Hampir 4 Ribu Gempa Susulan Guncang NTT, 82.691 Orang Mengungsi
Endra Kurniawan August 20, 2026 10:38 PM

 

TRIBUNNEWS.COM - Hampir 4 ribu gempa susulan tercatat mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) setelah gempa utama magnitudo 7,7 mengguncang Flores pada Sabtu (15/8/2026).

Data terbaru Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) hingga Kamis (20/8/2026) pukul 20.00 WIB menunjukkan telah terjadi 3.970 gempa bumi susulan.

Dari jumlah tersebut, gempa susulan memiliki magnitudo antara M1,1 hingga M6,2.

Sebanyak 30 kejadian berkekuatan di atas M5, sementara 117 gempa dirasakan oleh masyarakat.

Angka itu meningkat cukup tajam dibanding pemantauan BMKG sehari sebelumnya. Hingga 19 Agustus 2026 pukul 05.00 WIB, BMKG mencatat 2.768 gempa susulan dengan 24 kejadian berkekuatan di atas M5 dan 81 gempa dirasakan.

Di tengah bertambahnya jumlah gempa, terdapat perkembangan yang dinilai positif dari pola aktivitas susulan.

Berdasarkan grafik peluruhan yang dipantau BMKG, aktivitas gempa mulai menunjukkan tren penurunan. Pola tersebut mengindikasikan frekuensi gempa susulan perlahan berkurang setelah sebelumnya sangat aktif pascagempa utama.

Namun, penurunan aktivitas tidak berarti gempa susulan langsung berhenti.

BMKG memperkirakan rangkaian gempa susulan masih dapat berlangsung sekitar 3-4 minggu setelah gempa utama. Dengan demikian, masyarakat di wilayah terdampak tetap perlu bersiap menghadapi kemungkinan guncangan meski intensitas aktivitas secara umum mulai menurun.

Pola penurunan tersebut sebelumnya juga tercermin dalam pembaruan BNPB pada 19 Agustus. Saat itu, BNPB melaporkan jumlah gempa susulan telah mencapai 3.002 kejadian dan menyebut aktivitasnya mulai menunjukkan tren menurun.

Baca juga: Anak-anak Nagekeo Masih Takut Gempa, Ada yang Jatuh dan Lihat TV Pecah

Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto menjelaskan gempa utama M7,7 dipicu aktivitas Sesar Naik Busur Belakang Flores (Flores Back-Arc Thrust) dengan mekanisme pergerakan naik atau thrust fault.

"Ini adalah mekanisme gempa yang diakibatkan oleh sesar naik busur belakang Flores," kata Wijayanto dalam konferensi pers di Jakarta, Sabtu (15/8/2026).

Wijayanto juga mengingatkan bahwa struktur tektonik tersebut memiliki potensi menghasilkan gempa besar.

"Gempa magnitudo 7,7 di belakang busur Flores ini ada potensi gempa dengan maksimum 7,8 - 7,9," ujarnya.

Ia menambahkan, kawasan tersebut memiliki catatan sejarah gempa besar. Pada 1992, gempa M7,5 terjadi di wilayah tersebut dan menimbulkan kerusakan serta tsunami.

"Jadi, ini sudah lebih dari 30 tahun, terjadi lagi. Nanti akan terus kita monitor aktivitas gempa susulannya," kata Wijayanto.

Sejak gempa utama terjadi, BMKG terus melakukan pemantauan terhadap aktivitas gempa susulan dan dinamika tinggi muka laut di wilayah terdampak.

Warga Diminta Jangan Masuk Bangunan Rusak

Ancaman gempa susulan menjadi perhatian serius karena sebagian bangunan di wilayah terdampak telah mengalami kerusakan akibat gempa utama.

Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto saat menemui penyintas di Desa Peozaka Ramba, Kabupaten Ende, Rabu (19/8), meminta warga tidak kembali memasuki bangunan yang mengalami kerusakan sebelum dinyatakan aman.

"Kalau rumah sudah rusak, jangan dipaksakan untuk masuk. Kita tidak pernah tahu kapan gempa susulan terjadi. Yang paling penting sekarang adalah keselamatan Bapak dan Ibu semua," ujar Suharyanto.

Suharyanto juga meminta masyarakat tetap tenang tanpa mengurangi kewaspadaan terhadap kemungkinan guncangan berikutnya.

"Jangan panik, tetapi jangan lengah. Tetap berada di tempat yang aman, ikuti arahan petugas, dan jangan kembali ke rumah yang rusak sebelum dipastikan aman," katanya.

Baca juga: Momen Wapres Gibran Temui Pengungsi Gempa NTT: Enggak Berani Pulang Rumah?

BNPB mencatat sebagian warga memilih bertahan di tenda darurat karena khawatir terhadap gempa susulan. Pemerintah daerah kemudian menyediakan tenda keluarga sebagai tempat tinggal sementara bagi masyarakat terdampak.

Dari total 3.970 gempa susulan yang tercatat BMKG hingga Kamis malam, sebanyak 117 kejadian dirasakan masyarakat.

Sementara itu, kekuatan gempa susulan masih berada pada rentang M1,1 hingga M6,2. Sebanyak 30 kejadian tercatat memiliki magnitudo lebih dari M5.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa meskipun grafik aktivitas mulai melandai, rangkaian kegempaan belum sepenuhnya berakhir.

