Puluhan Titik Api Terpantau di Kalimantan Namun Malaysia Nihil, Pakar Ungkap Penyebab
M.Risman Noor August 21, 2026 03:05 PM

BANJARMASINPOST.CO.ID - Ramai diperbincangkan di media sosial kenapa di Kalimantan banyak titik api ditemui.

Namun di Malaysia malah nihil. Berbagai komentar pun bermunculan dan simak penyebabnya diungkap pakar.

Data tersebut hanya menampilkan kebakaran. Menjadi pertanyaan kenapa di Malaysia satu daratan malah nihil.

Titik-titik tersebut tersebar di sejumlah provinsi, dengan Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat menjadi wilayah yang mencatat jumlah titik severe fire terbanyak.

Baca juga: Tak Terima Anaknya Ditilang, Perwira Polisi Serang Kasatlantas Polresta, Berawal Razia Balapan Liar

Baca juga: Polres HSS Bekuk Dua Pelaku Pembakaran Lahan, Sebabkan Ribuan Meter Area Lahan Terbakar

Dengan demikian, jumlah tersebut belum menggambarkan keseluruhan kejadian kebakaran hutan dan lahan, terutama kebakaran berskala kecil yang terjadi di berbagai kawasan Kalimantan.

Severe fire adalah ukuran kerusakan ekologis atau fisik yang disebabkan oleh kebakaran—biasanya kebakaran hutan atau lahan—di mana sebagian besar vegetasi dominan musnah, puncak pohon terbakar habis (pembakaran tajuk), dan lapisan tanah serta akar mengalami kerusakan parah.

Sementara itu, Kalimantan Tengah menjadi provinsi dengan jumlah titik terbanyak, yakni 35 titik.

Adapun Kalimantan Timur mencatat 14 titik, Kalimantan Selatan 7 titik, dan Kalimantan Utara 6 titik.

Malaysia Berbeda

Kondisi berbeda terlihat di wilayah Kalimantan yang berada di Malaysia.

Brunei Darussalam juga tidak tercatat memiliki titik kebakaran hebat dalam data tersebut.

Fenomena kebakaran di Kalimantan sebelumnya banyak dikaitkan dengan kondisi cuaca kering, termasuk pengaruh El Nino dan musim kemarau berkepanjangan.

Selain faktor alam, pembukaan lahan dengan cara pembakaran juga kerap disebut sebagai salah satu penyebab kebakaran hutan dan lahan.

Sementara itu, data SiPongi Kementerian Kehutanan menunjukkan luas hutan dan lahan yang terbakar di Kalimantan sepanjang tahun ini telah mencapai lebih dari 202.000 hektare.

Pantauan satelit NASA-MODIS pada Kamis (20/8/2026) juga menunjukkan sejumlah titik kebakaran baru.

Beberapa di antaranya berada di Pulau Derawan dan Gunung Sari di Kabupaten Berau, Mangkupadi di Kabupaten Bulungan, serta Tepian Langsat di Kabupaten Kutai Timur.

Kemunculan titik-titik baru tersebut menunjukkan bahwa ancaman kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan masih berlangsung di tengah periode kemarau.

Data satelit menjadi salah satu indikator penting untuk memantau persebaran api, meski tidak seluruh titik yang terdeteksi selalu menunjukkan kebakaran dengan skala yang sama.

Penjelasan Pakar

Lantas, mengapa sebaran titik api tampak begitu timpang antara sisi Kalimantan dan Malaysia, padahal berada dalam satu pulau yang sama? 

Dosen Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret (UNS), Dwi Priyo Ariyanto mengatakan, karakter lahan menjadi salah satu faktor pembeda utama antara Kalimantan bagian Indonesia dengan Malaysia.

Menurutnya, tidak ditemukan perbedaan mencolok dari segi jenis hutan maupun tanahnya, kecuali pada aspek luasan dan kedalaman gambut.

"Kalau melihat ininya (karakter lahan), sebenarnya hampir sama. Kita pernah di konferensi dan sebagainya, tidak ada perbedaan yang cukup mencolok kecuali ya masalah luasan," ujar Dwi kepada Kompas.com, Kamis (20/8/2026).

