Sosok Serka La Rahimu, Ajudan Gubernur Maluku Sebut Mahasiswa Monyet, Kini Minta Maaf
Rusaidah August 20, 2026 01:03 PM

 

BANGKAPOS.COM -- Ajudan Gubernur Maluku Utara Hendrik Lewerissa, yakni Sersan Kepala (Serka) La Rahimu menyebut mahasiswa monyet.

Peristiwa ini terjadi saat Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Lapangan Merdeka Ambon pada Senin (17/8/2026). 

Saat itu mahasiswa bernama Wili Ropena berusaha menyerahkan surat yang dibawa dari Raja Tanah Manusela, Sepnat Amanukuany, di Pegunungan Seram Utara, kepada Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa.

Sekitar pukul 11.00 WIT sesaat setelah Hendrik Lewerissa selesai memimpin upacara sebagai inspektur upacara, ia mulai meninggalkan Lapangan Merdeka.

Saat gubernur menuruni tangga menuju kendaraan dinasnya, lima mahasiswa yang terdiri dari empat laki-laki dan seorang perempuan bergerak mendekat.

Salah seorang mahasiswa mencoba mendekati Hendrik Lewerissa, langkah mereka langsung diadang pengawal pribadi gubernur hingga terjadi aksi saling tarik.

Baca juga: Sosok Letjen Purn Kiki Syahnakri, Eks Wakasad Sebut Pencalonan Gibran sebagai Wapres Acak-acak Hukum

Surat yang ingin disampaikan tidak pernah sampai ke tangan gubernur. Di tengah ketegangan itu, terdengar ucapan bernada penghinaan yang kemudian viral di media sosial.

Dalam rekaman video yang beredar, pengawal pribadi Gubernur Maluku, Sersan Kepala La Rahimu, terdengar mengatakan: 

"Kau dengar ka seng, ada aturannya monyet ee. Hargai orang sedikit."

Ucapan tersebut sontak menuai sorotan publik dan memicu reaksi berbagai kalangan.

Sosok Serka La Rahimu

Serka La Rahimu adalah ajudan Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa.

Ia baru satu tahun mengawal sang gubernur.

Sebelum mendapat penugasan tersebut, ia bertugas di Pulau Seram selama kurang lebih 16 tahun.

Setelah insiden itu viral, La Rahimu memastikan dirinya belum dicopot dari tugas pengamanan.

"Iya masih," jawab La Rahimu  saat memberikan klarifikasi kepada wartawan, Selasa (18/8/2026).

Ia menegaskan, sebagai prajurit yang mendapat penugasan, dirinya hanya menjalankan perintah pimpinan.

"Saya sebagai bawahan, saya hanya menunggu perintah dan petunjuk pimpinan," tegasnya.

Ia menyatakan sesuai arahan pimpinannya agar masalah ini diselesaikan dengan baik.

 "Mari kita membuka diri menyelesaikan masalah yang ada dengan kepala dingin," ujarnya.

Sebelum mendapat penugasan tersebut, ia bertugas di Pulau Seram selama kurang lebih 16 tahun.

"Saya satu tahun mengawal gubernur. Sebelumnya saya bertugas di Seram kurang lebih 16 tahun," katanya.

Sebut Mahasiswa Monyet, Kini Minta Maaf

La Rahimu menyampaikan permintaan maaf atas ucapannya yang menyebut seorang mahasiswa dengan kata "monyet" saat pengamanan usai upacara HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Lapangan Merdeka Ambon.

Baca juga: Sosok Kombes Reynold Hutagalung, Kapolres Metro Jakarta Debat dengan Fathimah Azzahra, Lulusan Akpol

Ia mengakui kalimat tersebut terlontar karena emosi saat menjalankan tugas pengamanan dan menegaskan tidak memiliki niat menghina maupun melakukan tindakan bernuansa rasial.

"Saya mohon maaf atas bahasa saya, atas kekhilafan saya. Saya tidak ada niat rasis, saya hanya menjalankan tugas pengamanan," katanya.

La Rahimu juga menyatakan siap menghadapi konsekuensi apabila mahasiswa yang bersangkutan menempuh jalur hukum.

"Itu hak mereka. Saya siap menerima kalau saya disalahkan. Saya menunggu," tegasnya.

Ia menjelaskan, setelah upacara selesai, tim pengamanan ring satu membuka akses agar gubernur dapat berjalan menuju kendaraan dengan aman.

