara.

Kelima mahasiswa itu tidak membawa pengeras suara maupun spanduk berukuran besar. 

Mereka hanya membawa dua poster berwarna merah dan sepotong bambu yang di dalamnya berisi surat dari Raja Tanah Manusela yang hendak diserahkan langsung kepada gubernur.

Namun, ketika salah seorang mahasiswa mencoba mendekati Hendrik Lewerissa, langkah mereka langsung diadang pengawal pribadi gubernur hingga terjadi aksi saling tarik.

Surat yang ingin disampaikan tidak pernah sampai ke tangan gubernur.

Di tengah ketegangan itu, terdengar ucapan bernada penghinaan yang kemudian viral di media sosial.

Dalam rekaman video yang beredar, pengawal pribadi Gubernur Maluku, Sersan Kepala La Rahimu, terdengar mengatakan: 

"Kau dengar ka seng, ada aturannya monyet ee. Hargai orang sedikit."

Ucapan tersebut sontak menuai sorotan publik dan memicu reaksi berbagai kalangan.

MENGHINA MAHASISWA - Kolase foto Pengawal pribadi (Walpri) Gubernur Maluku, Sersan Kepala (Serka) La Rahimu. La Rahimu viral usai menghalangi dan menghina mahasiswa usai Upacara HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Lapangan Merdeka Ambon, Senin (17/8/2026). Serka La Rahimu, mengaku hingga kini masih menjalankan tugas seperti biasa. Dia mengaku hilaf dan minta maaf atas perbuatanya yang telah menghina mahasiswa.
MENGHINA MAHASISWA - Kolase foto Pengawal pribadi (Walpri) Gubernur Maluku, Sersan Kepala (Serka) La Rahimu. La Rahimu viral usai menghalangi dan menghina mahasiswa usai Upacara HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Lapangan Merdeka Ambon, Senin (17/8/2026). Serka La Rahimu, mengaku hingga kini masih menjalankan tugas seperti biasa. Dia mengaku hilaf dan minta maaf atas perbuatanya yang telah menghina mahasiswa. (Tribun Ambon/Jenderal Louis)

 

Pengawal Gubernur Maluku, Serka La Rahimu Akui Khilaf dan Minta Maaf

Dikonfirmasi terpisah pada Selasa (18/8/2026), Sersam Kepala (Serka) La Rahimu mengakui dirinya mengucapkan kalimat tersebut saat menjalankan tugas pengamanan gubernur.

Ia menjelaskan, setelah upacara selesai, tim pengamanan ring satu membuka akses agar gubernur dapat berjalan menuju kendaraan dengan aman.

Menurutnya, saat itu Hendrik Lewerissa juga sedang diwawancarai wartawan sebelum tiba-tiba didatangi sekelompok mahasiswa yang membawa poster dan sepotong bambu.

"Kami tidak tahu mereka dari mana. Kami juga belum mengetahui apa isi bambu itu. Sebagai pengawal tentu kami memastikan apa yang mereka bawa," katanya.

La Rahimu mengaku telah meminta para mahasiswa menyampaikan surat melalui prosedur resmi di kantor gubernur karena kondisi di lokasi dinilai tidak memungkinkan.

Ia menyebut para mahasiswa tetap bersikeras ingin bertemu langsung dengan gubernur.

"Saya sudah beberapa kali menyampaikan supaya bertemu di kantor, bukan di situ. Tapi mereka tetap ngotot. Sampai akhirnya saya keceplosan mengatakan, 'Ose ini manusia ka monyet'," ujarnya.

Ia menegaskan ucapan tersebut bukan bermaksud menghina masyarakat Seram Utara ataupun mengandung unsur rasial.

"Saya sebagai manusia biasa menyampaikan permohonan maaf atas bahasa saya dan atas kekhilafan saya. Saya tidak ada niat rasis. Saya hanya menjalankan tugas pengamanan," katanya.

La Rahimu juga mengaku belum sempat menyampaikan permintaan maaf secara langsung kepada mahasiswa karena setelah kejadian gubernur langsung meninggalkan lokasi.

"Saya mohon maaf. Saya berharap persoalan ini tidak dipelintir. Tidak ada niat saya menghina basudara di Seram Utara," ujarnya.

(tribun network/thf/TribunAmbon.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.