Pangandaran Kembali Diguncang Gempa Kamis Malam, Warga Mengaku Tak Rasakan Ada Getaran
Dedy Herdiana August 21, 2026 07:35 AM

 

Laporan Kontributor Tribunjabar.id Pangandaran, Padna

TRIBUNPRIANGAN.COM, PANGANDARAN - Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, kembali diguncang gempa bumi berkekuatan Magnitudo 4,2 pada Kamis (20/8/2026) malam.

Berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa terjadi pada pukul 21.31.34 WIB.

Gempa tersebut berlokasi di 8,09 Lintang Selatan (LS) dan 107,88 Bujur Timur (BT), atau sekitar 80 kilometer barat daya Kabupaten Pangandaran. Gempa berada pada kedalaman 17 kilometer.

Guncangan gempa bumi tersebut dirasakan di Pangandaran, Kalapanunggal, Ciamis, dan Pameungpeuk dengan Skala MMI III.

"Gempa (UPDATE) Mag:4.2, 20-Agu-26 21:31:33 WIB, Lok:8.09 LS, 107.88 BT (Pusat gempa berada di laut 80 km Barat Daya Kab. Pangandaran), Kedlmn:17 Km Dirasakan (MMI) III Pangandaran, III Kalapanunggal, III Ciamis, III Pameungpeuk," tulis BMKG di akun X @infoBMKG, Kamis (20/8/2026) malam.

Baca juga: Laporan Terbaru BMKG: Gempa Pangandaran Jadi M4,2, Guncangan Dirasakan Hingga Pameunpeuk

Meski gempa tercatat mengguncang wilayah Pangandaran, sejumlah warga mengaku tidak merasakan getarannya.

Satu di antaranya warga di Sindangwangi, Kecamatan Padaherang, Herdiansyah (32), mengaku tidak mengetahui adanya gempa yang terjadi pada Kamis malam tersebut.

"Teu apal aya gempa (tidak tahu ada gempa), mungkin kecil gempanya," ujar Herdiansyah kepada Tribun Jabar di tempat nongkrong di Sindangwangi, Kamis malam.

Menurutnya, guncangan gempa kali ini terasa jauh lebih kecil dibandingkan gempa sebelumnya yang pernah dirasakan warga Pangandaran.

"Kalau kemarin-kemarin yang katanya 5,3 itu sangat terasa sampai lari keluar. Kalau sekarang sangat kecil," katanya.

Pusat gempa bumi ditunjukkan BMKG di peta informasinya berada di laut, 80 km Barat Daya Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat.

Titik pusat gempa berada pada kedalaman 17 km, merupakan gempa yang cukup dangkal.

Guncangan gempa bumi tersebut dirasakan di Pangandaran, Kalapanunggal, Ciamis, dan Pameungpeuk dengan Skala MMI III.

"Gempa (UPDATE) Mag:4.2, 20-Agu-26 21:31:33 WIB, Lok:8.09 LS, 107.88 BT (Pusat gempa berada di laut 80 km Barat Daya Kab. Pangandaran), Kedlmn:17 Km Dirasakan (MMI) III Pangandaran, III Kalapanunggal, III Ciamis, III Pameungpeuk," tulis BMKG di akun X @infoBMKG, Kamis (20/8/2026) malam.

Baca juga: Gempa Magnitudo 4,5 Guncang Pangandaran Kamis Malam, BMKG Ungkap Begini

Sebelumnya, BMKG melaporkan gempa terkini di Jawa Barat mengguncang Pangandaran dengan M 4,5 tersebut terjadi pukul 21.31 WIB.

Pusat gempa bumi ditunjukkan BMKG di peta informasinya berada di laut, 89 km Barat Daya Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat.

Namun dilihat dari peta yang ditunjukkan BMKG, tampak pusat gempa seperti di selatan Tasikmalaya.

Titik pusat gempa berada pada kedalaman 14 km, merupakan gempa yang cukup dangkal.

Dalam laporannya, BMKG juga menyatakan disclaimer bahwa informasi tersebut mengutamakan kecepatan, sehingga hasil pengolahan data belum stabil dan bisa berubah seiring kelengkapan data.

"Gempa Mag:4.5, 20-Aug-2026 21:31:31WIB, Lok:8.24LS, 107.89BT (89 km BaratDaya KAB-PANGANDARAN-JABAR), Kedlmn:14 Km #BMKG Disclaimer:Informasi ini mengutamakan kecepatan, sehingga hasil pengolahan data belum stabil dan bisa berubah seiring kelengkapan data," tulis BMKG di akun X @infoBMKG, Kamis (20/8/2026) malam.

