Prevalensi Hipertensi Warga DIY 31 Persen, Masyarakat Diingatkan Pentingnya Cek Tekanan Darah
Hari Susmayanti August 21, 2026 11:14 AM

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Prevalensi hipertensi di DIY jadi persoalan serius oleh beberapa pihak.

Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan prevalensi hipertensi di DIY mencapai sekitar 31 persen, sedikit lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional yang berada di angka 30,1 persen.

Tingginya angka tersebut tidak hanya berkaitan dengan pola konsumsi masyarakat. 

Faktor usia penduduk dan tingginya angka harapan hidup di Yogyakarta turut disebut menjadi salah satu indikator yang membuat kasus hipertensi di daerah ini tetap tinggi.

Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Hipertensi tingkat nasional di bawah Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), dr. Bagus Andi Pramono, mengatakan faktor usia menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan ketika melihat tingginya prevalensi hipertensi di Yogyakarta.

Menurutnya, semakin banyak penduduk berusia lanjut di suatu daerah, risiko hipertensi juga semakin meningkat.

Hal ini berkaitan dengan perubahan kondisi pembuluh darah seiring bertambahnya usia.

"Kalau saya lebih ke arah umur atau angka harapan hidup tadi. Kemudian, selain itu juga pola makan kita," kata Bagus dalam pengenalan layanan EOC OMRON Healthcare Indonesia di Artotel Suites Bianti Yogyakarta, Kamis (20/8/2026).

Bagus menjelaskan, pola makan masyarakat Yogyakarta juga menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan. 

Konsumsi natrium yang tinggi melalui makanan gurih dan asin berjalan bersamaan dengan kebiasaan mengonsumsi makanan manis.

Baca juga: Aksi Kamisan Kritik Program MBG Karena Racuni Siswa

Kombinasi tersebut dinilai menjadi persoalan tersendiri karena sama-sama dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, termasuk hipertensi.

"Sekali lagi, pola makan kita berkaitan dengan natrium yang juga tinggi. Makanan yang gurih-gurih juga kita konsumsi. Kemudian makanan yang manis. Jadi, menurut saya, itu sebuah double strike. Dua-duanya menyebabkan prevalensi hipertensi pasti akan lebih tinggi," ujarnya.

Bagus menambahkan, proses penuaan juga membuat pembuluh darah mengalami perubahan. Pembuluh darah menjadi semakin kaku sehingga tekanan darah lebih mudah meningkat.

"Kalau sudah lanjut usia, pembuluh darah juga pasti akan semakin stiff, semakin kaku. Sehingga prevalensi hipertensi pasti akan lebih tinggi pada suatu daerah yang usia penduduknya lebih banyak," katanya.

Menurut Bagus, faktor demografi juga dapat menjelaskan mengapa wilayah seperti Kabupaten Sleman dan Kota Yogyakarta memiliki prevalensi hipertensi yang relatif tinggi.

Sleman, misalnya, berkembang menjadi salah satu kawasan hunian yang banyak diminati masyarakat dari luar daerah. Pertumbuhan kawasan permukiman dan kepadatan penduduk membuat wilayah tersebut menjadi salah satu pusat konsentrasi penduduk di DIY.

"Memang paling banyak kan di daerah situ. Jadi, prevalensinya lebih tinggi di situ," ujarnya.

Ia mengatakan Sleman menjadi salah satu daerah yang banyak dipilih sebagai lokasi tempat tinggal. Banyak masyarakat dari luar kota yang mencari hunian atau perumahan di kawasan tersebut.

"Orang yang tinggal di Jogja itu cenderung lebih padat dibandingkan daerah Bantul. Sleman juga merupakan daerah yang sangat berkembang, sehingga pasti orang dari luar kota ingin mencari perumahan di daerah sana," kata Bagus.

Kondisi tersebut, menurut dia, turut memengaruhi karakteristik demografi wilayah. 

Meski mulai terdapat pembatasan pembangunan dan permukiman, arus masyarakat yang tinggal di Sleman tetap cukup besar.

Konsumsi Garam Tak Boleh Diremehkan

Selain usia, pola makan menjadi persoalan yang lebih mungkin diintervensi. 

Bagus mengatakan masyarakat perlu memperhatikan jumlah garam yang dikonsumsi setiap hari.

Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan telah mendorong pembatasan konsumsi gula, garam, dan lemak atau GGL. 

Khusus garam, batas konsumsi yang dianjurkan adalah maksimal lima gram per hari atau kurang lebih setara satu sendok teh.

"Lima gram itu kurang lebih satu sendok teh. Lima gram sehari untuk satu orang sebenarnya itu sudah cukup banyak," jelasnya.

Fenomena lain yang turut menjadi perhatian adalah berkembang pesatnya industri kuliner di Yogyakarta.

Bagus tidak menampik maraknya kuliner, terutama makanan jalanan atau street food, dapat berpengaruh terhadap pola konsumsi masyarakat.

Menurutnya, Yogyakarta, khususnya Sleman dan Kota Yogyakarta, memiliki pilihan kuliner yang sangat beragam. Hampir berbagai jenis makanan dapat ditemukan dengan mudah.

Kemudahan akses terhadap berbagai makanan tersebut menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga pola makan sehat.

"Street food sekarang banyak banget," ujarnya. (hda)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.