Kisah Warga Ciamis Jalan Kaki ke Mekkah demi Kenalkan Budaya Sunda
ferri amiril August 20, 2026 12:35 PM

 

Laporan Wartawan TribunPriangan.com, Ai Sani Nuraini

TRIBUNPRIANGAN.COM, CIAMIS – Nama Kabupaten Ciamis dibawa Vico Noer Faizal dalam perjalanan panjang menuju Tanah Suci.

Warga Karanganyar, Kecamatan Rancah, Kabupaten Ciamis, itu baru saja menuntaskan ekspedisi berjalan kaki menuju Mekkah setelah menempuh perjalanan selama 17 bulan dan melewati 17 negara.

Yang menarik, perjalanan tersebut berakhir tepat pada 17 Agustus 2026, bertepatan dengan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Namun, bagi Vico, perjalanan itu bukan sekadar soal mencapai garis finis di Mekkah.

Ia menjadikan perjalanan tersebut sebagai kesempatan untuk memperkenalkan Ciamis dan Jawa Barat kepada masyarakat di berbagai negara yang dilewatinya.

Baca juga: Warga Sindangkasih Ciamis Tolak Pembangunan Menara Telekomunikasi karena Khawatir Dampak Lingkungan

"Saya mempersiapkan semuanya, mulai birokrasi, uang yang harus disimpan, riset jalur sampai visa. Saya sadar ini ekspedisi bukan ekspedisi biasa," ujar Vico usai kegiatan di Islamic Center Ciamis, Rabu (19/8/2026).

Selama perjalanan, Vico tidak hanya membawa perlengkapan untuk bertahan hidup di perjalanan. Ia juga membawa cerita tentang daerah asalnya.

Setiap bertemu masyarakat maupun media di negara yang dilewati, Vico berupaya mengenalkan Ciamis, termasuk kearifan lokal yang ada di Kabupaten Ciamis.

"Alhamdulillah, saya bisa mengampanyekan kearifan lokal yang ada di Kabupaten Ciamis," katanya.

Perjalanan Vico juga mendapat perhatian dari sejumlah media internasional.

Ia mengaku pernah mendapat kesempatan diwawancarai media televisi Uzbekistan dan NST Malaysia.

Bahkan, dalam perjalanannya di Turki, Vico mendapat kesempatan bertemu Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan melalui undangan Wali Kota Şile, Istanbul.

Ada cerita menarik di balik angka 17 yang mengiringi ekspedisi Vico. Ia berjalan selama 17 bulan, melewati 17 negara, kemudian menyelesaikan perjalanan tepat pada 17 Agustus.

Namun, angka tersebut ternyata bukan bagian dari konsep yang dirancang sejak awal.

"Untuk 17-17-17 bulan sama 17 negara itu tidak direncanakan. Border to border biasanya ada negara yang memang tidak mungkin terlewati. Akhirnya menjadi 17 negara dengan durasi 17 bulan," ujarnya.

Rute perjalanan pun beberapa kali harus berubah menyesuaikan kondisi di lapangan.

Saat perjalanan pulang, Vico tidak bisa sepenuhnya melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki karena terdapat sejumlah wilayah di kawasan Timur Tengah yang tidak memungkinkan untuk dilalui.

Ia kemudian terbang menuju Thailand, dari Thailand, perjalanan kembali dilanjutkan melalui jalur darat menuju Malaysia hingga akhirnya rangkaian ekspedisi tersebut selesai.

Ada satu hal yang sengaja dipersiapkan Vico untuk momen HUT ke-81 RI. Ia membawa bendera Merah Putih dalam perjalanan.

Bendera tersebut dikibarkan bersama bendera negara yang sedang disinggahinya.

Bagi Vico, cara tersebut menjadi simbol bahwa kehadiran Indonesia di dunia bukan untuk menunjukkan siapa yang lebih unggul. Sebaliknya, Merah Putih menjadi simbol persahabatan.

"Intinya niat kita baik, dijalani dengan baik, insyaallah hasilnya baik," ucapnya.

Perjalanan panjang selama 17 bulan tentu tidak selalu berjalan mulus.

Vico mengaku mendapat beragam respons dari masyarakat. Ada yang memberikan dukungan, tetapi ada pula yang memberikan komentar negatif.

Alih-alih berhenti karena komentar tersebut, Vico justru menjadikannya sebagai tambahan motivasi.

"Yang jelas semuanya maslahat bagi saya, tidak ada yang mudarat. Orang-orang yang julid di awal justru menjadi acuan dan menambah giroh dalam perjalanan," katanya.

Menurut Vico, seluruh pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan yang justru membuatnya semakin kuat.

Tak hanya itu, ada misi lain yang dibawa Vico selama perjalanan menuju Mekkah. Ia menulis Al-Qur'an secara bertahap di sepanjang ekspedisi.

Setiap melewati perbatasan atau crossing, Vico menyempatkan diri menulis beberapa ayat.

Target tersebut akhirnya berhasil diselesaikan bersamaan dengan berakhirnya ekspedisi.

"Karena kemarin saya fokusnya lebih menulis Al-Qur'an. Setiap crossing saya menulis Al-Qur'an beberapa ayat dan alhamdulillah ditutup dengan finis. Al-Qur'an itu saya selesaikan," tuturnya.

Pengalaman selama 17 bulan berjalan kaki itu kini juga mulai mendapat tawaran untuk dibukukan.

Namun, Vico belum ingin terburu-buru. Ia justru mulai menyiapkan rencana perjalanan berikutnya.

Mekkah rupanya bukan tujuan terakhir Vico. Ia mengaku sudah mendapat sejumlah tawaran dari berbagai negara dan mulai menjajaki dukungan sponsor untuk ekspedisi selanjutnya.

Target yang kini dipersiapkannya adalah Masjid Al-Aqsa.

"Program lanjutannya insyaallah mungkin satu atau dua tahun lagi. Sudah banyak call dari berbagai negara dan ada beberapa sponsor ke depannya untuk mengejar satu masjid lagi, yaitu Al-Aqsa," katanya.

Persiapan bahkan mulai dilakukan, Vico mengaku sudah mulai mempelajari jalur perjalanan melalui Jordan Pass.

Jika ekspedisi tersebut terealisasi, perjalanan berikutnya ditargetkan tidak berhenti di Al-Aqsa.

Ia berencana melanjutkan perjalanan hingga London, Inggris.

Dari Rancah, Ciamis, Vico telah menempuh perjalanan panjang menuju Mekkah.

Kini, setelah menuntaskan 17 bulan perjalanan, membawa nama Ciamis ke berbagai negara, menyelesaikan penulisan Al-Qur'an, dan mengibarkan Merah Putih di perjalanan, Vico mulai bersiap untuk tantangan berikutnya.

Masjid Al-Aqsa menjadi tujuan yang ingin dikejarnya dalam ekspedisi selanjutnya.(*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.