Baca juga: Gempa Dangkal Guncang Bandung Dua Kali pada Selasa Malam

Pantauan Tribun di lokasi pada Kamis (20/8/2026) sekitar pukul 08.45 WIB, kondisi rumah permanen yang dihuni enam jiwa itu terlihat memprihatinkan. 

Sebagian dinding bagian belakang rumah jebol dan materialnya berserakan di lantai. Sebagian puing dinding yang runtuh telah dikumpulkan oleh pemilik rumah. 

Sementara dinding bagian belakang serta sisi kanan dan kiri rumah mengalami retakan dengan lebar sekitar dua sentimeter.

Kerusakan itu membuat Kusmayadi, istrinya, dan empat anak mereka terpaksa berkumpul dan tinggal di bagian depan rumah yang dinilai masih aman.

Kusmayadi mengatakan, dinding rumah yang jebol diketahui ambruk pada Selasa (18/8/2026) dini hari. 

Saat kejadian, dirinya bersama istri dan anak-anak sedang tidak berada di rumah.

"Waktu kejadian, kebetulan kita dan anak-anak tidak ada di rumah," ujar Kusmayadi kepada Tribun di rumahnya, Kamis (20/8/2026) pagi.

Menurutnya, kerusakan bermula dari retakan yang muncul setelah gempa. Seiring waktu, retakan tersebut semakin melebar hingga akhirnya dinding bagian belakang roboh.

"Jadi saat kejadian saya tidak tahu, tahu-tahu dinding rumah sudah ambruk. Cuma awal-awalnya dari getaran gempa, retakannya makin lama makin besar, makin lebar dan akhirnya ambruk kemarin," katanya.

Kusmayadi menyebut bagian yang mengalami kerusakan berada di area kamar dan belakang ruang makan. Sementara bagian depan rumah masih dalam kondisi relatif aman.

Rumah berukuran sekitar 6x9 meter itu kini belum dapat diperbaiki karena keterbatasan ekonomi. 

Kusmayadi yang bekerja sebagai sopir ambulans hanya berpenghasilan sekitar Rp1,8 juta per bulan. Sedangkan istrinya merupakan ibu rumah tangga.

"Tempat hunian sementara di depan, ngumpul semua," ucap Kusmayadi.

Camat Kalipucang, Ruhendi, mengatakan, berdasarkan laporan yang diterima pemerintah kecamatan, baru terdapat satu rumah warga yang dilaporkan terdampak gempa.

Namun, menurut Ruhendi, kerusakan rumah tersebut tidak sepenuhnya disebabkan oleh gempa. Bagian belakang bangunan disebut sudah dalam kondisi lapuk sebelumnya.

"Yang satu pun tidak serta-merta terdampak gempa karena kondisi rumah sebelumnya sudah lapuk bagian belakang," ujarnya.

Ia menyampaikan, bagian dinding tersebut juga tidak memiliki struktur penahan yang memadai. Getaran gempa diduga memperparah retakan hingga beberapa hari kemudian dinding akhirnya roboh.

"Kemudian dinding temboknya itu tidak ada tahanan. Mungkin saja ketika ada gempa terjadi retak dan beberapa hari kemudian terjadilah ambruk atau roboh," kata Ruhendi.

Meski demikian, pemerintah kecamatan sudah meminta pemerintah desa segera melaporkan kondisi itu kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pangandaran.

Ruhendi mengatakan, laporan kepada BPBD sudah disampaikan sesaat setelah kejadian agar kerusakan rumah tersebut dapat segera ditindaklanjuti.

"Agar segera ditindaklanjuti dan hari itu juga sesaat kejadian sudah disampaikan ke BPBD," ucapnya.

Baca juga: Update BMKG: Gempa M 4,1 di Laut Pangandaran Dirasakan di Tasikmalaya dan Cianjur

Skala Gempa 

Berdasarkan skala MMI yang dikutip dari laman BMKG, berikut info MMI yang dapat dipelajari.

I MMI: Getaran gempa tidak dapat dirasakan kecuali dalam keadaan luarbiasa oleh beberapa orang.

II MMI: Getaran atau goncangan gempa dirasakan oleh beberapa orang, benda-benda ringan yang digantung seperti lampu gantung bergoyang.

III MMI: Getaran gempa dirasakan nyata dalam rumah. Getaran terasa seakan-akan ada naik di dalam truk yang berjalan.