Karena itu, periode beberapa pekan ke depan tetap menjadi fase yang membutuhkan kewaspadaan, khususnya bagi warga yang rumahnya mengalami kerusakan akibat gempa utama.

82.691 Orang Mengungsi

KORBAN GEMPA - Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming meninjau penanganan bencana gempa bumi 7,7 magnitudo di Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Kamis, (20/8/2026).
KORBAN GEMPA - Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming meninjau penanganan bencana gempa bumi 7,7 magnitudo di Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Kamis, (20/8/2026). (Sekretariat Wakil Presiden)

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 72 orang meninggal dunia akibat Gempa Flores, Sabtu (15/8/2026).

Sebanyak 900 orang luka-luka, 82.691 orang mengungsi. BNPB juga mencatat ada 18.019 kepala keluarga yang terdampak.

Adapun kerugian material, sebanyak 29.001 rumah mengalami kerusakan, terdiri dari 11.699 rumah rusak berat, 6.542 rumah rusak sedang dan 10.760 rumah rusak ringan.

Sedangkan fasilitas yang rusak mencakup 804 fasilitas pendidikan, 237 fasilitas kesehatan, 1 gudang bulog, 116 fasilitas umum, 1 pasar, 195 rumah ibadah, 257 unit kantor, 9 fasilitas irigasi, 45 titik jalan, dan 16 jembatan yang terdampak.

Demikian data yang dirilis BNPB pada Kamis (20/8) pukul 09.00 WIB.

Status tanggap darurat diberlakukan di sejumlah wilayah terdampak, yakni Kabupaten Manggarai, Manggarai Timur, Manggarai Barat, Ngada, Nagekeo, Sikka dan Kabupaten Ende.

Pasca gempa, BNPB bersama kementerian terkait terus melakukan penanganan darurat.

Penanganan difokuskan pada pencarian dan pertolongan, evakuasi, pelayanan kesehatan, pemenuhan logistik dan pengungsian, pengerahan personel gabungan, serta percepatan pemulihan jalan, listrik, komunikasi dan infrastruktur dasar.

Sementara itu, berbagai upaya lain juga sudah dilakukan. Di antaranya, pemerintah pusat telah membentuk Posko Pendampingan Utama (Pospenas) di Labuan Bajo dan Maumere.

Basarnas mengoordinasikan pencarian dan pertolongan terhadap warga terdampak yang belum ditemukan.

Posko logistik nasional juga sudah dibentuk di Bandara Halim Perdanakusuma, Posko AJU ada di bandara yang berada di Labuan Bajo dan Maumere.

Selain itu, Emergency Medical Team (EMT) sebanyak empat tim dikerahkan dari Kabupaten Nagekeo, Kabupaten Sikka, RSUD Ruteng Kabupaten Manggarai dan Kabupaten Manggarai Timur.

Kementerian PU melalui BPJN juga telah melakukan pemulihan jalan yang tertutup longsor.

Dari 9 ruas jalan nasional yang terdampak, seluruhnya telah kembali fungsional. Yakni dari jalur Trans Flores mulai dari Labuan Bajo-Ende-Maumere. 

Sementara satu ruas Ruteng-Reo-Kedindi juga telah kembali dapat dilalui.

Sebanyak 40 titik longsoran juga telah ditangani. Empat titik patahan jalan pun sama, sudah bisa dilalui, dan lima titik jembatan dan plat duiker masih dapat difungsikan.

Selain itu, di sektor energi, Pertamina juga sudah memastikan sebagian besar SPBU di wilayah Flores sudah kembali beroperasi normal untuk melayani masyarakat.

Pertamina juga mendukung BBM sebanyak 2,5 ton dan 1 ton BBM solar untuk penanganan darurat di Kabupaten Manggarai.

Pemulihan komunikasi juga menjadi prioritas untuk menunjang posko penanganan darurat, fasilitas kesehatan, lokasi pengungsian, layanan pemerintahan, serta titik-titik operasional petugas di lapangan.

Baca juga: Sejumlah Negara Tawarkan Bantuan Gempa NTT, RI Pilih Sumber Daya Nasional

Sementara itu, pemulihan kelistrikan di Flores Bagian Timur dan UP3 Flores Bagian Barat telah mencapai 100 persen.

Sebanyak 11 trafo GI, 59 penyulang, dan 3.478 gardu distribusi seluruhnya telah menyala kembali.

Sementara untuk dukungan logistik, pada 19 Agustus 2026 pemerintah telah mendistribusikan bantuan logistik melalui sejumlah penerbangan.

Di antaranya dikirim menuju Labuan Bajo dan Maumere menggunakan pesawat Airbus dan Boeing dengan total bantuan masing-masing tonase 22.493 kg, 10.450 kg dan 10.005 kg.

Prioritas pengiriman diarahkan ke Posko Maumere sebanyak 5.000 paket sembako dan Posko Labuan Bajo sebanyak 2.900 paket sembako.

Bantuan lain melalui dukungan Alutsista/Armada Udara meliputi satu unit helikopter AS 350 B3, dua pesawat Susi Air, satu unit helikopter Caracal TNI AU, satu unit helikopter Bell 412 TNI AD, satu unit pesawat Caravan Ditjen Hubud.

Dukungan melalui armada darat dan laut juga dilakukan untuk mendukung penanganan bencana tersebut.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.