Kapal Lebih Takut Iran atau AS? Data Kpler Ungkap Siapa yang Lebih Berpengaruh di Selat Hormuz
Garudea Prabawati August 21, 2026 10:38 AM

TRIBUNNEWS.COM - Selat Hormuz menjadi arena tarik-menarik pengaruh antara Iran dan Amerika Serikat (AS).

Presiden AS Donald Trump bersikeras militer Washington masih mengendalikan lalu lintas kapal di jalur strategis tersebut.

Namun, Iran menyatakan Selat Hormuz tertutup bagi kapal yang tidak meminta persetujuan Teheran sebelum melintas.

Di sisi lain, Gedung Putih juga memberlakukan blokade laut terhadap kapal-kapal yang terkait dengan Iran.

Lantas, kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz sebenarnya lebih takut kepada Iran atau Amerika Serikat?

Data lalu lintas kapal dari perusahaan intelijen maritim Kpler yang dikutip Al Jazeera memberikan gambaran mengenai pilihan para operator kapal di tengah perseteruan kedua negara.

Dua Rute yang Kini Jadi Persoalan

Dari laporan Al Jazeera, sebelum perang, Selat Hormuz pada dasarnya dipandang sebagai satu jalur pelayaran.

Kapal-kapal menggunakan skema pemisahan lalu lintas yang telah ditetapkan, terutama di bagian tengah selat.

Baca juga: Kata Pakar soal AS-Iran Saling Klaim Caplok Wilayah, AS Klaim Hormuz, Iran Klaim California

Akan tetapi, meningkatnya ketegangan antara Iran dan AS membuat jalur tersebut kini terbagi menjadi dua rute yang disebut sebagai rute Iran dan rute Oman.

Rute Iran berada di bagian utara, menyusuri pesisir Iran dekat Pulau Larak dan Pulau Qeshm.

Rute tersebut mengarah langsung ke pelabuhan dan terminal lepas pantai Iran.

Sementara itu, rute Oman berada di bagian selatan, lebih dekat dengan wilayah Oman dan lebih jauh dari garis pantai Iran.

Menurut Al Jazeera, rute Oman merupakan jalur yang ditekankan Washington dan digunakan kapal komersial yang mendapat perlindungan Angkatan Laut AS.

Mayoritas Kapal Minyak dan Gas Pilih Rute Tak Jelas

Data Kpler menunjukkan 112 kapal yang membawa minyak mentah, LPG, dan LNG melintasi Selat Hormuz pada 1-19 Agustus 2026.

Dari jumlah tersebut, 21 kapal secara terbuka menggunakan rute Iran.

Hanya dua kapal yang secara resmi tercatat menggunakan rute Oman.

Sementara 89 kapal lainnya, atau lebih dari 80 persen lalu lintas kapal pengangkut minyak dan gas pada periode tersebut, menggunakan rute yang tidak terklasifikasi atau disebut dark routing.

Kondisi tersebut terjadi karena sebagian kapal mematikan transponder Sistem Identifikasi Otomatis (AIS).

Akibatnya, pergerakan kapal tidak dapat sepenuhnya dilacak atau dipastikan masuk ke koridor Iran maupun Oman.

“Kapal memang dapat terpantau setelah kembali muncul, tetapi data yang tersedia tidak cukup untuk memastikan berapa banyak kapal yang sebenarnya menggunakan rute Oman,” kata Mohamed Rafik Halitim, Customer Success Manager bidang Maritime and Commodities di Kpler, kepada Al Jazeera.

Kapal Kargo Juga Banyak Tak Terlacak

Pola serupa juga terlihat jika seluruh jenis kapal yang melintasi Selat Hormuz diperhitungkan.

Baca juga: Terungkap, Detail Operasi Rahasia Amerika untuk Angkut Minyak Melalui Selat Hormuz

Kpler mencatat 236 kapal melintasi Selat Hormuz pada 1-19 Agustus 2026, termasuk kapal minyak dan gas, kapal kargo kering, serta kapal pengangkut bahan kimia.

Dari jumlah tersebut, 83 kapal secara terbuka menggunakan rute Iran.

Hanya tiga kapal yang secara terbuka menggunakan rute Oman, sementara dua kapal lainnya menggunakan jalur lama sebelum perang di bagian tengah selat.

