Berita Arema FC Hari Ini Populer: Nasib Logo Singa Bertindik, Polemik Mural Malang The Glory Land
Sarah Elnyora Rumaropen August 21, 2026 07:35 AM

SURYAMALANG.COM, MALANG - Upaya Arema FC untuk mengamankan hak merek atas logo historis Singa Bertindik harus menghadapi ganjalan usai munculnya surat usulan penolakan dari DJKI akibat keberatan dari pihak lain.

Di saat bersamaan, jagat suporter Malang dihebohkan oleh aksi penimpaan karya mural legendaris 'Malang The Glory Land' di kawasan Stadion Gajayana oleh panitia acara lokal.

Manajemen Arema FC memastikan tetap menempuh jalur hukum resmi dalam masa sanggah, sementara Presidium Aremania Utas bertindak sebagai mediator guna meredam potensi konflik antar-suporter.

Berikut ulasan selengkapnya:

Upaya Arema FC untuk mendapatkan kembali hak atas logo historis Singa Bertindik belum berjalan mulus.

Manajemen Arema FC mengungkapkan masih adanya keberatan dari salah satu pihak dalam proses pendaftaran merek yang tengah berlangsung di Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI).

Meski menghadapi ganjalan hukum, Arema FC memastikan tidak akan menghentikan langkahnya untuk memperjuangkan logo yang selama ini memiliki nilai historis dan emosional kuat bagi klub maupun Aremania.

Informasi mengenai keberatan tersebut diterima manajemen Arema FC melalui surat elektronik dari DJKI.

Keberatan itu muncul pada masa pengumuman pendaftaran logo historis singa bertindik yang diajukan oleh klub.

General Manager Arema FC, Yusrinal Fitriandi (Inal), menilai adanya keberatan dalam proses pendaftaran merek merupakan hal yang lazim terjadi dan menjadi bagian dari mekanisme hukum yang berlaku.

"Penyanggahan atau keberatan dalam proses seperti ini merupakan hal yang wajar dan memang menjadi bagian dari mekanisme yang ada."

"Kami akan merespons dan menindaklanjutinya sesuai dengan tata cara serta ketentuan hukum yang berlaku," kata Inal kepada SURYAMALANG.COM, Kamis (20/8/2026).

Inal menegaskan, keberatan dari pihak lain tidak akan membuat manajemen mundur dalam upaya mengembalikan logo yang sudah lama melekat dengan identitas Arema FC.

Menurutnya, logo singa bertindik bukan sekadar simbol visual, tetapi juga memiliki ikatan emosional yang kuat dengan perjalanan sejarah klub dan para pendukungnya.

"Yang pasti, ini tidak menyurutkan langkah kami."

"Kami tetap akan memperjuangkan logo ini, tentunya dengan cara yang sesuai dengan prosedur hukum dan tetap menghormati proses yang sedang berjalan," tegasnya.

Sementara itu, Direktur Legal PT Arema Aremania Bersatu Berprestasi Indonesia (AABBI), Adi Ismanto, menjelaskan bahwa saat ini proses pendaftaran masih berada pada tahap yang memungkinkan pemohon memberikan tanggapan.

Ia menyebut, setelah adanya surat dari DJKI terkait usulan penolakan, Arema FC masih memiliki kesempatan untuk menyampaikan argumentasi dalam masa sanggah selama 30 hari kerja.

"Dalam proses seperti ini tentu ada alur yang harus kami ikuti."

"Kalau statusnya masih berupa usulan penolakan, terdapat masa sanggah selama 30 hari kerja untuk memberikan tanggapan."

"Kami akan mengikuti proses tersebut sesuai dengan ketentuan yang berlaku," ujarnya.

Adi menambahkan, kalau Arema FC memilih untuk tetap menempuh seluruh tahapan sesuai koridor hukum yang berlaku.

Manajemen tidak ingin mengambil langkah di luar mekanisme resmi dalam proses pendaftaran merek tersebut.

"Prinsipnya kami patuh terhadap hukum dan mengikuti alur yang sudah ditetapkan."

"Kami akan memberikan tanggapan dalam masa sanggah sesuai dengan prosedur yang berlaku."

"Apabila nantinya terdapat tahapan hukum berikutnya, tentu akan kami ikuti sesuai mekanismenya," tandasnya.

 

Presidium Aremania Utas turut memberikan respons mengenai mural Malang The Glory Land yang ditimpa oleh mural Malang Menyala Bersama, Kamis (20/8/2026).

Mural tersebut ditimpa oleh oknum, untuk menyemarakkan event Festival Mbois yang akan berlangsung di Stadion Gajayana, Kota Malang akhir pekan ini.

Hal tersebut menyulut amarah Aremania, sekaligus memicu perbincangan di kalangan masyarakat Malang.

Mural yang telah digambar sejak tahun 2016 itu dianggap memiliki nilai historis bagi Aremania maupun warga Malang.

Malang The Glory Land atau Malang Tanah Kejayaan merupakan karya dari almarhum Sam Nyek, salah satu tokoh Aremania dari This Is Arema.

Humas Presidium Aremania Utas, Dedi Arisandi menyampaikan, bahwa sebagai organisasi suporter pihaknya mendorong penyelesaian persoalan secara damai dan kekeluargaan.

Pria yang akrab disapa Pak Wo itu menyayangkan tindakan panitia Festival Mbois yang disebut melakukan perubahan terhadap mural tanpa terlebih dahulu berkomunikasi dengan pihak yang membuat atau menginisiasi karya tersebut.

Menurutnya, komunikasi seharusnya menjadi langkah awal sebelum mengambil tindakan terhadap sebuah karya yang memiliki nilai emosional bagi sebagian Aremania.

Ia menegaskan, meskipun mural tersebut bukan milik organisasi, namun isu yang berkaitan dengan identitas Aremania kerap menyeret nama organisasi suporter untuk memberikan penjelasan kepada publik.

Dalam hal ini, Presidium Aremania Utas hanya sebagai penengah bagi kedua belah pihak.

Agar nantinya persoalan tersebut bisa selesai dan tidak ini berkembang menjadi konflik berkepanjangan yang berpotensi memicu gesekan di kalangan suporter.

"Kami di sini hanya sebagai penengah atau mediator supaya permasalahan ini tidak berlarut-larut ataupun menjadi permasalahan-permasalahan berikutnya," ucapnya.

Pak Wo meminta seluruh pihak harus menjaga citra Malang dan Aremania dengan mengedepankan dialog serta menghindari tindakan yang berujung pada sikap arogan maupun anarkis.

Ia juga berharap panitia bersedia memberikan klarifikasi kepada pihak yang merasa dirugikan serta menunjukkan itikad baik untuk bertanggung jawab.

Bentuk tanggung jawab itu, menurut Pak Wo, dapat berupa permintaan maaf maupun langkah lain yang disepakati bersama, termasuk kemungkinan pengecatan ulang apabila memang diperlukan.

"Kami harap dari panitia yang tidak mengklarifikasi ini atau melakukan perbuatan sepihak agar ada klarifikasi kepada yang memiliki tulisan ini dan legowo meminta maaf ataupun bertanggung jawab," tandasnya.

Sementara itu, mural Malang Menyala Bersama kini telah ditutup menggunakan cat biru sekitar pukul 16.30 WIB.

Dari informasi yang diterima Surya, mural tersebut ditutup sendiri oleh pihak panitia Festival Mbois.

Rencananya, setelah tembok tersebut diblok biru akan kembali digambar tulisan Malang The Glory Land.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.