TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG -- Hobi membuat kue sejak masih lajang perlahan membawa Desna Rahani pada jalan usaha.
Dari sekadar membuat kue untuk keluarga, kini Desna mampu mengembangkan usaha kuliner rumahan dengan brand Umi Syarifah yang menawarkan beragam kue basah khas Palembang.
Desna yang sehari-hari bekerja sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di Dinas Perhubungan Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) menjalankan usaha tersebut di sela-sela kesibukannya.
Kecintaannya terhadap dunia baking bermula dari kebiasaan membantu keluarga membuat kue.
Sejak masih lajang, Desna kerap mendapat tugas memanggang kue, terutama saat Lebaran. Dari kebiasaan itu, kemampuan membuat berbagai jenis kue perlahan terasah.
Ketertarikannya terhadap kue lapis mulai tumbuh sekitar tahun 2000. Saat itu, Desna belajar membuat kue dari seorang tetangga yang memiliki oven.
"Setiap Lebaran kami bikin kue. Saya juga sering ikut memanggang. Terus ada tante di depan rumah yang punya oven. Kalau Lebaran, kami bikin kue bareng. Dari situ saya pertama kali belajar bikin kue lapis,” kata Desna, Jumat (21/8/2026).
Menurut Desna, membuat kue lapis membutuhkan ketelitian dan kesabaran. Adonan harus dipanggang secara bertahap untuk menghasilkan lapisan yang rapi sekaligus menjaga kualitas rasa.
Setelah cukup mahir, Desna mulai berkeinginan memiliki oven sendiri. Sebagian penghasilannya sebagai ASN kemudian disisihkan untuk membeli oven.
Sejak memiliki oven, ia semakin sering membuat kue, terutama saat Lebaran. Namun, kebiasaan membuat kue kembali muncul ketika anak-anaknya mulai besar.
Saat akhir pekan, anak-anak kerap meminta dibuatkan kue. Desna pun memilih membuat sendiri karena rasa kue yang dibeli terkadang tidak sesuai dengan seleranya.
“Kalau sudah Sabtu-Minggu di rumah, anak-anak ingin makan kue. Tapi kalau beli, rasanya kadang tidak sesuai selera saya. Karena selera setiap orang kan berbeda, akhirnya saya bikin sendiri,” ujarnya.
Persoalannya, kue yang dibuat dalam ukuran besar tidak selalu habis dikonsumsi keluarga. Dari sinilah ide berjualan muncul.
Ketika BlackBerry Messenger (BBM) masih populer, Desna iseng mengunggah potongan kue buatannya ke status.
Ia tidak menyangka unggahan tersebut justru mendapat respons dari orang yang tertarik membeli.
“Saya taruh di story BBM, saya potong kuenya. Iseng saja. Ternyata ada yang mau. Saya bilang, mau seperempatnya tidak? Dari situ mulai kepikiran,” ceritanya.
Desna kemudian mencoba membuat kue dalam ukuran lebih kecil menggunakan loyang 10x10 sentimeter. Ia kemudian menggunakan loyang 12x12 sentimeter agar ukuran dan porsinya lebih sesuai untuk pelanggan.
Dari BBM, pemasaran Umi Syarifah berkembang ke Facebook dan Instagram @umisyarifah, pesanan pun mulai berdatangan.
Pada awalnya, Desna hanya menerima pesanan pada akhir pekan. Sabtu digunakan untuk membuat kue, sedangkan Minggu dimanfaatkan untuk mengantarkan pesanan kepada pelanggan.
Seiring bertambahnya pelanggan, Desna mulai menghadapi tantangan dalam membagi waktu.
Sebagai ASN, pekerjaan utamanya tetap menjadi prioritas, sementara usaha kue dijalankan sebagai kegiatan di luar jam kerja.
Perjalanan Umi Syarifah juga sempat terhenti ketika sang suami mengalami masalah kesehatan. Desna memilih berhenti sementara untuk lebih fokus pada keluarga.
Namun, pelanggan yang terus bertanya dan memesan, terutama menjelang Lebaran, membuatnya kembali menjalankan usaha tersebut.
Kini Desna menerapkan sistem by order. Ia tidak memproduksi kue dalam jumlah banyak tanpa pesanan karena harus mempertimbangkan ketersediaan bahan baku.
“Kalau ada yang pesan, baru saya bikin. Jadi tidak stok kue. Jangan pesan mendadak karena bahan juga tidak selalu ada,” katanya.
Produk yang ditawarkan cukup beragam, mulai dari maksuba, lapis nanas, lapis kojo, lapis keju hingga varian lainnya. Harga produknya mulai dari Rp250 ribuan.
Maksuba, lapis keju, dan lapis kojo menjadi sejumlah produk yang paling banyak diminati pelanggan, terutama saat Lebaran.
Pesanan Umi Syarifah pun tidak hanya berasal dari Palembang. Desna sudah beberapa kali mengirimkan kue buatannya ke Jakarta, Bogor, Bandung, hingga Kalimantan.
“Di luar Lebaran juga banyak pesanan. Alhamdulillah, kemarin juga ada yang kirim ke Jakarta,” tuturnya.
Perjalanan membangun usaha dari rumah juga tidak selalu berjalan mulus. Desna pernah mengalami masa ketika pesanan yang masuk justru membuatnya kewalahan.
