Nasib Anggota TNI Pengawal Pribadi Gubernur Maluku Usai Viral Sebut Mahasiswa Monyet
Theresia Felisiani August 20, 2026 02:33 AM

 


TRIBUNNEWS.COM, AMBON - Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Lapangan Merdeka Ambon pada Senin (17/8/2026) tercoreng dengan ulah Pengawal pribadi Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa.

Kelakuan sang Pengawal pribadi Gubernur Maluku, Sersan Kepala (Serka) La Rahimu viral karena menghina mahasiswa.

Seorang mahasiswa bernama Wili Ropena, mengaku mendapat hinaan "monyet" dari pengawal pribadi Gubernur saat berusaha menyerahkan surat yang dibawa dari Raja Tanah Manusela, Sepnat Amanukuany, di Pegunungan Seram Utara.

Niat awal Wili Ropena dan empat mahasiswa asal Pegunungan Pulau Seram yakni untuk menyampaikan aspirasi kepada Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, usai upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Lapangan Merdeka Ambon, Senin (17/8/2026) berujung insiden penghinaan.

Terkini Sersan Kepala (Serka) La Rahimu akhirnya menyampaikan permintaan maaf, dia juga mengakui melontarkan kata "monyet" kepada seorang mahasiswa tersebut.

Baca juga: Sosok Pengawal Pribadi Gubernur Maluku yang Sebut Mahasiswa Monyet, Kini Minta Maaf

 

Kronologi: Surat Tak Sampai ke Tangan Gubernur Maluku, Mahasiswa Asal Pegunungan Pulau Seram Malah Dihina Pengawal Pribadi Gubernur

Lima mahasiswa asal Pegunungan Pulau Seram berniat menyampaikan aspirasi kepada Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, usai upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Lapangan Merdeka Ambon, Senin (17/8/2026), berujung insiden penghinaan.

Mahasiswa bernama Wili Ropena, mengaku mendapat hinaan "monyet" dari pengawal pribadi Gubernur saat berusaha menyerahkan surat yang dibawa dari Raja Tanah Manusela, Sepnat Amanukuany, di Pegunungan Seram Utara.

Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 11.00 WIT, sesaat setelah Hendrik Lewerissa selesai memimpin upacara sebagai inspektur upacara dan mulai meninggalkan Lapangan Merdeka.

Baca juga: Kronologi Pria di Sula Maluku Utara Tewas Dimangsa Piton, Tubuhnya Ditemukan di Dalam Perut Ular

Saat gubernur menuruni tangga menuju kendaraan dinasnya, lima mahasiswa yang terdiri dari empat laki-laki dan seorang perempuan bergerak mendekat.

Mereka mengenakan ikat kepala merah sebagai simbol perjuangan masyarakat adat Pegunungan Seram Utara.

Kelima mahasiswa itu tidak membawa pengeras suara maupun spanduk berukuran besar. 

Mereka hanya membawa dua poster berwarna merah dan sepotong bambu yang di dalamnya berisi surat dari Raja Tanah Manusela yang hendak diserahkan langsung kepada gubernur.

Namun, ketika salah seorang mahasiswa mencoba mendekati Hendrik Lewerissa, langkah mereka langsung diadang pengawal pribadi gubernur hingga terjadi aksi saling tarik.

Surat yang ingin disampaikan tidak pernah sampai ke tangan gubernur.

Di tengah ketegangan itu, terdengar ucapan bernada penghinaan yang kemudian viral di media sosial.

Dalam rekaman video yang beredar, pengawal pribadi Gubernur Maluku, Sersan Kepala La Rahimu, terdengar mengatakan: 

"Kau dengar ka seng, ada aturannya monyet ee. Hargai orang sedikit."

Ucapan tersebut sontak menuai sorotan publik dan memicu reaksi berbagai kalangan.

 

Pengawal Gubernur Maluku, Serka La Rahimu Akui Khilaf dan Minta Maaf

Dikonfirmasi terpisah pada Selasa (18/8/2026), Sersam Kepala (Serka) La Rahimu mengakui dirinya mengucapkan kalimat tersebut saat menjalankan tugas pengamanan gubernur.

Ia menjelaskan, setelah upacara selesai, tim pengamanan ring satu membuka akses agar gubernur dapat berjalan menuju kendaraan dengan aman.

Menurutnya, saat itu Hendrik Lewerissa juga sedang diwawancarai wartawan sebelum tiba-tiba didatangi sekelompok mahasiswa yang membawa poster dan sepotong bambu.

"Kami tidak tahu mereka dari mana. Kami juga belum mengetahui apa isi bambu itu. Sebagai pengawal tentu kami memastikan apa yang mereka bawa," katanya.

La Rahimu mengaku telah meminta para mahasiswa menyampaikan surat melalui prosedur resmi di kantor gubernur karena kondisi di lokasi dinilai tidak memungkinkan.

Ia menyebut para mahasiswa tetap bersikeras ingin bertemu langsung dengan gubernur.

"Saya sudah beberapa kali menyampaikan supaya bertemu di kantor, bukan di situ. Tapi mereka tetap ngotot. Sampai akhirnya saya keceplosan mengatakan, 'Ose ini manusia ka monyet'," ujarnya.

Baca juga: Sosok 2 Polwan Jadi Komandan Upacara HUT ke-81 RI di Kendari dan Pangkalpinang 

Ia menegaskan ucapan tersebut bukan bermaksud menghina masyarakat Seram Utara ataupun mengandung unsur rasial.

"Saya sebagai manusia biasa menyampaikan permohonan maaf atas bahasa saya dan atas kekhilafan saya. Saya tidak ada niat rasis. Saya hanya menjalankan tugas pengamanan," katanya.

La Rahimu juga mengaku belum sempat menyampaikan permintaan maaf secara langsung kepada mahasiswa karena setelah kejadian gubernur langsung meninggalkan lokasi.

"Saya mohon maaf. Saya berharap persoalan ini tidak dipelintir. Tidak ada niat saya menghina basudara di Seram Utara," ujarnya.

 

Serka La Rahimu Siap Hadapi Proses Hukum

Terkait rencana pihak mahasiswa membawa kasus tersebut ke jalur hukum, La Rahimu menyatakan siap menghadapi proses yang berlaku.

"Itu hak mereka. Saya siap menerima kalau saya disalahkan. Saya menunggu prosesnya," tegasnya.

 

Serka La Rahimu Masih Bertugas Sebagai Pengawal Pribadi Gubernur Maluku

Ia menambahkan hingga kini masih bertugas sebagai pengawal pribadi Gubernur Maluku.

"Saya sebagai bawahan hanya menunggu perintah pimpinan. Mari kita selesaikan persoalan ini dengan kepala dingin," katanya.

La Rahimu mengungkapkan dirinya telah sekitar satu tahun bertugas sebagai pengawal pribadi gubernur, setelah sebelumnya mengabdi kurang lebih 16 tahun di Pulau Seram.

(tribun network/thf/TribunAmbon.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.