BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARBARU - Sejumlah wilayah di Kalimantan Selatan merasakan dampak adanya kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla), mulai dari Banjarbaru, Kabupaten Banjar, Tanahlaut, Banjarmasin, Baritokuala hingga Hulu Sungai Selatan, Rabu (19/8) pagi.
Salah satu yang terparah yaitu, kabut asap tebal menyelimuti kawasan perbatasan Banjarbaru dan Tala. Kondisi tersebut bukan hanya mengganggu jarak pandang, tetapi juga membuat arus lalu lintas tersendat hingga memicu antrean kendaraan mencapai sekitar 5 kilometer. Pengendara memilih berhenti dan menunggu di tepi jalan menghindari terjadinya kecelakaan.
Kabut asap mulai mengganggu aktivitas warga sejak subuh.
Ketebalan kabut asap dilaporkan mencapai puncaknya sekitar pukul 06.30 Wita. Pada kondisi terparah, jarak pandang pengendara disebut hanya sekitar 1–2 meter. “Jarak pandang hanya sekitar satu sampai dua meter. Ini sangat mengganggu pengendara,” ujar Kepala Desa Pandahan, H Alfian Taurus.
Hingga sekitar pukul 09.00 Wita, jarak pandang di kawasan Desa Pandahan, Kecamatan Batibati, Tala, yang berbatasan langsung dengan Pengayuan atau Penggalaman, Lianganggang, Banjarbaru, masih terganggu.
Baca juga: Kabut Asap Kepung Banjarbaru dan Banjar, Jarak Pandang Tinggal 20 Meter, Hatmi: Mata Sampai Pedih
Baca juga: Kabut Asap di Banjarbaru Kalsel Semakin Pekat, Sekolah Alam Ini Pun Terpaksa Mundurkan Jam Masuk
Menurut Alfian, kabut asap dengan kondisi separah itu terjadi sejak Selasa (18/8) kemarin. Sebelumnya, aktivitas lalu lintas di kawasan tersebut masih berjalan normal.
Sementara dari tugu perbatasan menuju arah Banjarbaru, lanjut Alfian, hingga kawasan Bundaran Lianganggang di Jalan A Yani Km 20, antrean mencapai sekitar tiga kilometer.
Yanti, warga sekaligus relawan yang tinggal persis di kawasan Tugu Perbatasan Tala-Banjarbaru, Desa Pandahan, Batibati, mengatakan kondisi kabut asap tergolong sangat parah.
Menurutnya, jarak pandang bahkan hanya sekitar satu meter mulai pukul 06.30 Wita. Kabut asap tebal terlihat tepat di depan rumahnya dan membuat kendaraan yang melintas harus bergerak perlahan. “Memang sangat tebal. Jarak pandang cuma sekitar satu meter. Sampai pukul 09.00 Wita kabut masih tebal di depan rumah. Ke arah Pengayuan, Lianganggang, tambah tebal,” ujar Yanti.
Di sejumlah jalur lain, pengendara yang melintas harus mengurangi kecepatan karena pandangan ke arah depan tertutup kabut asap.
"Hati-hati tadi di jalan. Kabut asap pagi ini pukul 07.30 wita, di Gambut arah Jalan Gubernur Syarkawi arah Batola pekat. Gunakan masker dan nyalakan lampu senja jika di perjalanan kabut," umbai Fajar Solihin, warga setempat.
Tidak hanya di arah Gubenur Syarkawi, warga termasuk ibu-ibu keluhkan asap yang pekat di pasar. "Pekat asap nya luar biasa pagi ini. Mata sampai pedih," keluh Hatmi yang baru keluar ke Pasar Jalan Trikora Banjarbaru.
Asap tidak hanya mengurangi jarak pandang, tetapi juga menimbulkan bau menyengat yang terasa di permukiman dan ruas jalan. Para pengendara sepeda motor pun harus mengenakan masker untuk menutupi pernapasan.
Terpantau selain kabut tebal menyelimuti pinggiran kota seperti Lianganggang hingga Landasan Ulin, kabut asap juga menyelimuti pusat kota Banjarbaru, seperti di kawasan Bundaran Simpang Empat Banjarbaru dan kawasan perkantoran di ibu kota provinsi Kalsel.
Penyebab kabut ini tidak dapat dipisahkan dengan deretan kebakaran lahan yang terjadi hampir setiap hari di kota Banjarbaru.
Bahkan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah BPBD Banjarbaru mencatat, hingga 18 Agustus 2026, telah terjadi sebanyak 162 kali kejadian karhutla di wilayah ini.
Kepala BPBD Banjarbaru, Zaini, mengatakan wilayah yang paling parah terdampak karhutla adalah kecamatan Landasan Ulin. Di wilayah ini tercatat 66 kali kejadiam dengan luasan lahan yang hangus mencapai 417 hektare. Adapun di kecamatan Lianganggang lahan yang terbakar sudah mencapai 309 hektare dengan 20 kali kejadian.
Sementara di wilayah HSS kabut asap terjadi di Kalumpang, arah Margasari. Di HSS karhutla terjadi di wilayah Kecamatan Simpur, Kalumpang, dan wilayah Daha.(lis/riz/roy/ady)