Profil Fathimah Azzahra, Wakil Ketua BEM UI yang Disorot, Berani Debat dengan Kapolres Metro Jakpus saat Demo
Fidiah Nuzul Aini August 21, 2026 07:34 AM

Grid.ID -Berikut profil Fathimah Azzahra, wakil ketua BEM UI yang sedang disorot. Sosoknya berani debat dengan Kapolres Metro Jakarta Pusat saat demo.

Nama Fathimah Azzahra menjadi perhatian setelah terlibat perdebatan dengan Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Pol Reynold Hutagalung saat demonstrasi di kawasan Sudirman, Jakarta Pusat, pada Selasa (18/8/2026). Siapakah sosoknya?

Profil Fathimah Azzahra

Melansir dari Kompas.com, Fathimah menyelesaikan pendidikan menengahnya di SMAN 3 Depok sebelum melanjutkan studi ke Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK UI). Ia berhasil masuk UI melalui jalur Talent Scouting pada Program Kelas Khusus Internasional (KKI) dan tercatat sebagai mahasiswa sejak 28 Agustus 2023.

Selama menempuh pendidikan kedokteran, Fathimah aktif mengikuti berbagai kegiatan akademik maupun organisasi. Ia pernah dipercaya sebagai Head of Community of Neuroscience and Psychiatry (CORE) FK UI, sebuah komunitas yang berfokus pada edukasi mengenai kesehatan mental kepada masyarakat.

Aktif dalam Organisasi Kampus

Keterlibatan Fathimah dalam organisasi tidak hanya terbatas di lingkungan fakultas. Ia juga pernah menduduki posisi Head of 2nd Commission Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) UI yang memiliki tugas berkaitan dengan pengawasan pelaksanaan demokrasi di lingkungan kampus.

Pengalaman tersebut berlanjut ke tingkat universitas. Pada 2026, Fathimah dipercaya menjadi Wakil Ketua BEM UI mendampingi Yatalathof Ma'shum Imawan.

Di sela kesibukannya berorganisasi, Fathimah tetap aktif mengembangkan kemampuan di bidang akademik dan penelitian.

Raih Juara Riset Nasional

Pada 2025, Fathimah berhasil meraih juara pertama dalam kompetisi riset nasional The 17th Liver Update. Prestasi tersebut diperoleh melalui penelitian yang berfokus pada bidang hepatologi.

Ia juga pernah menjadi orator dalam aksi bertajuk "Independence of the Medical Profession" yang digelar bersama Dewan Guru Besar FK UI.

Berbagai pengalaman tersebut membuat Fathimah memiliki rekam jejak yang cukup beragam, mulai dari organisasi mahasiswa, kegiatan akademik, penelitian, advokasi, hingga edukasi kepada masyarakat.

Dikenal karena Sikap Kritis

Sebelum aksi mahasiswa pada 18 Agustus 2026, Fathimah telah beberapa kali mendapat perhatian publik setelah menyampaikan pandangan kritis dalam sejumlah forum diskusi terkait kebijakan pemerintah.

Salah satu isu yang pernah disorotnya adalah Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Fathimah menyampaikan bahwa pemerintah perlu lebih dahulu memperhatikan kebutuhan mendasar masyarakat, termasuk pemenuhan akses serta pembangunan infrastruktur pendidikan, sebelum memperluas program lainnya.

Pernyataan tersebut kemudian ramai diperbincangkan di media sosial. Sejak saat itu, Fathimah semakin dikenal sebagai salah satu mahasiswa yang aktif menyuarakan kritik dan pandangan terhadap berbagai kebijakan publik.

Usai membahas profil Fathimah Azzahra, wakil BEM UI itu kini menjadi sorotan usai debat dengan Kapolres Metro Jakarta Pusat saat demo.

Wakil Ketua BEM Universitas Indonesia (UI) Fathimah Azzahra menyebut penghentian program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi salah satu tuntutan yang paling mendesak untuk direalisasikan pemerintah dari delapan aspirasi yang disampaikan mahasiswa.

Menurut Fathimah, program MBG perlu menjadi perhatian serius karena pelaksanaannya berkaitan langsung dengan keselamatan dan kehidupan masyarakat.

"Menurut saya sebenarnya, yang paling utama banget harusnya program MBG. Karena saat ini, mungkin bukan paling mudah untuk laksanakan diselesaikan Tapi menurut kita, itu yang paling wajib. Karena itu udah langsung berkaitan dengan nyawa," kata Fathimah setelah aksi demonstrasi mahasiswa di depan Gedung UOB, Jakarta, dikutip dari Tribunnews.com.

Ia juga menyoroti sejumlah kejadian keracunan yang dialami anak-anak usai menyantap makanan dalam program MBG.

Fathimah menilai persoalan tersebut perlu mendapat perhatian serius dan tidak boleh dipandang sebelah mata, mengingat para korban merupakan anak-anak yang masih berada pada tahap pertumbuhan dan perkembangan.

"Banyak sekali anak-anak yang keracunan dari mereka sendiri dalam video-videonya sudah mengatakan bahwa mereka sampai bilang terpaksa 'Kita tidak mau lagi, Pak, makan MBG' dan sebagainya, dan satu nyawa itu sangat berharga," tegas dia.

Fathimah mengatakan dampak keracunan tidak selalu berhenti setelah anak mendapatkan pengobatan dan dinyatakan sembuh.

"Karena keracunan tetap ada dampaknya loh, ketika mereka dalam masa pertumbuhan, jangan dianggap enteng keracunan, diobati, sembuh, ada dampak yang mungkin lebih berat lagi untuk dikembalikan dan sebagainya. Jadi jangan bermain-main dengan nyawa seseorang. Apalagi nyawa anak-anak," ujarnya.

Selain MBG, Fahtimah menilai pemerintah juga dapat segera bergerak dalam penanganan bencana di Flores, NTT.

"Dua, sebenarnya yang menurut kita seharusnya bisa paling cepat adalah tentang bencana di Flores itu menjadi salah satu tuntutan kita juga," kata Fathimah.

Menurut dia, pemerintah perlu belajar dari pengalaman penanganan bencana di Aceh agar respons terhadap bencana di Flores dapat dilakukan lebih cepat dan efektif.

"Dan menurut kita, pemerintah seharusnya belajar dari Aceh kemarin yang sampai hari ini rehabilitasi dan sebagainya itu berlalu terlarut," ujarnya.

Ia menilai evaluasi terhadap penanganan bencana sebelumnya penting dilakukan agar pemerintah tidak mengulangi persoalan yang sama ketika menghadapi bencana baru.

"Daerah di Aceh yang terkena bencana sebelumnya harusnya pemerintah bisa belajar 'oh, kemarin kita kekeh pengen cara menanganinya ABC, ternyata agak gagal nih', masih banyak banget bagian-bagian daerah yang masih belum kembali seperti semua dan sebagainya ketika ada bencana lagi, mereka harusnya belajar kira-kira harus seperti apa supaya ini penangannya bisa lebih cepat lagi, bisa lebih segera kembali seperti semua dan sebagainya," pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.