Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Sertifikasi kompetensi tidak otomatis meningkatkan kinerja karyawan. Penelitian Pungky Nanda Raras menunjukkan bahwa kapabilitas inovasi menjadi mekanisme penting yang mengubah kompetensi yang dimiliki karyawan menjadi peningkatan kinerja, produktivitas, dan kualitas pelayanan.
Baca juga: Ardito Wijaya Bantah Semua Tuduhan dalam Pledoi Kasus Korupsi Alkes, Vonis 27 Agustus
Temuan itu merupakan hasil disertasi Pungky, mahasiswa Program Doktor Manajemen Universitas Bandar Lampung (UBL), berjudul Model Pengembangan Kinerja Karyawan Berbasis Sertifikasi Kompetensi dan Kapabilitas Inovasi pada Industri Perhotelan di Lampung.
Pungky mempertahankan disertasinya dalam Ujian Terbuka Promosi Doktor di Aula Gedung M Pascasarjana UBL, Kamis (20/8/2026).
Penelitian tersebut mengkaji hubungan antara sertifikasi kompetensi, kapabilitas inovasi, dan kinerja karyawan pada industri perhotelan di Provinsi Lampung.
“Sertifikasi kompetensi belum otomatis meningkatkan kinerja karyawan apabila pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh tidak diterapkan melalui inovasi dalam pekerjaan,” kata Pungky.
Menggunakan pendekatan explanatory sequential mixed methods, Pungky melakukan penelitian terhadap ratusan karyawan hotel berbintang di Provinsi Lampung.
Hasil penelitian menunjukkan sertifikasi kompetensi berpengaruh positif terhadap kapabilitas inovasi dan kinerja karyawan. Kapabilitas inovasi juga terbukti berpengaruh signifikan terhadap kinerja.
Temuan yang lebih penting, kapabilitas inovasi berperan sebagai mediator dalam hubungan antara sertifikasi kompetensi dan kinerja. Dengan demikian, sertifikasi menjadi fondasi kompetensi, sementara kemampuan karyawan untuk mengembangkan dan menerapkan gagasan baru menjadi penghubung yang membuat kompetensi tersebut berdampak pada kinerja.
“Kompetensi yang diperoleh melalui sertifikasi perlu ditransformasikan menjadi inisiatif, kreativitas, dan inovasi dalam pekerjaan,” ujarnya.
Menurut Pungky, temuan tersebut menunjukkan bahwa sertifikasi tidak seharusnya dipandang sebagai tujuan akhir pengembangan SDM. Pengetahuan, keterampilan, sikap kerja, dan profesionalisme yang diperoleh karyawan melalui sertifikasi perlu didukung lingkungan organisasi yang memungkinkan kompetensi tersebut diterapkan dan dikembangkan.
Penelitian ini juga menawarkan kebaruan melalui model integratif yang menggabungkan perspektif Resource-Based View dan Dynamic Capability Theory.
Dalam model tersebut, sertifikasi kompetensi ditempatkan sebagai sumber daya strategis, sedangkan kapabilitas inovasi berfungsi sebagai mekanisme yang menjembatani kompetensi dengan kinerja.
Bagi industri perhotelan, implikasinya adalah program sertifikasi perlu diintegrasikan dengan pengembangan inovasi.
Manajemen hotel dapat memperkuat budaya kerja yang terbuka terhadap ide, mendorong kolaborasi, memberikan dukungan terhadap inisiatif karyawan, serta menerapkan sistem penghargaan yang mendorong kompetensi dan inovasi.
“Industri perhotelan tidak cukup hanya mengejar peningkatan jumlah tenaga kerja tersertifikasi. Yang tidak kalah penting adalah membangun lingkungan organisasi yang mampu mengubah kompetensi menjadi inovasi dan peningkatan kualitas pelayanan secara berkelanjutan,” kata Pungky.
Disertasi Pungky dibimbing Prof. Dr. Iskandar A.A., S.E., M.M. sebagai promotor, Dr. Andala Rama P. Barusman, S.E., M.A.Ec. sebagai ko-promotor I, dan Dr. Habiburrahman, S.E., M.M. sebagai ko-promotor II.
Ujian tersebut melibatkan Prof. Dr. Ir. M. Yusuf S. Barusman, M.B.A. sebagai penguji ahli, Prof. Dr. Satria Bangsawan, S.E., M.Si. sebagai penguji luar I, Prof. Dr. Ir. Ayi Ahadiat, S.E., M.B.A. sebagai penguji luar II, serta Dr. Defrizal, S.E., M.M., CA sebagai anggota tim penguji.
Rektor UBL Prof. Dr. Ir. M. Yusuf S. Barusman, M.B.A., menilai penelitian tersebut relevan dengan kebutuhan industri perhotelan, terutama dalam memperkuat kualitas sumber daya manusia.
Ia berharap model yang dihasilkan dapat diterapkan untuk membantu industri perhotelan mengembangkan SDM yang tidak hanya kompeten, tetapi juga mampu berinovasi dan meningkatkan kinerja.
Dengan diraihnya gelar doktor tersebut, Pungky berharap hasil penelitiannya dapat menjadi rujukan bagi industri perhotelan dalam membangun sistem pengembangan SDM yang menghubungkan sertifikasi, inovasi, dan peningkatan kinerja secara berkelanjutan.
( Tribunlampung.co.id / Dominius Desmantri Barus )