Baca juga: 7 Daerah di Kalsel Tetapkan Status Siaga Darurat Karhutla, Modifikasi Cuaca Belum Dapat Dilakukan

Ia menyebut, wilayah Kalimantan bagian Indonesia, khususnya Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan, memiliki cakupan lahan gambut yang jauh lebih luas dibandingkan bagian Kalimantan yang masuk wilayah Malaysia.  

Kondisi ini membuat potensi ancaman kebakaran di wilayah tersebut jauh lebih besar, terlebih jika pengelolaan lahannya tidak dilakukan secara tepat.

"Terutama Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, yang dia notabenenya adalah daerah yang kami katakan gambutnya lebih banyak, lebih luas. Nah, sehingga tadi potensi ancaman terjadi kebakaran lebih besar," jelas Dwi.

Proses Pembentukan Lahan Gambut Dwi, yang pernah menjabat Kepala Pengelola Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Hutan Pendidikan Gunung Bromo UNS periode 2018-2024, menjelaskan bahwa lahan gambut terbentuk dari proses alami yang berlangsung sangat panjang, mulai dari puluhan, ratusan, hingga jutaan tahun.

Sisa tumbuhan yang membusuk perlahan ini kemudian tertimbun lapisan baru secara terus-menerus hingga membentuk tumpukan bahan organik setebal satu hingga tiga meter.

Menurutnya, jika proses penumpukan ini berlangsung hingga jutaan tahun, bahan organik tersebut berpotensi membatu menjadi fosil serupa batu bara, seperti yang banyak ditambang di Kalimantan dan Sumatera.  

Namun, gambut belum mencapai tahap tersebut. Jenis lahan ini masih berwujud serasah yang membusuk, namun tetap berbentuk bahan organik dalam jumlah besar.

Karakter berlapis pada lahan gambut membuat kebakaran di wilayah ini menyulitkan proses pemadaman.

Dwi menerangkan, saat kebakaran terjadi, api tidak hanya melahap permukaan tanah, tetapi turut merambat ke lapisan gambut di bawahnya.

Akibatnya, meski api di permukaan sudah tampak padam usai proses pemadaman, bara api masih bisa bertahan di lapisan bawah tanpa terdeteksi.  

Situasi ini kian rumit ketika lahan gambut yang secara alami merupakan lahan tergenang, justru dikeringkan untuk kepentingan perkebunan dan pertanian.

"Ya ini menjadi bahasanya bara dalam sekam ya istilahnya, ya seperti itu. Jadi dia terbakar sehingga sulit untuk dideteksi. Penyebarannya cepat karena ya semua bahan organik ya mudah terbakar," jelas Dwi.

Baca juga: Banjarbaru Masih Jadi Wilayah Terparah Karhutla di Kalsel, BPBD Bagikan Ribuan Masker

Dwi menegaskan, kunci utama pengelolaan lahan gambut untuk perkebunan maupun pertanian bukan sekadar soal pemupukan, melainkan pengaturan tata air, irigasi, dan drainase yang tepat.

Ia menyebut kedalaman gambut di Kalimantan tergolong dalam, bisa mencapai lebih dari tiga meter.  Terdapat aturan yang melarang pemanfaatan gambut dengan kedalaman di atas tiga meter untuk kegiatan perkebunan.

"Sebenarnya kalau tiga meter ini ada aturan tidak boleh untuk perkebunan. Tetapi saya enggak tahu, karena ini masuk kawasan konservasi gambut. Itu yang boleh ada satu sampai tiga meter," jelas Ketua Masyarakat Konservasi Tanah dan Air (MKTI) Cabang Jawa Tengah tersebut.

Ia menambahkan, dahulu terdapat sistem kanalisasi berupa blok-blok kanal yang berfungsi menjaga kedalaman air tanah tidak lebih dari 60 sentimeter yang dinilai aman untuk mencegah kebakaran.  

Semakin dalam permukaan air tanah, semakin tinggi pula risiko gambut terbakar, terlebih saat musim kemarau ketika curah hujan minim membuat lahan gambut mengering lebih cepat. Dwi turut menyinggung penggunaan teknologi modifikasi cuaca atau hujan buatan sebagai salah satu upaya penanganan karhutla. (tribunnews.com/kompas.com)



© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.