Pada awal berjualan, seorang teman membantu mencarikan pelanggan. Pesanan yang masuk cukup banyak sehingga Desna berusaha menyelesaikan semuanya meski harus mengorbankan waktu istirahat.
Ia bahkan pernah menangis karena kue yang harus dikirim kepada pelanggan belum selesai dibuat.
“Waktu pertama kali jualan, pernah sampai nangis dan tidak tidur karena kuenya belum selesai. Saya sampai bilang, 'Ya Allah, saya benar-benar cari duit ini,'” kenangnya.
Pengalaman tersebut menjadi pelajaran penting bagi Desna. Ia menyadari bahwa tidak semua pesanan harus diterima jika tidak sesuai dengan kemampuan produksi.
Sejak itu, Desna mulai menerapkan manajemen waktu secara lebih ketat. Setiap pesanan dihitung berdasarkan kebutuhan bahan, jumlah loyang, dan waktu pengerjaan.
Saat Lebaran, pesanan bahkan bisa mencapai puluhan hingga ratusan loyang. Namun, Desna tetap memilih membatasi pesanan agar kualitas produk tetap terjaga.
“Dari situ saya belajar, persiapan dan manajemen waktu itu harus benar-benar tepat. Tidak semua pesanan harus diterima. Saya tidak mau ngoyo,” katanya.
Menurutnya, setiap jenis kue juga membutuhkan waktu pengerjaan berbeda.
Maksuba, engkak, dan lapis kojo misalnya, membutuhkan perhatian lebih karena proses pembuatannya cukup panjang.
Kini, usaha yang awalnya hanya bermodal hobi tersebut mulai berkembang menjadi usaha keluarga.
Dua putrinya, Alia dan Nadine, mulai ikut membantu proses produksi. Keduanya memang belum banyak terlibat dalam proses memanggang, tetapi sudah bisa membantu menyiapkan adonan.
Ketika Desna pulang bekerja, adonan terkadang sudah disiapkan anak-anak sehingga ia tinggal melanjutkan proses memanggang.
Anggota keluarga lainnya juga memiliki tugas masing-masing, mulai dari membantu mengemas hingga mengantarkan pesanan.
Desna bahkan mulai mengajarkan anak-anak untuk belajar mengelola hasil dari pekerjaan mereka. Jika salah satu anak membantu membuat produk tertentu, bagian hasilnya dipisahkan.
“Jadi sudah seperti usaha keluarga. Kalau ada yang bantu bikin brownies misalnya, bagian uangnya saya pisahkan. Ini uang adik, ini bagian yang lain,” jelasnya.
Bagi Desna, keterlibatan anak-anak bukan hanya untuk membantu pekerjaan, tetapi juga menjadi pembelajaran agar mereka memiliki pengalaman berwirausaha.
Ia berharap ketika anak-anaknya dewasa dan mandiri, mereka bisa memiliki usaha sendiri.
“Kalau anak-anak sudah mandiri dan punya usaha sendiri, saya juga bisa punya usaha sendiri. Jadi keluarga punya usaha keluarga. Enak kalau bisa diteruskan,” ujarnya.
Keuntungan dari penjualan kue selama ini juga tidak langsung digunakan untuk keperluan lain. Sebagian besar justru diputar kembali untuk mengembangkan usaha.
Dari yang awalnya hanya memiliki satu mixer, kini Desna sudah memiliki beberapa mixer, termasuk mixer berukuran besar. Oven yang digunakan juga berkembang dari ukuran kecil hingga lebih besar.
“Uang dari jualan kue memang saya putar lagi ke sini. Awalnya punya satu mixer, sekarang jadi punya mixer besar. Oven juga dari yang kecil sampai punya yang besar,” katanya.
Desna mengaku belum memiliki rencana membuka toko dalam waktu dekat. Usaha Umi Syarifah masih dijalankan dari rumah dengan sistem berdasarkan pesanan.
Ia memiliki rencana mengembangkan usaha tersebut lebih serius ketika memasuki masa pensiun.
Bagi Desna, kue tradisional Palembang seperti maksuba dan kue lapis masih memiliki pasar tersendiri.
Masyarakat Palembang, menurutnya, masih menjadikan kue-kue tersebut sebagai bagian dari sajian keluarga maupun berbagai acara.
“Mau modern seperti apa pun, kalau orang Palembang, kalau pulang atau ada acara, kue lapis seperti ini tetap ada di rumah. Jadi memang punya pasar sendiri,” ujarnya.
Desna pun tidak terlalu mengejar banyaknya varian. Ia lebih memilih mempertahankan produk yang sudah dikenal dan disukai pelanggan.
Ia sempat mencoba membuat varian seperti lapis kopi, tetapi akhirnya kembali fokus pada produk yang selama ini sudah memiliki pelanggan.
“Saya lebih suka bikin yang saya suka. Kalau saya suka rasanya, saya yakin. Jadi tidak terlalu banyak menambah varian. Pelanggan juga sudah tahu mau yang mana,” katanya.
Dari hobi membuat kue untuk keluarga, Desna akhirnya menemukan peluang usaha yang bisa dijalankan dari rumah tanpa harus meninggalkan pekerjaannya sebagai ASN.
Umi Syarifah pun tumbuh dari langkah sederhana, yakni mengunggah potongan kue ke status BBM, hingga kini memiliki pelanggan dari berbagai daerah.
Ikuti dan Bergabung di Saluran WhatsApp TribunSumsel.com