Sebanyak 148 kapal lainnya menggunakan rute gelap atau rute yang tidak diketahui.

Artinya, lebih dari enam dari 10 kapal yang melintasi Hormuz pada periode tersebut tidak dapat dipastikan rutenya berdasarkan data pelacakan.

Mengapa Kapal Mematikan AIS?

Keputusan kapal untuk tidak menunjukkan rute secara terbuka tidak terlepas dari meningkatnya risiko pelayaran di Selat Hormuz.

Al Jazeera melaporkan, Iran dan Amerika Serikat sama-sama telah menyerang kapal yang menurut masing-masing pihak melanggar aturan atau rute pelayaran.

Dengan mematikan AIS, posisi dan pergerakan kapal menjadi lebih sulit diketahui secara tepat.

Neil Quilliam dari Chatham House mengatakan kepada Al Jazeera bahwa langkah tersebut dapat mengurangi visibilitas lokasi dan pergerakan kapal.

Namun, tindakan itu juga menimbulkan kekhawatiran terkait keselamatan dan transparansi maritim.

“Mematikan transponder dapat mengurangi visibilitas lokasi dan pergerakan kapal secara tepat, meskipun hal itu juga menimbulkan kekhawatiran tentang keselamatan dan transparansi maritim,” kata Quilliam kepada Al Jazeera.

Menurutnya, sebagian operator menilai manfaat komersial dan keamanan dari langkah tersebut lebih besar dibandingkan risikonya dalam kondisi saat ini.

Pada 8 Agustus, Uni Emirat Arab menuduh Iran menyerang kapal tanker milik Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) dengan rudal ketika kapal tersebut mencoba melewati Selat Hormuz.

Baca juga: Trump Makin Terpojok Lawan Iran! Klaim Kuasai Selat Hormuz Disebut Siasat Tutupi Kekalahan

ADNOC kemudian menyatakan 15 kapalnya telah diserang rudal dan drone sejak awal perang.

Serangan tersebut dilaporkan menewaskan satu anggota kru dan melukai 20 lainnya.

Namun, ADNOC tidak menyalahkan pihak tertentu atas serangan tersebut.

Amerika Serikat juga mengambil tindakan terhadap kapal yang dianggap melanggar blokadenya.

Pada Agustus, AS menyatakan helikopter Angkatan Laut menembakkan dua rudal Hellfire ke kapal kargo berbendera Panama, Vela Nova.

Menurut AS, kapal tersebut berupaya menerobos blokade pelabuhan Iran di Teluk Oman.

Ada Kapal yang Tetap Lewat Rute Oman

Di tengah ketidakjelasan sebagian besar rute pelayaran, sejumlah kapal tetap diketahui menggunakan rute Oman.

Mematikan AIS juga digunakan dalam skema pemindahan muatan antarkapal.

Peneliti dan konsultan kebijakan energi Marc Ayoub mengatakan kepada Al Jazeera bahwa sejumlah pengiriman dari negara-negara Teluk, termasuk Arab Saudi, Irak, dan Kuwait, menggunakan rute Oman dengan mematikan sistem pelacakan kapal.

Muatan kemudian dapat dipindahkan ke kapal lain di luar selat sebelum diteruskan ke tujuan akhir.

Menurut Ayoub, sejumlah kapal Iran juga menggunakan rute Oman dan melakukan transfer antarkapal untuk menghindari sanksi terhadap Iran serta blokade AS.

Kapal Lebih Takut Iran atau AS?

Data Kpler belum dapat memastikan secara pasti berapa banyak kapal yang menggunakan rute Iran dan Oman karena sebagian besar kapal mematikan transponder atau menggunakan rute yang tidak terklasifikasi.

Karena itu, data tersebut belum cukup untuk menentukan secara mutlak siapa yang mengendalikan Selat Hormuz.

Namun, pola pelayaran menunjukkan lebih banyak kapal yang secara terbuka memilih rute Iran dibandingkan rute Oman.

Sekitar seperlima kapal pengangkut energi secara terbuka melintasi Hormuz melalui rute Iran meskipun ada ancaman dari Trump dan blokade laut AS.

Jika kapal pengangkut kargo dan bahan kimia turut dihitung, persentasenya mencapai 35 persen.

Sebaliknya, hanya dua kapal minyak dan gas serta empat kapal secara keseluruhan yang secara terbuka menggunakan rute selain jalur yang ditetapkan Iran.

