SURYA.CO.ID TRENGGALEK - Setelah hampir dua bulan melaut, Kapal Putra Leo Makmur akhirnya mendekati Pelabuhan Perikanan Nusantara Prigi dengan muatan cakalang, setelah cuaca dan minimnya ikan memperpanjang perjalanan. Kapal itu lalu bersandar dekat pintu masuk Pantai Mutiara.
Pemandangan tak seperti biasanya terlihat di Teluk Prigi, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur. Sebuah kapal berukuran besar tampak berada di sekitar kawasan pelabuhan, sementara kendaraan pengangkut hasil tangkapan bersiap di sisi dermaga.
Kapal Putra Leo Makmur berukuran 99 gross tonnage (GT) itu sebelumnya bersiap membongkar hasil tangkapan ikan cakalang setelah hampir dua bulan berada di laut.
Namun, karena gelombang masih tinggi, kapal tersebut akhirnya berpindah dari Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Prigi ke dekat pintu masuk Pantai Mutiara.
Sejumlah anak buah kapal (ABK) terlihat sibuk mempersiapkan proses pembongkaran. Kendaraan pengangkut hasil tangkapan juga telah menunggu di sekitar lokasi.
Baca juga: Kapal Nelayan Puger Dihantam Ombak hingga Terbalik, 1 Tewas dan 3 Hilang
Kapal milik Ateng Sunoto itu merupakan salah satu kapal dengan tonase cukup besar. Kapal tersebut dilengkapi freezer sehingga ikan hasil tangkapan tetap terjaga kesegarannya selama berada di tengah laut.
Ateng Sunoto mengatakan, kapal yang biasanya melaut sekitar 30 hari kali ini harus berada di laut hampir dua bulan sebelum bisa kembali dan bersandar.
"Biasanya 30 hari sudah pulang. Ini terkendala cuaca, hampir dua bulan baru bisa sandar," ujar Ateng Sunoto kepada SURYA.CO.ID, Kamis (20/8/2026).
Selama melaut, Kapal Putra Leo Makmur menjangkau wilayah perairan selatan hingga sekitar lintang 11 sampai 12 derajat. Lokasi penangkapan berada di laut lepas, mengarah ke selatan hingga mendekati perairan Australia.
Menurut Ateng, lamanya perjalanan tidak hanya dipengaruhi kondisi cuaca. Hasil tangkapan yang belum mencukupi juga membuat kapal harus lebih lama berada di laut.
"Cuaca terus, tangkapannya juga belum ada ikan," bebernya.
Baca juga: Cuaca Ekstrem Mengintai, Satpolairud Edukasi Nelayan Situbondo soal Keselamatan Melaut
Kondisi tersebut membuat biaya operasional yang dikeluarkan menjadi lebih besar. Meski demikian, Ateng menyebut hasil tangkapan dalam tiga perjalanan sebelumnya masih tergolong lumayan.
"Ini sudah trip keempat. Tiga trip sebelumnya hasilnya lumayan bagus, standar lah, masih jalan dan semuanya dapat," ungkapnya.
Untuk perjalanan kali ini, Ateng belum dapat memastikan jumlah ikan cakalang yang berhasil dibawa pulang. Jumlah tangkapan baru bisa diketahui setelah seluruh hasil tangkapan selesai dibongkar.
Kapal Putra Leo Makmur sebelumnya merupakan kapal purse seine yang kemudian dimodifikasi untuk menangkap ikan cakalang.
Ateng menjelaskan, kapasitas angkut kapal setelah dimodifikasi belum dapat dipastikan secara pasti. Namun, pada perjalanan sebelumnya kapal tersebut pernah membawa sekitar 25 ton hingga 30 ton ikan cakalang.
"Cakalang ikannya besar-besar. Jadi, muatnya berapa, kita belum tahu. Sebelumnya sekitar 25 ton sampai 30 ton," jelasnya.
Ateng memilih PPN Prigi sebagai tempat kapal bersandar dan membongkar hasil tangkapan karena dirinya merupakan warga setempat. Ia ingin aktivitas kapal cakalang turut mendorong pengembangan wilayahnya.
"Kita kan orang sini. Kita harus mengembangkan wilayah kita sendiri. Memotivasi orang-orang kita, ayo kita kerja kapal cakalang pakai purse seine," tuturnya.
Meski memilih PPN Prigi, Ateng berharap fasilitas pelabuhan terus ditingkatkan, terutama dermaga untuk kapal dengan tonase besar. Menurut dia, kondisi gelombang di area dermaga masih menjadi kendala ketika kapal hendak bersandar dan melakukan bongkar muat.
"Semoga pelabuhannya dibuat dermaga yang bagus untuk kapal-kapal tonase 30 GT. Kalau kita sandar nanti biar enak, tidak ada gelombang," harapnya.
Ia juga menilai penahan ombak diperlukan agar kapal tidak terlalu bergoyang ketika aktivitas bongkar muat berlangsung.
"Mungkin perlu penahan ombak. Mudah-mudahan ke depannya PPN Prigi semakin kuat," katanya.
Selain fasilitas pelabuhan, kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) menjadi persoalan lain bagi kapal penangkap ikan. Untuk sekali perjalanan, Kapal Putra Leo Makmur membutuhkan sekitar 24 ton BBM yang diperkirakan digunakan untuk melaut selama sekitar 40 hari.
"Kebutuhannya hari ini 24 ton. Itu untuk 40 hari berlayar, satu kali jalan," ujar Ateng.
Ateng berharap harga BBM bagi kapal nelayan dapat segera turun melalui kebijakan harga khusus yang sedang diajukan.
"Ini masih mau mengajukan. Mudah-mudahan benar-benar di 15 ribu," ungkapnya.
Pada perjalanan sebelumnya, pihaknya masih menggunakan BBM dengan harga yang lebih tinggi. Ia berharap saat kapal kembali berangkat, harga BBM sudah mengalami penurunan.
"Iya, kemarin masih pakai itu. Mudah-mudahan saat mau berangkat ini BBM-nya sudah turun lagi," ulasnya.
Bagi Ateng, cuaca, ketersediaan ikan, biaya operasional, hingga fasilitas pelabuhan menjadi tantangan yang harus dihadapi dalam usaha penangkapan ikan. Ia tetap berharap perjalanan berikutnya berlangsung lebih normal dengan hasil tangkapan yang lebih baik.
"Mudah-mudahan trip kedua ini satu bulan bisa penuh, bisa pulang. Mudah-mudahan kita dapat hasil," tandasnya.