IV MMI: Pada saat siang hari dapat dirasakan oleh orang banyak di dalam rumah, di luar rumah oleh beberapa orang, gerabah pecah, jendela/pintu bergoyang hingga berderik dan dinding berbunyi.

V MMI: Getaran gempa bumi dapat dirasakan oleh hampir semua orang, orang-orang berlarian, gerabah pecah, barang-barang terpelanting, tiang-tiang dan benda besar tampak bergoyang, bandul lonceng dapat berhenti.

VI MMI: Getaran gempa bumi dirasakan oleh semua orang. Kebanyakan orang terkejut dan lari keluar, plester dinding jatuh dan cerobong asap di pabrik rusak, kerusakan ringan.

VII MMI: Semua orang di rumah keluar. Kerusakan ringan pada rumah dengan bangunan dan kontruksi yang baik. Sedangkan pada bangunan dengan konstruksi kurang baik terjadi retakan bahkan hancur, cerobong asap pecah. Dan getaran dapat dirasakan oleh orang yang sedang naik kendaraan.

VIII MMI: Kerusakan ringan pada bangunan dengan konstruksi kuat. Keretakan pada bangunan dengan konstruksi kurang baik, dinding terlepas dari rangka rumah, cerobong asap pabrik dan monumen roboh, air berubah keruh.

IX MMI: Kerusakan pada bangunan dengan konstruksi kuat, rangka rumah menjadi tidak lurus, banyak terjadi keretakan. Rumah tampak bergeser dari pondasi awal. Pipi-pipa dalam rumah putus.

X MMI: Bangunan dari kayu yang kuat rusak, rangka rumah lepas dari pondamennya, tanah terbelah rel melengkung, tanah longsor di tiap-tiap sungai dan di tanah-tanah yang curam.

XI MMI: Bangunan-bangunan yang sedikit yang masih berdiri. Jembatan rusak, terjadi lembah. Pipa dalam tanah tidak dapat terpakai sama sekali, tanah terbelah, rel sangat melengkung.

XII MMI: Hancur total, gelombang tampak pada permukaan tanah. Pemandangan berubah gelap, benda-benda terlempar ke udara.

Berikut tindakan yang perlu kamu lakukan saat gempa terjadi.

1. Tetap tenang

  • Saat gempa terjadi, berusahalah untuk tidak panik dan tetap tenang!
  • Tarik napas dalam-dalamnya, lalu lihatlah keadaan sekitar dan pilihlah spot yang aman untuk berlindung.

2. Di dalam rumah

  • Jika pada saat gempa sedang berada di dalam rumah atau penginapan, berusahalah menyelamatkan diri dan ajak orang yang ada di sekitarmu.
  • Meja adalah tempat terbaik untuk berlindung dari benda-benda yang berjatuhan akibat gempa.
  • Setelah itu, lindungi kepala dengan benda empuk. Misalnya bantal, helm, papan, atau yang paling praktis kamu bisa menggunakan kedua tangan dengan posisi tertelungkup.

3. Di luar ruangan

  • Jika pada saat gempa terjadi kamu sedang berada di luar ruangan tindakan pertama yang harus dilakukan adalah bergerak menjauhi gedung dan tiang lantas menuju daerah terbuka.
  • Tetap tenang dengan menarik napas dalam-dalam dan jangan lakukan apapun. Sebab, biasanya setelah gempa pertama akan terjadi gempa susulan. 

4. Di kerumunan

  • JIka saat itu kamu sedang berada di kerumunan, biasanya akan terjadi kepanikan.
  • Untuk mengindari hal tersebut. kamu bisa perhatikan arahan petugas penyelamat dan usahakan langsung menuju ke tangga darurat untuk menuju ke daerah terbuka.

5. Di gunung atau dataran tinggi

  • Jika gempa terjadi saat kamu sendang berada di gunung, bergeraklah menuju daerah lapang untuk berlindung.
  • Hidari daerah dekat lereng karena dipastikan akan menimbulkan longsor dan mengancam keselamatan jiwa.

6. Pusat gempa di laut

  • Gempa di bawah laut bisa menimbulkan gelombang tsunami.
  • Jika gempa itu terjadi, bergeraklah ke dataran yang lebih tinggi.

7. Di dalam kendaraan

  • Bagi yang sedang melakukan perjalanan saat terjadi gempa, berpeganglah erat agar tak terjatuh.
  • Berhentilah di tempat yang lapang dan berhentilah di sana.(*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.