Iran Masih Punya Pengaruh di Hormuz

Para ahli yang dikutip Al Jazeera menilai Iran masih memiliki kemampuan signifikan untuk memengaruhi lalu lintas kapal di Selat Hormuz.

Marc Ayoub mengatakan Iran “tidak kehilangan kendali” dalam kondisi saat ini.

Neil Quilliam juga menyebut Iran masih memiliki kemampuan untuk mengganggu lalu lintas maritim dan mengancam pelayaran di selat tersebut.

Namun, menurut Quilliam, penggunaan jalur logistik alternatif, transfer antarkapal, serta peningkatan keamanan maritim regional menunjukkan kemampuan Iran memberikan tekanan melalui Hormuz tidak bersifat mutlak.

Pandangan tersebut sejalan dengan keterangan Peneliti Senior Indo Pacific Strategic Intelligence, Aisha Kusumasomantri, dalam Kompas Malam yang tayang di YouTube Kompas TV, Selasa (4/8/2026).

lihat foto
SELAT HORMUZ MASIH MEMANAS - Peneliti Senior Indo-Pacific Strategic Intelligence, Aisha Kusumasomantri, menilai klaim Presiden AS Donald Trump untuk membuka Selat Hormuz sulit terwujud karena Iran masih memegang kendali di jalur pelayaran strategis tersebut. Pernyataan itu disampaikan dalam program Kompas Malam, Selasa (4/8/2026).

Aisha menilai Iran masih memegang kendali atas Selat Hormuz.

“Iran masih memegang penuh Selat Hormuz,” kata Aisha.

Menurut Aisha, posisi tersebut berkaitan dengan kesepakatan yang disebutnya tertuang dalam MoU antara Amerika Serikat dan Iran.

“Jelas tertulis di pasal ke-5, Iran ini akan memegang kendali Selat Hormuz sampai akhirnya ditentukan pengaturan antara Iran dan Oman,” ujarnya.

Aisha mengatakan kondisi tersebut membuat klaim bahwa Amerika Serikat dapat membuka Selat Hormuz secara sepihak menjadi sulit dilakukan.

Ia juga menilai konflik di sekitar Selat Hormuz masih dapat berlanjut jika Iran dan AS terus mempertahankan eskalasi.

“Kalau kondisinya masih sama seperti sekarang, baik AS maupun Iran sama-sama tidak mau melakukan penurunan ego dan penurunan tensi di Timur Tengah, maka saya kira sebenarnya konflik di Selat Hormuz akan berjalan terus sampai akhir,” kata Aisha.

Hormuz dan Ancaman terhadap Pasokan Energi Dunia

Selat Hormuz merupakan jalur penting bagi perdagangan energi global.

Sebelum perang AS-Israel melawan Iran dimulai pada 28 Februari, sekitar seperlima pasokan minyak dan LNG dunia melewati selat tersebut.

Sekitar 130 kapal per hari biasanya melintasi Hormuz sebelum konflik.

Angka itu turun menjadi 236 kapal selama 19 hari pada Agustus 2026.

Kpler juga mencatat tidak ada kapal pengangkut LNG yang melintasi Selat Hormuz sejak 11 Juli.

Kapal LNG terakhir yang diketahui melewati selat tersebut adalah Al Hamra, yang dioperasikan ADNOC dan melintas pada 11 Juli setelah memuat kargo di fasilitas LNG Das Island, Uni Emirat Arab.

Baca juga: AS Bangun Jalur Pelayaran Rahasia via Selat Hormuz, Jutaan Barel Minyak Tinggalkan Teluk Setiap Hari

Kpler menyebut 21 kapal LNG masih berada di kawasan Teluk pada saat laporan tersebut dibuat.

Gangguan pelayaran melalui Hormuz menjadi perhatian besar karena jalur tersebut merupakan rute penting bagi ekspor LNG Qatar dan Uni Emirat Arab.

Sementara itu, harga minyak Brent kembali naik seiring meningkatnya ketegangan.

Harga Brent berada di sekitar 92,9 dolar AS per barel pada Kamis pagi, setelah sebelumnya sempat turun ketika AS dan Iran menyepakati gencatan senjata pada April serta menandatangani MoU pada Juni.

(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.