Menurutnya, saat itu Hendrik Lewerissa juga sedang diwawancarai wartawan sebelum tiba-tiba didatangi sekelompok mahasiswa yang membawa poster dan sepotong bambu.

"Kami tidak tahu mereka dari mana. Kami juga belum mengetahui apa isi bambu itu. Sebagai pengawal tentu kami memastikan apa yang mereka bawa," katanya.

La Rahimu mengaku telah meminta para mahasiswa menyampaikan surat melalui prosedur resmi di kantor gubernur karena kondisi di lokasi dinilai tidak memungkinkan.

Ia menyebut para mahasiswa tetap bersikeras ingin bertemu langsung dengan gubernur.

"Saya sudah beberapa kali menyampaikan supaya bertemu di kantor, bukan di situ. Tapi mereka tetap ngotot. Sampai akhirnya saya keceplosan mengatakan, 'Ose ini manusia ka monyet'," ujarnya.

Ia menegaskan ucapan tersebut bukan bermaksud menghina masyarakat Seram Utara ataupun mengandung unsur rasial.

"Saya sebagai manusia biasa menyampaikan permohonan maaf atas bahasa saya dan atas kekhilafan saya. Saya tidak ada niat rasis. Saya hanya menjalankan tugas pengamanan," katanya.

La Rahimu juga mengaku belum sempat menyampaikan permintaan maaf secara langsung kepada mahasiswa karena setelah kejadian gubernur langsung meninggalkan lokasi.

"Saya mohon maaf. Saya berharap persoalan ini tidak dipelintir. Tidak ada niat saya menghina basudara di Seram Utara," ujarnya.

Kronologi Kejadian

Sersan Kepala (Serka) La Rahimu, Pengawal pribadi Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa yang viral usai menghina mahasiswa saat Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Lapangan Merdeka Ambon pada Senin (17/8/2026). 

Serka La Rahimu menghina mahasiswa bernama Wili Ropena dengan umpatan "monyet". 

Hal itu terjadi saat mahasiswa ini berusaha menyerahkan surat yang dibawa dari Raja Tanah Manusela, Sepnat Amanukuany, di Pegunungan Seram Utara.

Wili Ropena dan empat mahasiswa asal Pegunungan Pulau Seram ini awalnya mau menyampaikan aspirasi kepada Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, usai upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Lapangan Merdeka Ambon. 

Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 11.00 WIT, sesaat setelah Hendrik Lewerissa selesai memimpin upacara sebagai inspektur upacara dan mulai meninggalkan Lapangan Merdeka.

20260820 ftrser ka la ftr
SERKA LA RAHIMU

Saat gubernur menuruni tangga menuju kendaraan dinasnya, lima mahasiswa yang terdiri dari empat laki-laki dan seorang perempuan bergerak mendekat.

Mereka mengenakan ikat kepala merah sebagai simbol perjuangan masyarakat adat Pegunungan Seram Utara.

Kelima mahasiswa itu tidak membawa pengeras suara maupun spanduk berukuran besar. 

Mereka hanya membawa dua poster berwarna merah dan sepotong bambu yang di dalamnya berisi surat dari Raja Tanah Manusela yang hendak diserahkan langsung kepada gubernur.

Namun, ketika salah seorang mahasiswa mencoba mendekati Hendrik Lewerissa, langkah mereka langsung diadang pengawal pribadi gubernur hingga terjadi aksi saling tarik.

Surat yang ingin disampaikan tidak pernah sampai ke tangan gubernur.

Di tengah ketegangan itu, terdengar ucapan bernada penghinaan yang kemudian viral di media sosial.

Dalam rekaman video yang beredar, pengawal pribadi Gubernur Maluku, Sersan Kepala La Rahimu, terdengar mengatakan: 

"Kau dengar ka seng, ada aturannya monyet ee. Hargai orang sedikit."

Ucapan tersebut sontak menuai sorotan publik dan memicu reaksi berbagai kalangan.

Surat Akhirnya Diterima Pemprov

Meski gagal bertemu langsung dengan Gubernur Maluku, surat dari Raja Tanah Manusela, Sepnat Amanukuany, akhirnya tetap diterima oleh petugas.

Dokumen tersebut kemudian diserahkan kepada Juru Bicara Pemerintah Provinsi Maluku, Kasrul Selang.

Sementara itu, viralnya video dugaan penghinaan terhadap mahasiswa asal Seram terus menjadi perhatian publik. 

(Bangkapos.com/Tribunnews.com/Surya.co.id)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.